
Raya tidak punya alasan lagi karena Grace menyetujui tidur dengan Farah, kini mereka semua sudah masuk ke kamar nya masing-masing.
Grace sekamar dengan Farah, sedangkan Farhan tidur sendiri, sementara Raya dengan terpaksa akan tidur di kamar nya Steven.
Di dalam kamar Raya bingung harus tidur di mana, tanpa menghiraukan Raya, Steven pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
Sewaktu Steven di dalam kamar mandi Raya langsung membuka semua lemari yang ada di kamar Steven, dia mencari-cari baju Steven dan mengambil salah satu piyama.
"Yang ini saja lah, piyama nya sudah sekarang berarti dalaman nya, apa iya aku harus mengambil dalaman nya juga." Gumam Raya sambil mencari-cari tempat dalaman nya Steven.
Dengan mata yang sedikit terpejam dan gerak tangan yang sangat cepat Raya mengambil satu ****** ***** Steven.
Raya menghembuskan nafas nya, tangan kanan nya menyentuh dada, Raya merasa lega karena dirinya sudah berhasil mengambil ****** ***** Steven.
"Akhir nya, " Raya menyimpan nya di atas tempat tidur, lalu mengambil selimut dan bantal untuk dirinya tidur di atas sofa.
Dengan susah payah Raya memejamkan mata nya, tapi mata Raya tetap saja susah untuk tidur, bayangan-bayangan Steven yang meminta hak nya terus muncul di benak nya.
Raya tahu kalau itu sudah menjadi kewajiban nya sebagai seorang istri, tapi untuk saat ini Raya belum siap apalagi diantara mereka berdua belum ada rasa.
Terdengar pintu kamar mandi terbuka, Raya kembali memejamkan kedua mata nya, tubuh nya dia tutupi dengan selimut tebal, dan hanya bagian mata dan hidung saja yang terlihat.
Steven keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil di tangan nya, Steven melihat ke arah tempat tidur, ada perasaan senang di hati nya ketika melihat ada piyama di atas tempat tidur.
Steven menghampiri tempat tidur dan mengambil nya, mata Steven mencari-cari keberadaan Raya.
Terlhat Raya sedang tidur, ralat pura-pura tidur, di atas sofa, Steven menatap nya.
"Ternyata kamu tidur di sini, ya sudah itu kan keinginan kamu, jadi jangan salahkan aku kalau besok badan kamu pegal-pegal." Ucap Steven lalu kembali ke tempat tidur nya.
"Dasar laki-laki tidak punya perasaan, bukan nya aku itu di bangunin atau di gendong kek kayak di film-film, ini malah mendo*a kan agar badan ku pegal semua." Bathin Raya dengan kesal.
__ADS_1
Steven membaringkan tubuh nya, dia mengingat kembali kejadian-kejadian hari ini, lalu melirik ke arah sofa.
"Bagaimana pun juga dia adalah istri aku sekarang, tapi maaf aku belum bisa membuka hati untuk wanita lagi, aku takut kamu seperti Brenda dan Selena." Steven terus menatap Raya dari tempat tidur nya.
Raya yang tahu kalau dirinya sedang di perhatikan Steven terus berusaha menutup mata nya hingga dirinya tertidur.
Steven tidak bisa memejamkan kedua mata nya, dengan perlahan dia bangun dan turun dari tempat tidur lalu menghampiri Raya yang sudah terlelap.
"Kamu kalau tidur lebih cantik, tapi sayang aku belum bisa membuka hatiku untuk kamu." Bathin Steven sambil terus melihat Raya yang sedang terlelap.
Ada rasa kasihan dalam diri Steven melihat posisi tidur Raya yang seperti nya kurang nyaman.
Dengan perlahan Steven menggendong Raya ala bridal style dan memindahkan nya ke tempat tidur.
"Enteng banget sih badan kamu, seperti kurang gizi." Steven membaringkan Raya di atas tempat tidur nya.
Raya hanya menggeliat sebentar setelah itu dia kembali terlelap, Raya sedang mimpi tidur di atas tempat tidur yang luas dan empuk hingga Raya kembali terlelap.
Malam pun terus berlalu, hening, sepi, tidak ada malam pengantin bagi sepasang suami istri yang baru saja sah ini, mereka terlelap dengan posisi masing-masing.
*******
Pagi hari pun tiba, semua penghuni rumah pak Agam sudah bangun dan melakukan aktifitas mereka masing-masing.
Bu Nina yang tidak biasa duduk santai di pagi hari membantu bi Siti menyiapkan sarapan.
"Bu, ibu duduk saja biar saya yang menyiapkan sarapan nya." Bi Siti merasa ngga enak dengan ada nya bu Nina di dapur.
"Ngga apa-apa bi, saya ngga biasa duduk santai." Bu Nani memaksa bi Siti agar bi Siti membiarkan dirinya untuk membantu di dapur.
Bi Siti pasrah dan membiarkan bu Nani membantu nya.
__ADS_1
Grace sudah mandi dan sudah cantik dengan rambut hasil kepangan Farah.
"Kamu cantik banget sih sayang, aunty jadi gemes deh sama kamu." Farah mencubit pelan pipi Grace.
"Sakit aunty." Ucap Grace sambil mengusap pipi nya, Farah tersenyum lalu mencium gemas pipi Grace.
"Dari dulu Grace ingin sekali di kepang seperti ini, dan hari ini baru terlaksana." Ucap Grace dengan wajah berbinar nya, Grace terus menatap rambut nya di depan cermin.
"Benarkah? berarti aunty ini orang yang pertama kepang rambut Grace?" Tanya Farah dengan tatapan tidak percaya nya, Grace hanya mengangguk.
"Ya sudah ayo kita ke ruang makan aunty, tapi Grace mau ketemu mamah dulu, mamah sudah bangun atau belum ya." Grace melangkah kan kaki nya tapi tangan nya di tarik oleh Farah hingga langkah Grace terhenti.
"Jangan sayang, kita langsung ke ruang makan saja, mamah sama papah jangan di ganggu dulu, mereka masih istirahat mungkin mereka capek habis buat adek buat Grace." Farah sungguh tidak bisa mengontrol ucapan nya.
"Benarkah aunty? Kalau begitu Grace akan melihat nya." Grace dengan antusias berlari.
Farah langsung berlari menyusul Grace dan menangkap Grace dengan cara menggendong nya.
"Anak kecil tidak boleh melihat nya."
"Lepaskan aunty, Grace ingin melihat papah sama mamah buat adek." Teriak Grace membuat bu Maria dan pak Agam yang baru keluar dari kamar kaget dengan ucapan Grace.
"Ada apa sayang, pagi-pagi sudah heboh saja?" Bu Maria menatap Farhan dan Grace.
"Grace cuma mau melihat papah sama mamah yang lagi buat adek nenek, tapi aunty melarang nya."
Bu Maria dan pak Agam saling menatap lalu menatap Farah yang sedang bingung harus menjawab apa.
"Maaf pak, bu, tadi saya keceplosan bicara." Farah minta maaf karena merasa kalau Grace seperti ini karena ucapan nya sendiri.
"Sayang, dengarkan nenek, seorang suami istri seperti contoh nya papah sama mamah Raya lagi buat adek, itu ngga boleh di ganggu, karena kalau Grace mengganggu nya nanti adek bayi nya ngga jadi-jadi, sekarang nenek tanya sama Grace, Grace mau punya adik atau ngga?" Grace mengangguk membuat semua nya tersenyum.
__ADS_1