
"Aunty Grace mau ke toilet dulu ya." Grace pamitan kepada Farah.
"Ya sudah biar aunty antar ayo." Farah menarik tangan Grace dengan lembut.
Farah memang suka dengan anak kecil, walaupun sedikit barbar tapi perlakuan nya lembut.
"Pak, bu saya permisi dulu mau antar Grace ke kamar nya." Dengan sopan Farah meminta izin kepada pak Agam dan bu Maria.
Pak Agam dan bu Maria tersenyum dengan mata memandang kedua nya, bu Maria bersyukur dengan kehadiran Raya di rumah nya, karena Raya Grace bisa bicara, karena Raya Grace menjadi selalu tersenyum dan karena Raya juga mereka bisa di pertemukan dengan orang-orang baik seperti mereka.
Di kamar pengantin baru Steven sengaja menunggu Raya selesai, dirinya tidak mau kalau kedua orang tua mereka kecewa dengan sikap mereka berdua.
"Pak Steven pakai baju santai, berarti dia ngga kerja." Bathin Raya sambil memberikan sedikit polesan di wajah nya.
"Mau sarapan saja harus kelihatan cantik." Gumam Steven yang masih bisa di dengar oleh Raya.
Raya melirik Steven dengan sudut mata nya lalu berdiri, "Semua wanita juga ingin kelihatan cantik." setelah mengucapkan kalimat itu Raya keluar dari kamar.
Dengan langkah lebar Steven menyusul nya dan menarik tangan Raya hingga membuat tubuh Raya ketarik dan berlabuh di dada bidang nya Steven.
Tercium wangi parfum yang di kenakan Steven membuat Raya memejamkan kedua mata nya.
"Ah, wangi sekali, pelukan ini kenapa membuat aku nyaman." bathin Raya yang masih anteng menempelkan kepala nya di dada Steven.
Hidung Steven yang menyentuh kepala Raya pun mencium wangi sampo yang Raya pakai.
"Rambut nya wangi sekali, kenapa aku ngga rela untuk melepaskan nya." Steven sedikit mencium kepala Raya.
"Pantas saja kita sampai selesai sarapan pengantin baru ngga nongol juga, ternyata masih saja bermesraan." Ucapan Farah membuat Raya dan Steven saling menjaga jarak dan di buat salah tingkah.
"Apa sih dek, kakak juga ngga ngapa-ngapain kok." Raya membela dirinya dengan wajah yang sudah berubah menjadi merah.
__ADS_1
"Kalau masih kurang silahkan saja ngga bakalan ada yang larang, tapi jangan di luar kamar juga dong kak, kan mata suci ku jadi ternodai ini." Ucap Farah dengan kedua mata nya di tutup dengan lima jari tapi masih bisa melihat nya.
Raya dengan wajah kesal ingin sekali memarahi Farah,tapi suara Grace membuat dirinya langsung meredam amarah nya.
"Mamah, adek bayi nya sudah ada belum?' pertanyaan Grace membuat Steven dan Raya melotot tidak percaya.
Raya menatap Farah dengan penuh selidik, karena Raya yakin kalau ucapan Grace barusan awal nya dari Farah, sedangkan Farah yang di tatap pura-pura ngga tahu dengan tatapan selidik kakak nya.
"Sayang, kamu sudah sarapan belum?"Raya mengalihkan pertanyaan Grace.
"Sudah mah, tadi aku di suapin aunty, tadinya aku mau ngajak mamah sarapan tapi aunty bilang kalau mamah lagi buat adek bayi sama papah."
"What!" Steven berteriak kaget dengan apa yang diucapkan Grace.
"Maaf kakak ipar, aku sudah di panggil ibu." Farah langsung pergi begitu melihat tatapan tajam dari Steven.
"Papah jangan menatap seperti itu sama aunty, nanti aunty tidak mau main kesini lagi." ucap Grace dengan wajah imut nya.
Semua mata tertuju kepada sepasang pengantin dengan bibir tersenyum, mereka sangat bahagia melihat nya terutama bu Maria.
Mereka melihat Steven yang menggendong Grace sedangkan Raya berjalan di samping nya Steven.
Indah sekali pemandangan pagi itu buat bu Maria, baru kali ini bu Maria melihat Grace tersenyum dengan wajah yang berbinar.
"Pagi semua nya, maaf kita ter;lambat." Sapa Raya dengan bibir tersenyum.
"Pagi juga nak, ngga apa-apa kita memaklumi nya kok, baiklah karena kita sudah selesai sarapan nya jadi kita mau ke taman belakang, kalian sarapan berdua saja ya." Bu Maria mengajak semua nya ke taman belakang, bu Maria tidak mau mengganggu momen hari pertama mereka menjadi sepasang suami istri.
Raya hanya menghembuskan nafas pelan nya, dia pasrah sarapan pagi hanya berdua dengan suami nya, karena semua itu memang kesalahan nya yang sudah bangun kesiangan.
Farah yang memang selalu paham dan peka dengan keadaan langsung mengajak Grace untuk pergi ke taman.
__ADS_1
"Grace, kita main di taman yuk." Grace pun mengangguk dan langsung menghampiri Farah.
"Kok kita di tinggal berdua sih bu." protes Steven.
"Ya kan yang belum sarapan nya juga kalian berdua." jawab bu Maria.
"Sudah nikmati saja sarapan nya, kita ke taman belakang dulu." Ucap pak Agam, mereka semua pun meninggalkan Steven dan Raya di meja makan.
Raya mengambil kan makanan nya untuk Steven, dengan sedikit ragu dan malu Raya menyiapkan nya.
Steven sedikit kagum dengan apa yang di lakukan Raya untuk dirinya, karena sewaktu sama Brenda dia tidak mendapatkan perlakuan seperti Raya memperlakukan nya.
Setelah memberikan piring yang sudah di isi makanan, Raya mengambil untuk diri nya sendiri.
Selama mereka sarapan tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari bibir mereka berdua, mereka hanya bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.
"Pak Steven cakep juga kalau pakai baju santai, aku senang sekali melihat nya." Bathin Raya dengan sekilas melirik ke arah Steven yang pagi itu memilih memakai kaos dan celana chixno pendek.
"Awal nya saja kamu baik, melakukan semua ini kepada ku, lama-lama juga bakal kelihatan asli nya, semua wanita sama saja, ngga ada yang tulus." Bathin Steven dengan mata terus menatap Raya.
Raya tahu kalau dirinya sedang di tatap Steven, tapi sebisa mungkin Raya berpura-pura tidak tahu dan bersikap biasa.
"Apa sih pak Steven ini lihatin aku terus, mana tatapan nya serem begitu lagi." Raya terus menyantap sarapan nya walaupun hati nya sedang bergetar dan jantung nya berdegup kencang karena tatapan Steven.
"Pak."
"Kamu."
Panggil mereka berdua secara bersamaan dan membuat kedua nya grogi dan malu hingga mereka kembali terdiam.
"Kamu jangan pura-pura baik di depan saya, karena saya sudah tahu sifat para wanita, dia akan baik di awal tapi setelah mendapatkan apa yang wanita itu ingin kan, maka akan terlihat sifat asli nya." Ucapan Steven membuat Raya sedikit naik darah, karena dia bukan salah satu wanita seperti yang diucapkan nya.
__ADS_1
"Maaf pak Steven, kalau anda punya pikiran semua wanita seperti apa yang ada di pikiran bapak, saya juga punya pikiran yang sama dengan bapak tentang semua pria." Setelah mengucapkan kalimat yang membuat Steven kesal, Raya pergi meninggalkan meja makan.