Ibu Sambung Buat Anakku

Ibu Sambung Buat Anakku
Menjaga Imej


__ADS_3

"Apa semalam aku sudah," Gumam Raya yang tidak melanjutkan kalimat nya, tangan nya menyibak kan selimut yang menutupi tubuh nya dengan tubuh Steven.


"Aku sudah melakukan kewajibanku sebagai istri." Bathin Raya sambil menjauhkan tangan Steven dari tubuh nya.


Tangan Steven bukan nya menjauh tapi malah semakin erat memeluk tubuh Raya.


Dengan susah payah Raya ingin melepaskan tangan Steven, tapi Steven seakan tidak mau melepaskan nya.


Raya menyerah dan memilih untuk pasrah, Steven membuka mata nya sedikit hanya sekedar untuk melihat wajah Raya yang sedang mencoba melepaskan tangan nya.


"Kamu tidak akan bisa melepaskan pelukan aku, ini hukuman buat kamu karena kamu sudah tertawa dengan pria yang baru kamu kenal." Bathin Steven dengan menahan senyuman nya.


Lama Raya terdiam, dia bingung harus bagaimana lagi, tangan Steven makin lama malah makin erat memeluk nya.


Dengan terpaksa akhir nya Raya membangunkan Steven, "Mas, bangun sudah siang." Ucap Raya sambil menggoyangkan tangan Steven yang masih di atas perut nya.


"Em, sebentar lagi." Hanya itu yang terdengar dari Steven.


Raya kesal karena Steven tidak bangun juga, "Mas, kita harus ke kantor, belum lagi aku harus menyiapkan semua keperluan Grace." Sekali lagi Raya menggoyangkan tangan Steven.


"Morning kiss." ucap Steven dengan mata yang masih terpejam.


"Kenapa sih dia ini, kemarin saja jarang bicara, sekarang banyak bicara dan mesum." Bathin Raya dengan wajah kesal nya.


"Jangan mengumpat, aku bisa mendengar nya, mau ngasih aku morning kiss atau sampai malam kita begini." Steven memberikan pilihan yang hanya menguntungkan dirinya sendiri.


'"Pilihan kok enak di diri sendiri." Gumam Raya yang masih bisa di dengar oleh Steven.


"Ini hanya sebagai hukuman saja, kamu sudah berani tertawa dengan pria yang baru kamu kenal." Ucapan Steven membuat kening Raya berkerut.

__ADS_1


Raya bingung dengan apa yang sudah di ucapkan oleh Steven, "Maksud mas?"


"Siapa pria kemarin yang sudah memberikan kartu nama? Kenapa kamu tertawa renyah dengan laki-laki yang baru kamu kenal sedangkan di rumah aku tidak pernah mendengar suara tertawa kamu."


Raya berpikir dengan siapa dirinya tertawa, hingga Raya ingat dengan Gio teman lama nya.


"Bagaimana aku mau tertawa, mas nya datar dan ketus begitu, memang nya aku orang gila yang harus tertawa sendirian tiba-tiba." ucapan Raya membuat Steven gemas dan mengeratkan pelukan nya.


"Lepas mas, sudah siang aku mau ke kantor, aku juga kan sudah memenuhi kewajiban aku sebagai seorang istri." Raya terus berontak dalam pelukan Steven.


"Jawab dulu pertanyaan aku, siapa laki-laki kemarin yang sudah membuat kamu tertawa?" Steven masih penasaran dengan pria yang sudah membuat istri nya tertawa.


"Dia Gio, teman sekolah dulu, sudah ya, sekarang lepaskan." Raya sudah merasa ngga enak dengan tubuh nya yang lengket dan ingin segera mandi.


"Jangan lagi tertawa dengan laki-laki lain, kamu hanya boleh tertawa dengan aku saja." Sungguh ucapan Steven membuat Raya melotot tidak percaya.


"Apa hak mas melarang aku tertawa dengan orang lain?" sungguh pertanyaan bodoh yang Raya ucapkan.


