
Para tamu undangan masih berteriak dan menunggu jawaban dari Farah.
Farah hanya diam dan berusaha menenangkan dirinya sendiri, dia bergelut dengan pikiran nya sendiri, tubuh nya tiba-tiba merasa gerah, tangan nya kini di penuhi dengan keringat karena gugup.
Farah melirik ke arah keluarga nya, mereka semua tersenyum sambil mengangguk kan kepala nya.
Farah kembali menatap ke arah dokter Arif, kedua mata nya tembus menatap kedalam mata dokter Arif, tatapan nya mendalami perasaan dokter Arif yang sesungguh nya.
Farah melihat kesungguhan dan cinta yang besar dalam diri dokter Arif hingga akhirnya Farah bisa memberikan jawaban nya.
"Kalau kamu menerima aku sebagai calon suami kamu, kamu ambil cincin ini, tapi kalau kamu menolak nya kamu ambil bunga ini." Ucap dokter Arif yang masih bersimpuh di depan Farah.
Farah menatap ke arah bunga dan cincin yang sedang di pegang dokter Arif, tangan nya terulur ke bunga yang sedang di pegang dokter Arif.
"Maafkan aku dokter, aku tidak bisa_"
"Apa! Beri aku satu kali kesempatan Farah, aku mohon, aku janji aku akan selalu membahagiakan kamu." dokter Arif menunduk, hancur sudah harapan nya ketika melihat Farah mengambil bunga dari tangan nya.
Dokter Arif menunduk kan kepala nya, dia menyembunyikan rasa kecewa dan rasa malu dalam dirinya.
"Apa! Kenapa bisa seperti ini, ngga mungkin Farah menolak kakak, aku tahu kalau Farah juga menyukai kakak." Gumam Asya dengan wajah kaget nya, ada rasa kasihan kepada kakak nya, pasti kakak nya menahan rasa malu dan kecewa.
"Kenapa kamu menolak nya dek, apa kita semua sudah salah sangka kepada kamu, kakak kira kamu menyukai dokter Arif." Ucap Raya pelan.
"Mungkin dokter Arif bukan jodoh Farah, kita hargai keputusan Farah." Ucap Steven sambil memeluk bahu Raya.
Raya hanya mengangguk, keluarga Farah dan juga keluarga pak Agam sangat menyayangkan dengan keputusan Farah, mereka sebenar nya sangat menyetujui kalau Farah menerima lamaran nya dokter Arif ini.
Kedua orang tua dokter Arif hanya bisa menghela nafas nya dengan berat, sebenar nya mereka sangat berharap sekali bisa menjadikan Farah sebagai menantu nya, selain Farah ini cantik dia juga pintar.
Dengan perasaan yang tidak menentu semua yang melihat dokter Arif dan Farah menunggu ucapan Farah selanjutnya.
__ADS_1
Dokter Arif menunduk, hati nya hancur semua yang diharapkan nya kini musnah seiring Farah memilih bunga dari tangan nya.
"Jika ini memang hukuman dari segala ucapan yang telah membuat kamu sakit hati aku terima." Gumam bathin dokter Arif.
Farah menghembuskan nafas nya dengan perlahan lalu melanjutkan kembali ucapan nya.
"Maafkan aku dokter, aku tidak bisa menerima bunga ini." Ucap Farah dengan jelas.
"Apa! Mak_maksud kamu?" Ucap dokter Arif yang spontan menatap wajah cantik Farah.
Farah tersenyum sangat manis sekali lalu mengambil cincin nya.
"Ya aku tidak menerima bunga nya tapi aku terima cincin nya." Ucapan Farah membuat semua orang yang hadir tersenyum bahagia.
"Jadi_jadi kamu menerima lamaran ini?" Tanya doter Arif ingin memastikan.
"Ya, aku terima lamaran dokter." Jawab Farah sambil mengangguk kan kepala nya.
