
Bu Maria dan Grace yang sedang bermain di taman kaget melihat kepulan asap putih yang terbawa angin.
Bu Maria melihat di situ ada Raya yang sedang menatap baju yang sedang di bakar oleh nya.
Karena penasaran, bu Maria menghampiri nya dan bertanya.
Setelah membersihkan tubuh Steven, Raya pergi membawa baju Steven yang di pakai kemarin ke belakang dan langsung membakar nya hingga baju Steven terbakar semua nya.
"Sayang itu kan baju nya Steven, kenapa di bakar?" Bu Maria heran dengan kelakuan menantu nya itu.
"Jawaban nya ada pada anak ibu sendiri." Tidak ada senyuman dari Raya, yang ada hanya wajah datar dan dingin yang sekarang Raya tampilkan.
Bu Maria kaget dengan jawaban ketus Raya, bu Maria menatap punggung Raya yang pergi meninggalkan nya bersama kepulan asap.
"Ada apa sebenar nya? Kenapa Raya sampai marah seperti itu, ini tidak bisa dibiarkan, seperti nya ada kesalahan besar yang sudah di lakukan Steven." Bu Maria bertanya-tanya di dalam hati nya.
"Nenek, ayo kita main lagi." Teriak Grace membuyarkan lamunan nya.
"Eh, iya sayang, sebentar." Bu Maria membalik kan tubuh nya lalu menghampiri Grace kembali.
"Itu apa yang di bakar mamah nek?" tanya Grace.
"Mamah cuma bakar sampah sayang." Bu Maria berbohong, karena ngga mau Grace tahu masalah orang dewasa.
Dengan menahan rasa perih di sekujur tubuh nya Steven memakai baju ganti yang sudah di siapkan istri nya.
Raya memang marah dengan Steven, tapi dia tidak melupakan kewajiban nya sebagai seorang istri.
"Ini semua salahku, kenapa semalam aku tidak langsung membawa Grace pulang, aku akan menyelidiki semua nya, apa aku di jebak ya?" Ucap Steven dalam hati, dia terus berpikir dengan apa yang sudah terjadi semalam.
"Air minum." Steven teringat setelah minum air yang di berikan wanita itu kedua mata nya langsung berat.
" Ya, ngga salah lagi pasti air minum itu sudah di campur dengan obat tidur." Steven yakin kalau air minum itu memang sudah di campur sesuatu.
__ADS_1
Raya masuk ke dalam kamar nya untuk mengambil ponsel yang dia simpan di atas meja rias.
Steven menatap wajah Raya yang datar dan dingin, Steven semakin merasa bersalah dan Steven berjanji akan menyelesaikan ke salah pahaman ini.
"Sayang." Steven ,memanggil Raya, tapi Raya tidak menoleh sedikit pun, Raya mengambil ponsel lalu membaringkan tubuh nya di atas kasur dan mendiamkan Steven.
"Sayang aku keruang kerja dulu, ada yang harus aku kerjakan." Ucap Steven, tapi Raya tak sedikit pun menoleh atau menjawab ucapan Steven, Raya hanya diam dan asik dengan ponsel nya.
Steven sadar kalau Raya sedang mendiamkan nya, tapi Steven akan terus berusaha agar mendapat kata maaf dari Steven.
Raya menoleh ke arah pintu setelah Steven keluar kamar dan menutup pintu nya.
"Aku tidak akan bicara dan tidak akan memaafkan kamu mas, sebelum kamu benar-benar menyadari kesalahan kamu." Gumam Raya.
*******
Steven sedang menghubungi orang kepercayaan nya di ruang kerja.
"Aku ingin kamu menyelidiki wanita yang aku kirim poto nya barusan, dia tinggal di apartemen xxxx no 562, aku ingin secepat nya kamu mendapatkan informasi tentang dia."
Setelah menutup sambungan telepon nya, Steven termenung dan terus mengingat peristiwa semalam sebelum dirinya tidur di kamar wanita itu.
