Ibu Sambung Buat Anakku

Ibu Sambung Buat Anakku
Dokter muda


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Grace lewat panggilan video, kini hati Raya sedikit tenang, walaupun hati nya belum benar-benar tenang karena masih kepikiran dengan Steven.


"Kak, bukan nya kakak sudah menghubungi Grace? Tapi kenapa kakak masih melamun? Kalau kakak mau pulang, pulang saja lah kak, selesaikan masalah kakak secara baik-baik." Ujar Farah sambil merapihkan rambut nya, Farah sudah kelihatan segar karena dirinya sudah mandi sewaktu Raya menghubungi Grace.


"Entahlah dek, kakak ini merasa kasihan sama mas Steven, tapi kakak ngga mau melihat wajah nya." Ucap Raya.


"Memang nya dengan wajah kak Steven kenapa kak? Sampai kakak ngga mau melihat nya?" Farah heran dengan kakak nya.


"Ngga apa-apa dek, tapi entah kenapa kakak merasa benci aja sama mas Steven, tapi jujur mas Steven selalu hadir di pikiran kakak." Ucap Raya dengan jujur.


"Ya sudah tenang kan dulu hati kakak di sini, sekarang kakak sana mandi, adek mau keluar dulu ada perlu."


"Mau kemana dek?"


"Mau cek kantor nya pak Hendrik kak, kan besok adek sudah mulai kerja." Raya mengangguk tanda mengerti.


"Kamu pakai mobil kakak aja dek." biar ngga kena debu."


"Ngga ah kak, adek suka naik motor." Farah memang punya motor yang dulu di belikan oleh Raya.


"Ya sudah, tapi jam makan siang pulang kan dek?"


"Adek usahakan, ya sudah adek berangkat ya kak," Farah mengambil tas dan kunci motor nya lalu pergi meninggalkan Raya di dalam kontrakan nya sendirian.


Sepeninggal Farah, Raya hanya berbaring di tenpat tidur, entah kenapa dirinya tidak mau melakukan apapun, bahkan mandi saja dirinya malas.


Dengan motor kesayangan nya Farah menembus jalanan yang padat, sebenar nya dia belum paham dengan jalanan di kota ini, tapi berbekal dengan google map dia terus mencari rumah Steven, Farah memang baru satu kali pergi ke rumah Steven, ketika menghadiri pernikahan kakak nya, tapi itulah Farah, dia akan terus mencari sampai benar-benar ketemu.


Dengan berbekal alamat yang di berikan pak Hendrik dan google map, Farah terus mencari nya hingga dirinya ada di titik terakhir pencarian nya.


"Benar ini rumah nya, ah akhirnya aku bisa menemukan nya juga." Dengan wajah berbinar Farah menatap rumah besar yang ada di hadapan nya.

__ADS_1


******


Dengan serius dokter Arif memeriksa Steven yang sedang tergolek lemah di atas kasur.


Dokter Arif ini adalah dokter keluarga nya pak Agam, Usia nya tidak jauh dengan Steven, selain dokter Arif ini anak sahabat dari pak Agam, dia juga dokter muda terbaik di kota itu, jadi mereka mempercayakan keluarga nya yang dalam keadaan sakit hanya kepada dokter Arif, dokter Arif selalu siap siaga di kala keluarga pak Agam memanggil nya.


"Bagaimana dok? Sakit apa Steven?" Tanya bu Maria dengan penuh rasa khawatir nya.


"Bu, kan sudah saya bilang panggil nama saja." Dokter Arif selalu merasa ngga enak dengan bu Maria.


"Ibu akan memanggil nama jika kamu lagi ngga pakai seragam ini, tapi selama lagi memakai seragam putih ini ibu akan selalu memanggil pak dokter karena seragam putih ini di dapatkan dengan kerja keras dan penuh pengorbanan." Ucap bu Maria sambi tersenyum.