Dokter Arif langsung berdiri dan memeluk erat tubuh Farah, betapa bahagia nya dokter Arif dengan jawaban dari Farah, diri nya sadar hanya manusia biasa yang terlalu banyak kesalahan hingga jawaban ini yang sangat ia harapkan dari sosok Farah yang hati nya sudah di lukai oleh ucapan nya sendiri.
"Kalau kamu pingsan, aku yang akan ngasih kamu nafas buatan nya." Jawab dokter Arif sambil merenggangkan pelukan nya.
"Mau nya dokter itu." Ucap Farah sambil memukul pelan bahu dokter Arif.
"Aku sudah melamar kamu, jadi mulai sekarang jangan panggil aku dokter."
"Ngga, aku suka dengan panggilan dokter ini, jadi ngga akan aku ubah dokter tampan."
Farah tersenyum melihat wajah kesal nya dokter Arif, Farah memang belum bisa merubah panggilan nya karena memang dia sangat senang dengan panggilan dokter tampan.
Semua yang hadir ikut tersenyum dan bahagia, satu persatu mereka memberikan ucapan selamat kepada dokter Arif dan Farah.
__ADS_1
"Kan yang mengadakan pesta pernikahan kita sayang, kenapa mereka semua memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua." Ucap Steven.
"Biarkan saja sayang, kan mereka juga pantas untuk mendapatkan ucapan, ya sudah ayo kita berikan ucapan juga." Ajak Raya sambil menarik tangan Steven.
Semua orang memberikan ucapan tanpa terkecuali, hingga acara pesta pernikahan Raya dan Steven menjadi semakin meriah.
"Terima kasih nak, kamu sudah mau menerima lamaran anak mamah ini." Ucap bu Retno sambil memeluk Farah.
"Ah akhirnya kamu akan menjadi kakak ipar ku." Teriak Asya dan ikut memeluk Farah dengan mamah nya.
Dokter Arif tersenyum dengan penyambutan dari keluarga nya, dari raut wajah bahagia mereka dokter Arif menyimpulkan kalau keluarga nya menerima Farah untuk masuk ke dalam keluarga nya.
"Sudah, jangan di peluk melulu, nanti luntur, lebih baik sekarang kita duduk dan membicarakan ke depan nya." Ucap pak Bram.
Bu Retno dan Asya tersenyum lalu melepaskan pelukan nya.
"Selamat ya dek, akhir nya kamu mendapat kan sosok laki-laki yang bertanggung jawab seperti dokter Arif." Raya memeluk dan mencium seluruh wajah Farah layak nya adik kecil.
"Sudah kak cukup." Ucap Farah sambil sedikit menjauhkan wajah nya.
"Mumpung masih bisa dek, sebentar lagi pasti ngga akan bisa mencium kamu seperti ini, lihat saja pawang nya seperti posesif begitu." Ucap Raya sambil melirik ke arah dokter Arif.
Dokter Arif yang di lrik oleh calon kakak ipar pun hanya tersenyum.
"Hai sayang nya aku, sekarang kamu ngga jomblo lagi, dan ingat kamu belum bisa melangkah ke jenjang pernikahan sebelum mendapat kan restu dari kakak kamu yang tampan ini." Ucap Farhan lalu memeluk Farah adik yang sangat ia sayangi.
Dokter Arif merasa malu karena sudah cemburu dengan Farhan hingga membuat dirinya mengucapkan perkataan yang membuat Farah sakit hati.
"Kak, maafkan saya yang sudah salah sangka kepada kakak." Ucap dokter Arif memberanikan diri.
"Maksud dokter?" Tanya Farhan yang tidak mengerti dengan ucapan dokter Arif.
__ADS_1
"Waktu di rumah sakit dan di rumah pak Agam saya melihat kakak dengan Farah dengan mesra, saya pikir kakak adalah pacar nya Farah hingga saya menjadi cemburu dan membuat Farah sakit hati dengan ucapan saya." Ucap dokter Arif dengan sungguh-sungguh.
Farhan yang belum tahu permasalahan nya pun hanya diam dan menatap kearah Farah meminta penjelasan.