
Dokter Arif dan Farah pun pergi meninggalkan rumah besar pak Agam setelah pamit kepada bu Maria dan Raya.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, sebelum pergi ke rumah sakit, dokter Arif mengantarkan Farah ke tempat kerja nya.
"Kenapa dokter harus repot-repot mengantarkan saya?" Tanya Farah.
"Hanya sebatas tanggung jawab." Jawab dokter Arif tanpa melihat ke arah Farah.
"Gitu amat cowok ini jawab nya, jadi makin penasaran aku aja." Gumam bathin Farah.
"Kalau memang dokter ingin bertanggung jawab, maka setiap hari dokter harus antar jemput saya selama satu bulan." Ucap Farah sambil tersenyum penuh arti.
""Satu minggu."
"Itu terlalu sebentar." Protes Farah.
"Satu minggu atau tidak sama sekali."
"Susah amat sih, kalau pria lain tuh ya tanpa di minta pun pasti sudah mau untuk antar jemput cewek secantik aku, lah pria satu ini, kayak yang ngga senang di suruh antar jemput doang, apa benar dia tidak menyukai perempuan." Bathin Farah sambil menatap dokter Arif yang sedang mengemudi.
"Jangan menatap seperti itu, nanti kamu ngga bisa tidur." Ucap dokter Arif masih dengan nada datar nya.
"Saya hanya heran saja, dokter ini tampan, mapan tapi kok ngga ada pasangan nya, apa dokter memang ngga suka perempuan?" Pertanyaan dari Farah membuat dokter Arif kaget dan langsung menghentikan mobil nya.
"Kenapa berhenti dok? Ini baru setengah perjalanan." Tanya Farah dengan wajah tanpa dosa nya.
__ADS_1
"Apa yang kamu barusan ucapkan hah? Apa kamu meragukan saya sebagai seorang laki-laki." Ucap dokter Arif sambil mendekati Farah setelah melepaskan safetybel nya.
"Ya saya sangat meragukan nya, karena dari awal mengenal dokter, dokter itu dingin kepada semua wanita kecuali ibu nya dokter, wajar dong kalau saya curiga kalau dokter ini_."
Belum selesai Farah dengan ucapan nya, tapi bibir nya langsung di bungkam oleh bibir dokter Arif, hingga membuat Farah sedikit meronta dan berusaha untuk melepaskan ciuman nya.
Dokter Arif terus mencumbu Farah sampai dokter Arif menyadari nya kalau Farah sudah mulai kehabisan nafas nya.
"Apa ini sudah bisa membuktikan kalau saya adalah penyuka wanita? Atau kamu mau mencoba adik kecil saya dan kamu mengandung anak saya?" Ucap dokter Arif sambil menatap tajam ke arah Farah, dokter Arif kesal dengan ucapan Farah yang mengatakan diri nya tidak menyukai perempuan.
Farah hanya terdiam, dirinya kaget dengan apa yang sudah di lakukan oleh dokter Arif yang tiba-tiba itu.
"Apa aku mimpi sudah di cium oleh dokter dingin ini, ah manis juga bibir nya, baiklah aku akan membuktikan nya sekarang." Bathin Farah sambil tersenyum.
Dokter Arif terdiam, kedua mata nya menatap dalam mata Farah.
"Aku akan membuktikan nya kalau kita sudah menikah nanti." Ucap dokter Arif sambil melepaskan kedua tangan dokter Arif.
Farah kaget dan hanya diam dengan jawaban dari dokter Arif.
"Apa ucapan nya menandakan kalau dokter ini ingin menikah dengan aku?" Gumama bathin Farah dengan bibir sedikit tersenyum.
Sebuah notifikasi masuk membuat Farah tersadar dari lamunan nya dan langung membuka chat yang ternyata dari pak Hendrik.
"Ya ampun, aku terlambat, dokter cepat antarkan saya ke kantor sekarang." Teriak Farah.
__ADS_1
Dokter Arif tidak menjawab dan tidak melajukan mobil nya, dia hanya diam dan berpura-pura tidak mendengar nya.
"Dokter tampan, please jalan kan kembali mobil nya." Farah memohon kepada dokter Arif.
"Kata kamu saya ngga menyukai perempuan, jadi kamu minta diantar saja sama orang yang menurut kamu menyukai wanita." Ucap dokter Arif dengan nada santai.
"Pria ini bikin aku selalu harus mengeluarkan jurus penakluk terus." Bathin Farah.
Farah membuka safetybel lalu menghampiri dokter Arif, Farah menarik bahu dokter Arif hingga membuat dokter Arif kaget dan menatap Farah.
"Dokter laki kok, dan saya yakin dokter bisa membuat saya mengandung anak dokter, jadi sekarang tolong antarkan saya ke kantor secepat nya, karena pak Hendrik sudah menunggu saya." Ucap Farah sambil mengelus dada dan leher dokter Arif yang membuat tubuh dokter Arif meremang seketika.
"Jangan merayu saya." Dokter Arif ingin melihat sampai mana Farah memohon kepada dirinya.
"Siapa juga yang merayu anda, baiklah kalau dokter ngga mau mengantar saya, saya akan naik taksi saja." Ucap Farah sambil melepaskan sentuhan nya.
Farah sedikit merapihkan baju nya dan bersiap akan keluar dari mobil nya dokter Arif.
Belum sempat Farah membuka pintu mobil nya, tapi dokter Arif sudah melajukan mobil nya hingga membuat Farah kembali duduk seperti semula.
"Baru di ancam gitu saja sudah langsung tancap gas, bilang aja kamu suka sama aku, dasar dokter dingin." Gumam bathin Farah.
"Aku ngga akan membiarkan kamu pergi dan pulang tanpa aku." Gumam bathin dokter Arif sambil terus melajukan mobil nya.
Sepanjang perjalanan ke kantor nya Farah mereka hanya diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1