"Aku tahu dan aku sadar kalau aku sudah menjadi seorang istri dan seorang ibu, tapi harus ada alasan yang jelas kenapa aku tidak boleh tertawa dengan laki-laki lain." Sengaja Raya menanyakan alasan Steven melarang nya tertawa dengan pria lain, dia ingin tahu isi hati Steven kepada dirinya.


Seandainya Steven melarang nya hanya karena dia sudah mempunyai seorang suami, itu alasan yang tidak masuk akal.


Steven mengangkat dagu Raya dengan sebelah tangan nya hingga membuat Raya menatap nya.


"Dengarkan aku, kita menikah karena kita ketahuan tidur satu ranjang, kita berdua sama-sama lagi patah hati, dan kita juga sudah beberapa minggu menjalani pernikahan ini, dan malam tadi kamu sudah memberikan sesuatu yang sangat berharga kepadaku, aku merasa sangat bahagia karena telah mendapatkan nya, bagaimana kalau mulai sekarang kita lebih dekat lagi untuk mengetahui perasaan kita masing-masing, aku tidak mau kalau kamu melayani aku hanya sekedar kewajiban, aku ingin kita melakukan nya atas dasar kita berdua mempunyai perasaan." Begitu jelas ucapan Steven di telinga Raya.


"Akan aku usahakan, aku akan berusaha lebih mendekatkan diri lagi." Ucap Raya dengan mata yang masih menatap mata Steven, kini mau tidak mau Raya harus mencoba lebih dekat lagi dengan Steven, karena Steven sekarang adalah suami nya yang sah di mata hukum dan negara.


Sebenarnya getaran-getaran dalam tubuh mereka selalu mereka rasakan di kala mereka sedang berdekatan atau pun saling menatap, tapi mereka masih menjaga imej masing-masing.

__ADS_1


Dengan perlahan dan lembut Steven kembali mencium bibir Raya, kali ini Raya membalas nya dengan memakai perasaan bukan karena kewajiban.


Mereka berdua mencurahkan rasa yang baru tumbuh pada hati mereka masing-masing, mereka saling menyelami perasaan pasangan nya.


Dikala Raya sedang membalas apa yang di lakukan Steven, matanya tidak sengaja melihat ke arah jarum jam yang nempel di dinding di kamar nya Steven, Raya langsung menjauhkan wajah nya.


Steven menatap kesal dan kecewa kepada Raya.


"Mas, kita sudah terlambat." Ucap Raya sambil menatap jam dinding, Steven membalikan tubuh nya dan menatap jam dinding yang ada di kamar nya.


"Sudahlah, hari ini kita ngga usah kerja saja, biar aku nanti yang bilang ke pak Hendrik." dengan enteng nya Steven menjawab.


"Ngga bisa gitu mas, aku merasa ngga enak sering izin."


"Sudah ngga usah di pikirkan, lagian kamu juga sebentar lagi keluar dari kantor pak Hendrik, aku mau kamu fokus untuk mengurusi aku dan anak-anak kita nanti."


Raya terdiam, Raya merasakan kalau suami nya sudah mempunyai perasaan kepada dirinya, tapi Raya tidak mau berbesar kepala dulu sebelum Steven mengatakan nya dengan jelas.


"Tapi aku masih mau bekerja mas, setidak nya sampai Farah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan."


"Apa omongan papah tidak jelas di telinga kamu, papah yang akan membiayai Farah kuliah sampai selesai."


Raya terdiam, dia memang mendengar ucapan dari pak Agam, tapi dirinya masih memikirkan yang lain nya, Raya takut Steven tidak membuka hati nay selama mereka hidup berumah tangga.


"Apa kamu meragukan ucapan papah?" pertanyaan Steven membuyarkan lamunan Raya.


Raya hanya terdiam sambil memegang erat selimut nya.


Steven menyibakan rambut Raya kebelakang telinga, "Kamu jangan memikirkan keluarga kamu lagi, aku sebagai suami kamu akan menanggung semua nya."

__ADS_1


Kembali Steven mendekatkan wajah nya dan menyelami bibir indah Raya, mereka bertukar saliva hingga melupakan Grace dan sarapan nya.


__ADS_2