Ibu Sambung Buat Anakku

Ibu Sambung Buat Anakku
Menghubungi Grace


__ADS_3

"Kakak kangen mereka ya?" Tanya Farah sambil menatap sedih kakak nya.


"Kakak kangen Grace dek." Jawab Raya sambil mengusap air mata yang sempat menetes di pipi nya.


"Hubungi Grace, kakak jangan menyiksa diri kakak sendiri, kalau pun saat ini kakak sedang marah sama kak Steven, jangan sampai kakak mengabaikan Grace, adek yakin saat ini Grace juga lagi merindukan kakak." Farah mengusap lembut tangan kakak nya, dia memberikan sedikit nya kekuatan lewat sentuhan tangan nya.


"Kita pulang." Raya langsung berdiri dan membayar nasi kuning yang dia dan Farah makan.


Selama di perjalanan pulang, Raya hanya terdiam dan fokus mengemudi.


"Kak, berhenti dulu di depan." Raya langsung menepikan mobil nya.


"Mau kemana dek?" Tanya Raya sambil menatap Farah.


"Aku mau beli obat dulu, kakak tunggu di sini." Dengan gerakan cepat Farah langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam sebuah apotek.


Raya hanya menggelengkan kepala nya, sambil menunggu Farah yang sedang membeli obat, Raya mengingat kembali setiap kebersamaan nya dengan Grace.


Tanpa sengaja kedua mata Raya melihat seorang bapak tua sedang mendorong gerobak yang berisikan mangga, dengan spontan Raya menelan air liur nya.


"Pak, tunggu." Teriak Raya dari dalam mobil.


Bapak tua itu menghentikan gerobak nya, lalu menoleh ke arah Raya.


Raya yang sudah keluar dari mobil pun langsung menghampiri bapak penjual mangga.


"Berapa pak?" Raya menatap bapak penjual mangga, bapak ini mengingatkan Raya kepada ayah nya sendiri, mungkin bapak penjual buah ini seumuran dengan ayah nya.


"Tiga puluh lima ribu satu kilo neng." Jawab si bapak.


"Aku mau dua kilo ya pak, yang satu kilo mangga muda, dan yang satu kilo lagi yang matang." Raya membeli mangga untuk dirinya dan Farah.


Si bapak menimbang mangga dan memberikan nya kepada Raya.


"Ini neng."

__ADS_1


Raya mengambil mangga dari tangan si bapak, lalu memberikan dua lembar uang yang berwarna merah.


"Ini kebanyakan neng." Ucap si bapak sambil memberikan kembali uang dari Raya.


"Ambil saja buat bapak, anggap saja ini rezeki bapak." Ucap Raya sambil tersenyum.


"Terima kasih neng, semoga neng selalu bahagia sekeluarga, dan anak yang di dalam kandungan selalu sehat, semoga lancar persalinan nya nanti." Do*a dari si bapak membuat Raya melongo.


"Kak, buruan." Teriak Farah yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Ya sudah kalau begitu terima kasih ya pak, semoga dagangan bapak cepat laris dan bapak bisa cepat pulang dan istirahat." Raya pergi meninggalkan si bapak yang sedang tersenyum bahagia.


"Jadi beli mangga kak?" Tanya Farah sambil menatap keresek yang Raya simpan di jok belakang.


"Iya, kasihan yang jualnya seumuran dengan ayah kita, kamu beli obat apa dek?" Tanya Raya sambil melajukan kembali mobil nya.


"Aku beli obat-obatan saja kak, buat jaga-jaga." Farah belum mengatakan kalau dirinya sudah membeli tespack, Raya hanya mengangguk kan kepala nya saja.


Tidak lama mereka pun sampai di depan kontrakan kembali.


Farah menggelengkan kepala nya, "Sampai lupa dia sama mangga nya." Gumam Farah sambil mengambil mangga yang ada di jok belakang.


Raya langsung masuk ke dalam kamar dan mengambil ponsel nya.


