Ibu Sambung Buat Anakku

Ibu Sambung Buat Anakku
Kelelahan


__ADS_3

Hari ini Farah sangat lelah sekali, tubuh nya merasa ngga enak.


"Kamu belum pulang?" Tanya pak Hendrik ketika melewati ruangan Farah.


"Ini baru mau pak." Jawab Farah pelan.


"Seperti nya badan kamu tidak fit, kamu banyak istirahat dan jangan lupa minum vitamin."


"Iya pak."


"Ya sudah ayo pulang bareng bapak." Pak Hendrik memang baik orang nya, beliau suka memperhatikan para karyawan nya.


"Tidak pak, terima kasih." Jawab Farah yang merasa ngga enak dengan tawaran dari pak Hendrik.


"Ya sudah kalau gitu bapak duluan." Ucap pak Hendrik, dan Farah hanya mengangguk kan kepala nya.


Dengan langkah gontai Farah keluar dari kantor, muka nya sedikit pucat.


Suara klakson mobil terdengar jelas ketika dirinya baru saja keluar dari kantor, Farah melirik ke arah mobil itu yang ternyata mobil dokter Arif.


Farah ngga banyak bicara, dia langsung masuk ke dlam mobil dan menyandar kan punggung nya.


Dokter Arif merasa aneh dengan Farah yang biasa bawel dan ceria kini hanya diam.


Dokter Arif melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, sesekali dirinya melihat ke arah Farah yang sedang memejamkan kedua mata nya.


"Apa dia sedang ada masalah atau mungkin dia kecapean." Gumam bathin dokter Arif.


"Kenapa?" Tanya dokter Arif penasaran.


"Ngga apa-apa, cuma lagi capek aja." Jawab Farah dengan mata yang masih dia pejam kan.


"Jangan terlalu capek dan jangan lupa selalu minum vitamin biar tubuh kamu fit."


Farah tidak menjawab nya, tapi dokter Arif melihat kalau Farah mengangguk kan kepala nya.


"Kamu pasti belum makan, kita makan dulu ya." Ajak dokter Arif.


"Ngga dok, saya ingin cepat sampai dan ingin segera tidur."


Dokter Arif tidak mau memaksa nya dan terus melajukan mobil nya ke rumah pak Agam.


Hanya itu saja yang keluar dari bibir mereka, seterusnya mereka saling diam, tapi dokter Arif sesekali melirik ke arah Farah, dalam hatinya ada sedikit khawatir dengan Farah.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu yang lama mobil dokter Arif pun memasuki halaman rumah pak Agam.


Sebelum keluar dari mbil, dokter Arif menatap Farah yang masih terlelap.


"Far, sudah sampai." Ucap dokter Arif sambil menyentuh bahu Farah.


Tapi Farah tidak terusik sedikit pun, dia seperti nya bukan tidur tapi dia seperti orang pingsan.


"Far, Farah." Dokter Arif terus menggoyangkan bahu nya, tapi Farah masih menutup mata nya.


"Dokter." Teriak Raya sambil mengetuk pintu mobil nya, Raya sudah hapal dengan mobil dokter Arif.


Tadi Raya melihat dokter Arif berhenti di depan rumah, karena dokter Arif yang tak kunjung keluar, Raya pun berinisiatif untuk meghampiri nya.


Dokter Arif yang mendengar suara teriakan Raya dari luar langsung membuka kaca mobil nya.


"Mbak Raya, seperti nya Farah pingsan, soalnya dari tadi saya bangunkan dia ngga bangun juga." Ucap dokter Arif.


"Kok bisa." Teriak Raya lalu mendekati pintu samping dan membuka nya.


"Dek, bangun dek, kamu sudah sampai di rumah." Ucap Raya yang terus menerus mencoba membangunkan adik nya.


"Tadi sewaktu dia keluar dari kantor tubuh nya seperti lemas dan juga wajah nya sedikit pucat, saya tanya katanya kecapean."


"Saya izin membawa nya ke rumah sakit mbak, biar di tangani di sana." Dokter Arif meminta izin Raya.


