
Raya mengendarai mobil nya menuju kontrakan Farah, hari ini Farah memang sudah berada di kota itu, karena dua hari lagi Farah akan mulai bekerja di kantor nya pak Hendrik.
Farah memutuskan untuk kuliah sambil bekerja, Farah sudah tidak mau membebani kedua orang tua dan kakak nya Raya.
"Untung kamu sudah ada di sini dek, kalau belum entah kemana kakak harus pergi." Gumam Raya.
Siang tadi Farah memberitahukan Raya dimana dia tinggal sekarang, Raya memang belum memberitahu keluarga nya dengan masalah yang sedang dia hadapi.
Raya tidak mau membuat keluarga nya khawatir terutama kedua orang tua nya.
Baru saja Farah membaringkan tubuh nya di atas kasur yang berukuran sedang, dirinya mendengar ada suara mobil berhenti di depan kontrakan nya.
"Mobil siapa malam-malam begini berhenti di depan kontrakan ku." Dengan rasa penasaran yang tinggi, Farah bangun dan melhat dari balik gorden.
Terlihat seorang perempuan yang dia kenal turun dari mobil dengan koper di tangan nya.
"Kak Raya." Gumam Farah dan langsung membuka pintu nya.
Raya yang mau mengetuk pintu mengurungkan nya karena pintu sudah terbuka.
Raya langsung memeluk erat Farah dan menangis dalam pelukan Farah.
Farah hanya diam dan mengelus lembut punggung Raya, sebenar nya Farah sudah ngga sabar ingin tahu apa yang sudah terjadi dengan kakak nya itu, tapi Farah menahan nya dan membiarkan Raya mengeluarkan tangisan nya sampai Raya tenang.
Raya melepaskan pelukan nya sambil mengusap air mata nya.
__ADS_1
"Boleh kakak ikut tidur di sini?" Tanya Raya setelah tenang dan berhenti menangis.
"Boleh, tapi tempat tidur nya tidak terlalu besar kak, tapi kalau untuk kita berdua pasti cukup kok."
Kontrakan Farah memang kecil, hanya ada ruang tamu satu kamar, dapur dan kamar mandi.
Farah mengambilkan botol air minum dan memberikan nya kepada Raya, "Minum dulu kak, maaf cuma minuman di botol yang bisa aku berikan, soalnya baru pindahan jadi belum ada apa-apa."
Raya menerima botol minuman itu dan menenggak nya sampai habis.
"Apa sekarang kakak sudah bisa menceritakan semua nya?" Tanya Farah sambil menatap kakak nya, tangan nya menggenggam tangan Raya.
"Kenapa kakak harus selalu di selingkuhi? dari dulu kakak selalu setia kepada pasangan kakak, kurang apa kakak sebenar ya di mata semua pria, padahal kakak sudah melakukan yang terbaik menurut kakak buat mereka, dulu mas Fajar selingkuh dan memilih wanita selingkuhan nya dari pada kakak, sekarang kenapa kakak harus mengalami nya kembali, sebenar nya kakak berat untuk meninggalkan Grace, tapi kakak sudah ngga tahan lagi."
"Maksud kakak, kak Steven selingkuh?" Jiwa pengacara Farah kembali tumbuh dalam dirinya.
"What! Apa itu semua benar? Apa kakak ada bukti untuk membuktikan tuduhan kakak?" Farah yang bercita-cita sebagai pengacara tidak akan langsung percaya sama korban, dia akan mencari bukti dan mendengar cerita dari kedua nya terlebih dahulu.
Raya mengambil ponsel dan membuka galeri nya, lalu memberikan nya kepada Farah.
Farah dengan serius melihat video itu dari awal sampai akhir.
Farah mengernyitkan kening nya, hati nya ngga yakin kalau Steven sudah melakukan nya dengan wanita itu, tapi dengan keadaan mereka yang sama-sama tidak memakai sehelai benang pun membuat nya ragu.
"Kamu percaya kan dek, kakak bingung dengan apa yang harus kakak lakukan, mau tidak percaya pun ngga bisa karena bukti mengarah ke sana, dan kamu lihat tanda merah di dada dan leher nya mas Steven, itu sudah bisa di jadikan bukti kalau mereka sudah melakukan hal yang tidak terpuji, kalau memang mas Steven masih mengharapkan kembali bersama mantan istri nya kakak memilih mundur."
__ADS_1
"Sebentar kak, aku di sini melihat tanda merah itu hanya ada di tubuh kak Steven, sedangkan tubuh wanita itu masih bersih, dan coba kakak lebih teliti lagi, diantara mereka tidak ada kucuran keringat sama sekali, dan satu lagi, sebelum video berakhir wanita itu mencium bibir kak Steven, tapi kak Steven hanya diam dan tidak terusik sama sekali, apa memang sudah terjadi sesuatu dengan kak Steven hingga kak Steven sampai tidak bergeming sama sekali? Setahu aku dua orang dewasa yang sudah melakukan hubungan mereka akan berkeringat, tapi mereka berdua seperti biasa saja." Farah berpikir keras dengan kasus kakak nya ini.
"Kamu tahu dari mana dek? Jangan bilang kamu sudah_" Raya tidak melanjutkan kalimat nya karena Farah sudah memotong nya.
"Ngga lah kak, ampun deh kakak ini, aku kan sering baca dan sering nonton kak, jadi aku tahu, lagian kakak lupa ya cita-cita aku apa? Aku akan mencari tahu sampai aku benar-benar tahu." Ucap Farah dengan wajah sedikit kesal karena kakak nya sudah berpikiran yang bukan-bukan.
"Memang nya kamu nonton apa dek? Jangan bilang kamu nonton_"
"Nonton Drakor kakak, uh sebel lama-lama adek sama kakak ini, pikiran nya melenceng terus."
Raya tersenyum, memang adik nya yang satu ini selalu membuat bibir nya tersenyum di kala dia sedang banyak masalah.
Dengan bibir tersenyum Steven turun dari mobil nya dan berjalan masuk ke dalam rumah nya, dia tidak menyadari kalau mobil Raya tidak ada di tempat nya.
Sebelum Steven masuk ke dalam kamar nya, Steven masuk ke kamar nya Grace dulu, dia mencium kening Grace sambil tersenyum.
"Tidur yang nyenyak sayang." Steven kembali menutup pintu kamar Grace dan melanjutkan nya masuk ke kamar nya sendiri dengan harapan malam ini dia akan memeluk erat istri nya.
Dengan perlahan Steven membuka pintu kamar nya, harapan yang dari dia bayangkan sirna ketika melihat tempat tidur yang masih dalam keadaan rapih.
"Sayang." Panggil Steven dengan jantung yang berdebar, Steven berlari ke kamar mandi barang kali Raya ada di kamar mandi, tapi nihil, di kamar mandi pun tidak ada, Steven berlari menuju lemari dan membuka nya.
Hancur sudah semua nya, Steven terduduk di depan lemari, kedua mata nya menatap lemari yang sudah kosong, Raya tidak meninggalkan satu baju pun di sana.
"Kamu kemana sayang? Kenapa kamu tidak menunggu ku dulu sampai aku mendapatkan bukti nya, kalau sudah mendapatkan bukti dan aku di nyatakan bersalah, aku rela kamu tinggalkan." Gumam Steven sambil menangis.
__ADS_1
Sungguh Steven sangat menyesal dengan semua yang sudah dia lakukan, dia merasa dirinya kurang cepat untuk memberikan bukti nya kepada Raya hingga Raya kini sudah pergi dari rumah nya.
Andai waktu bisa di putar, hanya itu yang ada di pikiran Steven saat ini.