"Kak, kenapa sih buru-buru amat, sampai lupa sama mangga nya." Farah masuk dengan mangga di tangan nya.


"Taro saja di situ dek, kakak mau menghubungi Grace dulu." Teriak Raya dari dalam kamar.


Begitu ponsel nya aktif banyak banget notifikasi yang masuk, terutama dari Steven, tapi Raya mengabaikan nya dan langsung mencari kontak ibu mertua nya.


Tidak berapa lama bu Maria menerima panggilan nya, terlihat Grace dengan mata yang seperti habis menangis.


Hati Raya ikut sedih, dirinya pun ingin menangis ketika melihat kondisi Grace, tapi sekuat tenaga dia tahan.


"Kamu belum berangkat sekolah sayang?" Tanya Raya dengan nada bergetar.

__ADS_1


"Mamah kenapa meninggalkan Grace? Mamah sudah ngga sayang lagi sama Grace?" Dengan deraian air mata Grace bertanya dan mengabaikan pertanyaan dari Raya.


"Mamah sangat menyayangi kamu nak sampai kapan pun." Sakit hati Raya di pertanyakan seperti itu oleh Grace.


"Kenapa mamah memilih kerjaan mamah ke luar kota di bandingkan mamah harus selalu ada di samping Grace? Apa papah ngga kasih mamah uang? Kalau mamah butuh uang, mamah pakai aja uang tabungan Grace, Grace ikhlas asal mamah jangan pergi dari samping Grace" Lagi-lagi Grace mengusap mata nya.


Raya sudah tidak kuat lagi dengan apa yang di ucapkan Grace, air mata yang dia tahan dari tadi akhir nya luluh juga.


"Sayang, maafkan mamah, kamu jangan membenci mamah, mamah sayang sama kamu, nanti mamah jemput kamu ya, nanti kita jalan-jalan, bagaimana?" Ucap Raya sambil menghapus air mata nya.


Bu Maria yang sedang berada di samping nya Grace ikut meneteskan air mata nya, sungguh hati nya sangat sakit melihat menantu dan cucu nya harus berpisah karena kesalahan anak nya sendiri.


"Nyonya, maaf mengganggu, den Steven lagi muntah-muntah, saya mau membantu nya tapi saya merasa ngga enak." Ucap bi Siti dari depan pintu.


"Apa! sebentar bi, nak, kamu bicara dulu sama mamah ya? Nenek mau ke kamar papah dulu." Ucap bu Maria sambil memberikan ponsel nya kepada Grace.


Raya kaget mendengar ucapan dari bi Siti. "Mah." Panggil Raya membuat bu Maria mengurung kan niat nya turun dari tempat tidur.


"Iya nak, kenapa?" Tanya bu Maria sambil menatap wajah Raya di ponsel nya.


"Mas Steven kenapa?" Raya memang lagi marah dan tidak mau melihat wajah Steven suami nya, tapi hati nya tidak bisa di bohongi, kalau dirinya juga khawatir mendengar kalau Steven muntah-muntah.


"Mungkin masuk angin nak, karena semalam dia kurang tidur, jadi kepala nya pusing, lemas dan juga muntah-muntah." Jawab bu Maria jujur.


"Kenapa yang kurasakan semalam sekarang di alami mas Steven." Gumam bathin Raya.


"Ya sudah nak, kalau begitu mamah ke kamar nya Stev dulu." Bu Maria memberikan ponsel nya kepada Grace, sebenar nya dia ingin sekali bertanya dimana Raya saat ini, tapi di sana ada Grace.


"Titip mas Steven ya mah." Hanya itu yang keluar dari bibir Raya, bu Maria mengangguk lalu pergi ke kamar nya Steven.


"Sayang senyum dong, kalau cemberut gitu cantik nya jadi ilang deh." Raya mencoba menghibur Grace.


"Aku kangen mamah." Hanya itu yang di ucapkan Grace, air mata nya tak berhenti berlinang.


"Mamah juga kangen sayang, sabar ya nak, nanti mamah juga pulang."

__ADS_1


__ADS_2