"Ya sudah dok, kalau gitu kita bawa Farah ke rumah sakit, tapi tunggu sebentar mbak pamit sama mamah dulu." Raya pun langsung masuk ke dalam rumah dengan sedikit berlari.


Selagi menunggu Raya kembali dokter Arif mengelus puncak kepala Farah.


"Kamu pasti sangat lelah, kamu harus kerja dan sekaligus kuliah." Gumam dokter Arif.


Ingin sekali dokter Arif memeluk dan mencium kening nya, tapi dia masih sadar akan dirinya yang bukan siapa-siapa Farah.


"Ayo dok sekarang kita berangkat." Ucap Raya sambil masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang.


Dokter Arif sedikit kaget dan langsung menjauhkan tangan nya dari kepala Farah.


"Baik mbak." Dokter Arif pun langaung melajukan mobil nya menuju rumah sakit.


Raya terus berusaha membangunkan Farah, tapi Farah yang memang dalam keadaan pingsan tidak mendengar apapun.


Mobil dokter Arif pun memasuki halamn rumah sakit, dengan gerakan cepat dokter Arif langsung menggendong Farah dan membawa nya masuk ke dalam rumah sakit.

__ADS_1


Raya menatap punggung dokter Arif yang sedang menggendong adik nya.


"Seperti nya dokter Arif menyukai Farah, terlihat dia sangat khawatir dengan Farah." Gumam bathin Raya.


Dokter Arif dan para suster langsung menangani Farah, jarum infus sudah terpasang di tangan nya, terlihat Farah seakan damai dalam tidur nya.


Kini Farah sudah masuk ke dalam ruangan, dokter Arif memilih ruangan vvip buat Farah dan tanpa sepengetahuan Raya.


Dokter Arif menghandle semua nya, dia ingin yang terbaik buat Farah, dia ingin Farah merasa nyaman walau pun di rumah sakit.


"Terima kasih sus atas bantuan nya." Ucap dokter Arif membuat ke dua suster itu saling melirik.


"Sama-sama dok, kalau begitu kita berdua kembali ke ruangan." Ucap salah satu suster.


Ke dua suster keluar setelah melihat anggukan dari dokter Arif, mereka berdua keluar dengan banyak pertanyaan dalam diri mereka.


"Sus, bagaimana dengan adik saya?" Tanya Raya ketika melihat kedua suster itu keluar dari ruangan Raya.


"Sudah di tangani mbak, tapi pasien belum sadar dan sekarang lagi di temani dokter Arif, kalau mbak mau melihat nya masuk saja." Ucap suster.


"Baik sus, makasih."


Sebelum masuk, Raya mengetuk pintu nya dulu karena di dalam mash ada dokter Arif.


"Gimana dengan Farah dok?" Tanya Raya sambil menghampiri Farah yang sedang terbaring lemah.


"Sudah di tangani mbak, tapi belum sadar, tapi mbak tenang saja setelah cairan infus masuk besok juga Farah sudah sadar, dia hanya kelelahan saja." Jawab dokter Arif.


"Sayang, Farah kenaopa?" Tanya Steven yang baru masuk ruangan.


Steven langsung pergi ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari istri nya.


"Mas, Farah hanya kelelahan." Jawab Raya.


Steven memeluk bahu Raya, ya sudah jangan terlalu khawatir, dia akan baik-baik saja kok." Steven menenangkan istri nya.


"Mbak dan mas jangan khawatir dengan Farah, dia hanya kelelahan dan butuh istirahat saja, mbak dan mas pulang saja biar saya yang menemani nya di sini, lagian kasihan Gustav kalau di tinggal." Ucap dokter Arif.


"Tapi_."


"Benar yang diucapkan dokter Arif, lebih baik kita pulang saja, kita serahkan semua nya kepada dokter Arif, besok pagi kita kesini lagi sekalian bawa baju ganti buat Farah."


Setelah di pikir beberapa menit Raya pun menyetujui usulan dari suami nya.

__ADS_1


"Baiklah mas, ya sudah kita pulang saja, dok titip Farah ya." Dokter Arif hanya mengangguk dan tersenyum.


__ADS_2