Dokter Arif hanya menghela nafas nya dengan pelan, dia pasrah kalau bu Maria sudah bicara seperti itu;


Dokter Arif bingung dengan penyakit yang Steven derita, karena menurut dirinya Steven baik-baik saja, ngga ada satu pun penyakit yang menghinggapi tubuh Steven.


"Saya bingung bu, baru kali ini saya di hadapi dengan pasien seperti kak Steven ini, setelah saya periksa semua nya baik-baik saja, tapi untuk memastikan nya coba ibu datang ke rumah sakit untuk cek lab, barangkali dengan cek lab penyakit kak Steven ini bakal ketahuan." Dokter Arif menyerah dan menyuruh bu Maria membawa nya ke rumah sakit.


"Baiklah kalau begitu dok, saya akan segera membawa nya." Bu Maria tidak bisa memaksa kepada dokter Arif, karena dokter lebih tahu dari diri nya.


"Terima kasih dok." Bu Maria mengantar dokter Arif sampai ke depan rumah.


"Bagaimana papah sama mamah? Mereka pada sehatkan?" Tanya bu Maria sambil berjalan di sampingnya dokter Arif.


"Alhamdulilah bu, cuma ya begitulah mereka selalu sibuk hingga kita jarang berkumpul, hingga Asya selalu mengeluh kesepian."


"Makanya cepat-cepat cari pendamping, biar ada yang menemani Asya, seandainya ibu punya anak perempuan, sudah ibu jodohkan dengan dokter." Ucap bu Maria.


"Ibu bisa saja, saya belum menemukan yang cocok bu." Ucap dokter Arif.


******

__ADS_1


"Pagi menjelang siang pak, benar kan ini rumah nya pak Steven?" Tanya Farah kepada satpam jaga.


"Benar non, maaf kalau boleh tahu non ini siapa dan ada keperluan apa?" Satpam itu balik bertanya sambil menatap penuh selidik.


"Saya Farah adik nya kak Raya istri nya pak Steven, masa bapak lupa dengan wajah saya yang imut ini." Jawaban Farah membuat pak satpam tersenyum.


"Ya ampun saya sampai lupa, pantas saja wajah nya sepintas mirip non Raya, ,maafkan saya ya non ayo silahkan masuk." Satpam jaga itu membuka kan pagar nya dan menyuruh Farah masuk.


Farah memasukan motor nya dan menghentikan nya tepat di samping sebuah mobil dokter Arif.


"Di lihat dari plat no nya sih ini seperti mobil nya seorang dokter." Gumam Farah sambil melihat ke arah mobil yang terparkir.


Setelah puas melihat mobil dokter pak Arif, Farah melanjutkan langkah nya ke depan pintu.


Dengan harapan yang besar Farah menghampiri pintu dengan maksud mau menekan bel nya tapi pintu sudah terbuka hingga Farah mengurungkan niat nya untuk menekan bel.


"Nak Farah." Gumam bu Maria sambil tersenyum.


"Pagi bu." Farah mencium telapak tangan bu Maria.


"Kamu sama siapa nak?" Tanya bu Maria sambil melihat kearah sekitar dengan harapan ada Raya di situ.


"Saya sendiri bu, siapa yang sakit?" Tanya Farah sambil menatap dokter Arif.


"Wah tampan juga nih dokter, aku merasa sudah jatuh hati pada nya." Gumam bathin Farah, begitulah Farah yang calon seorang pengacara tapi asli nya sedikit barbar dan berani.


Dokter Arif yang di tatap pun mengalihkan pandangan nya, dia memasang wajah dingin dan datar.


"Steven nak, oh ya nak kenalkan ini dokter Arif, dia dokter keluarga ibu." Bu Maria mengenalkan dokter Arif kepada Farah.


Dengan senang hati Farah mengulurkan tangan nya sambil tersenyum, tapi berbeda dengan dokter ARif yang memasang wajah dingin dan datar nya.

__ADS_1


*****


"Bestie kalian mau cerita Bianca dan Brandon apa cerita Farah dan dokter Arif selanjut nya? Tulis di komentar ya sayang-sayang nya aku?


__ADS_2