"Argh, bodoh kamu Steven, kenapa kamu menerima air minum itu, sudah tahu wanita itu licik dari dulu." Steven memukul dinding sampai tangan nya mengeluarkan cairan berwarna merah.
"Luka ini tidak ada artinya dengan luka nya hati istriku, sakit ini tidak seberapa dengan sakit nya hati istri ku, aku yang sudah membuat hati nya sakit dan terluka, aku juga yang akan menyembuhkan nya walau pun nyawa taruhan nya." Gumam Steven sambil menatap luka di kepalan tangan nya.
Terdengar suara ketukan di pintu dengan sangat jelas terdengar oleh telinga nya.
"Siapa."
"Saya bi Siti den." Ternyata yang mengetuk pintu itu bi Siti yang mau mengantarkan segelas kopi yang di pesan Steven sebelum masuk ke ruang kerja nya.
"Masuk bi."
__ADS_1
Bi Siti masuk dengan nampan di tangan nya, betapa kaget nya bi Siti melihat luka di tangan Steven.
"Den, tangan aden kenapa?" Tanya bi Siti dengan wajah khawatir nya.
"Ngga apa-apa bi, sudah lah bibi kembali lagi saja ke dapur."
"Tapi den, biar bibi obati dulu tangan nya."
"Ngga usah bi, biarkan luka ini sembuh seiring sembuh nya luka di hati istri ku." Steven ngga mau luka nya di obati.
Bi Siti terdiam lalu undur diri dari hadapan Steven, bi Siti tahu kalau rumah tangga Steven dan Raya sedang ada masalah, karena tadi bi Siti melihat Raya membakar baju Steven, dan sekarang tangan Steven yang luka mungkin Steven menyesali perbuatan yang sudah dia lakukan kepada istri nya.
"Semoga masalah mereka tidak berlarut-larut dan mereka menemukan kebahagiaan nya." Ucap bi Siti di dalam hati.
"Bi, Steven dan Raya masih di dalam kamar ya?" Tanya bu Maria membuyarkan lamunan bi Siti dan membuat dirinya kaget.
"E copot e copot copot copot." Bi Siti sungguh kaget dengan pertanyaan tiba-tiba bu Maria.
"Aduh nyonya, saya sampai kaget begini, untung jantung saya kuat di dalam sini, coba kalau copot kan bisa lepas dari sini." Ucap bi Siti dengan kedua tangan menyentuh dada nya.
Grace tertawa terbahak-bahak melihat bi Siti yang kaget, sedangkan bu Maria menahan tawa nya karena merasa ngga enak dengan bi Siti.
"Non Grace ini bukan nya kasihan sama bibi, malah menertawakan nya." Bi Siti sudah biasa bercanda dengan Grace, jadi tidak ada penghalang diantara mereka dalam berkomunikasi.
"Habis bibi kaget nya lucu sih." Grace masih tersenyum melihat bi Siti.
"Sudah-sudah, pertanyaan saya belum di jawab lo bi." Bu Maria mengingat kan dengan pertanyaan nya yang tadi.
"Non Raya di kamar nya dan den Steven ada di ruang kerja nya, tapi den Steven tadi, em," Bi Siti tidak melanjutkan kalimat nya, mata nya melirik ke arah Grace yang sedang asik dengan puding kesukaan nya.
Bu Maria mengerti dengan lirikan bi Siti, bu Maria menarik tangan bi Siti agar sedikit menjauh dari Grace.
"Sekarang jawab, kenapa dengan Steven?" Tanya bu Maria dengan nada yang sangat pelan.
__ADS_1
"Tadi saya mengantar kopi ke dalam ruang kerja nya, dan saya melihat tangan den Steven berdarah, mau saya obati tapi den Steven melarang nya."
"Apa!" Tanpa sadar bu Maria berteriak membuat Grace menatap nya.