
Pagi hari Raya membuka kedua mata nya, dia kaget karena ternyata dirinya sedang berada di dalam pelukan suami nya, padahal seingat dia semalam tidur sambil memeluk Grace.
"Kenapa aku tidur di sini? Bukan nya semalam aku tidur dengan Grace?" gumam Raya dengan muka bantal nya, dia masih bingung.
"Kamu pindah kesini dan jalan sambil tidur." Ucap Steven dengan kedua mata yang masih terpejam.
"Sudah bangun mas, aku tidak pernah seperti itu kok, pasti mas ya yang mindahin aku ke sini?" tanya Raya.
"Ngga, mas langsung tidur kok, kamu pindah sendiri karena kamu pasti ngga bisa tidur tanpa di peluk sama mas." Steven membalikan fakta.
"Mas jangan membalikan fakta, yang pasti nya mas yang ngga bisa tidur makanya mas menggendong aku kesini kan? hayo ngaku." Raya sedikit menggelitik pinggang Steven membuat Steven menggeliat kegelian.
"Geli sayang." ucap Steven, tapi Raya terus menggelitik nya hingga membuat Steven bangun dan menindih nya.
"Kamu tega sayang, mas nunggu kamu sampai tengah malam tapi kamu tidak masuk-masuk ke kamar, mas lihat eh kamu sudah terlelap sambil meluk Grace, jadi mas gendong kamu saja, tapi mas ngga tega untuk membangunkan kamu jadi mas ikut tidur sambil meluk kamu, tapi sekarang karena kamu sudah bangun, jadi mas mau nagih yang semalam." Steven mulai menyentuh bagian-bagian sensitive Raya membuat Raya sedikit terbuai dengan snetuhan suami nya.
Di pagi yang dingin ini Raya merasa hangat dengan snetuhan dari Steven, Raya tidak bisa menolak nya karena selain kewajiban dirinya sebagai seorang istri, dirinya juga menginginkan nya.
"Mas, kalau Grace bangun cepat bagai mana? Pasti dia mencari aku." Ucap Raya sambil menahan sesuatu di dalam tubuh nya.
"Grace ngga bakalan bangun sepagi ini." Steven membuat tanda kepemilikan di atas dua bukit milik Raya.
"Mas."
"Apa sayang, kamu tenang saja, percaya deh sama mas." Steven meyakinkan Raya dan kembali membuat tanda kepemilikian di tengah-tengah bukit.
"Maksud aku mas jangan buat di leherku, mas boleh buat di mana saja asal jangan di leher, aku tidak bisa menutupi nya, dan aku malu kalau kelihatan teman-teman dikantor."
__ADS_1
"Tenang sayang, mas tidak akan membuat nya di sana." Steven terus membuat Raya terbuai dan menuruti kemauan nya.
Untuk sebagian orang pagi ini sangat dingin dan tidak mau melepaskan selimut dari tubuh mereka, tapi tidak dengan pasangan yang sedang memadu kasih, mereka tanpa ada rasa dingin melepas semua bahan yang menempel di tubuh nya hingga keringat bercucuran di tubuh mereka, mereka memanfaatkan waktu yang sedikit itu untuk memuaskan satu sama lain nya hingga mereka berdua benar-benar puas.
Steven memeluk erat tubuh polos istri nya, "Terima kasih sayang, i love you." Bisik Steven lalu mencium telinga Raya.
"Mas, sudah cukup nanti kita kesiangan, hari ini aku harus masuk kerja." Ucap Raya yang merasakan geli di telinga nya.
"Mas kan sudah bilang kalau kamu harus berhenti bekerja."
"Kan mas kasih aku waktu satu minggu, lagian kasihan pak Hendrik kalau aku tiba-tiba berhenti begitu saja, aku harus menyelesaikan semua pekerjaan ku dulu baru aku mengundurkan diri."
"Baiklah kalau begitu sekarang kita mandi." Steven menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka lalu menggendong Raya, mereka berdua masih dalam keadaan polos dan belum memakai satu helai benang pun di tubuh nya.
Raya tersenyum dengan perlakuan dari suami nya, dengan perlahan Steven memasukan tubuh Raya ke dalam bathtub.
Steven mengisi nya dengan air hangat dan aromaterafi membuat pikiran mereka menjadi tenang dan rileks.
"Mas, kenapa ikut masuk juga, mas mandi nya di bawah shower aja." ucap Raya.
"Kita coba di sini ya sayang, satu kali lagi aja, please." Steven memohon dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.
Raya menatap wajah Steven, dirinya merasa kasihan dan pesan-pesan ibu nya yang selalu terngiang di pikiran nya membuat dia pasrah menerima dan mengabulkan keinginan suami nya.
"Sebentar lagi Grace bangun mas, aku ngga mau pas kita lagi menikmati nya terganggu karena ketukan pintu dan teriakan dari Grace.
"Sebentar kok sayang, mau ya?" Belum juga Raya menjawab Steven sudah melahap bibir Raya yang kini sudah menjadi candu bagi nya.
__ADS_1
Raya hanya pasrah dan sebaik mungkin dirinya melayani suami nya itu sampai suami nya benar-benar puas dengan dirinya.
Pagi itu mereka melakukan untuk yang kedua kali nya di dalam bathtub, mereka merasakan sensasi yang berbeda hingga membuat kedua nya lebih semangat lagi melakukan nya.
*******
Raya dan Steven keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang basah.
Steven tersenyum puas, karena apa yang dia tahan semalaman terbayar sudah di pagi ini.
"Mas, aku belum menyiapkan baju nya." Ucap Raya yang masih memakai buthtub.
"Ngga apa-apa sayang, biar mas yang ambilkan." Steven mengambil baju nya sendiri dan bahkan dia mengambilkan baju untuk istri nya.
"Ini kan baju kerja kamu?" taya Steven sambil memberikan baju satu stel kepada Raya.
"Kok kamu yang mengambilkan mas, ini tugasku." Raya merasa ngga enak dengan apa yang di lakukan suami nya.
"Tugas kamu juga tugas aku, jadi kamu jangan merasa bersalah, sekali-kali biar aku yang menyiapkan nya."
Raya mengambil nya dengan bibir tersenyum, "Pintar juga suamiku ini memilihkan baju untukku." Bathin Raya lalu memakai nya.
Kini Steven dan Raya sudah rapih dengan baju kantor masing-masing, Steven yang sudah tampan dan lebih kelihatan fresh dari hari-hari kemarin membuat wajah nya semakin tampan dan bersinar.
Raya yang memang dari dulu sudah cantik, pagi ini semakin terlihat cantik, apalagi dengan sedikit riasan di wajah nya membuat Steven menatap tajam.
"Kenapa mas menatap ku seperti itu? Apa ada yang salah dengan riasanku?" tanya Raya sambil menatap wajah nya di cermin.
__ADS_1
"Bisa ngga sih kamu jangan ter;lihat cantik kalau mau pergi ke kantor? Apalagi kantor kita beda, pasti banyak pria di luaran sana yang menatap kamu dengan damba, palagi mereka belum tahu kalau kamu sudah menikah." Steven merasa ngga ikhlas melepaskan istri cantik nya untuk pergi ke kantor dan di tatap pria lain.
"Mas ngga percaya sama aku? Aku akan selalu ingat kalau aku ini istri kamu, aku akan selalu menjaga baik nama aku sendiri dan menjaga baik nama kamu mas, aku benci dengan penghianatan, jadi mas harus percaya dengan aku, kalau aku tidak akan pernah menghianati mas." Raya meyakinkan Steven agar dirinya bisa pergi dengan tenang ke kantor.