
"Plak, plak, plak." Dengan keras nya pak Agam kembali menampar Steven sebanyak tiga kali, sebenar nya pak Agam belum puas, tapi sang istri menahan nya.
Steven hanya diam dan tidak melawan, karena semua ini memang kesalahan dirinya sendiri.
Sedangkan Raya hanya diam melihat ayah mertua nya yang sedang menampar Steven, hati nya seperti benar-benar beku dan tidak ada rasa kasihan lagi untuk Steven.
"Pah sudah cukup! Jangan pukul Stev lagi." Teriak bu Maria sambil menahan tangan suami nya, air mata nya terus mengalir antara kasihan dan kecewa kepada anak nya.
Pak Agam dan bu Maria marah dan kecewa ketika mereka melihat rekaman video yang di tunjukan Raya.
Mereka tahu kalau video itu belum bisa membuktikan kalau Steven melakukan nya atau tidak, tapi melihat mereka yang tidur satu ranjang dalam keadaan tubuh mereka yang tanpa sehelai benang pun membuat mereka berpikiran lain.
"Apa papah pernah mengajarkan semua ini kepada kamu? Apa papah pernah menyakiti mamah kamu? Tolong hargai istri kamu, dia wanita yang akan melahirkan anak-anak kamu, dia yang akan menjaga kamu sampai kamu tua dan sampai kamu tidak bisa berbuat apa-apa, apa kamu lupa dengan semua pengorbanan nya? Dia rela dengan ikhlas dan tulus menjaga dan merawat anak kamu dan menganggap nya sebagai anak sendiri hingga anak kamu sampai bisa bicara lagi, dia melupakan rasa capek nya hanya untuk mengurus kalian, papah menyesal sudah menikahkan kamu dengan Raya." Baru kali ini Steven mendapatkan tamparan dan teriakan dari ayah nya.
Semua nya terdiam termasuk Raya, kalau tidak dalam kondisi seperti sekarang, mungkin Raya sudah memeluk suami nya itu, tapi entah kenapa dalam hati Raya tidak ada rasa kasihan walau hanya seujung kuku saja.
"Maafkan Stev pah, Stev ngaku salah, tapi tolong berikan Stev kesempatan untuk membuktikan semua nya kalau Stev benar-benar tidak melakukan nya." Stev bersimpuh dengan cucuran air mata di depan ayah nya.
Sudah hilang rasa malu Stev di depan semua nya, dia menangis menyesali semua nya, seandainya waktu bisa di putar mungkin Stev tidak akan basa basi lagi dan akan langsung membawa Grace pulang tanpa menghiraukan wanita itu.
"Baik, papah beri kesempatan kamu untuk membuktikan semua nya, tapi kalau kamu terbukti sudah tidur dengan wanita itu, jangan harap lagi kamu menginjak kan kaki kamu di rumah ini." Setelah mengucapkan kalimat itu pak Agam pergi ke kamar nya.
__ADS_1
"Jangan buat kami semua semakin kecewa sama kamu." Bu Maria pun menyusul suami nya masuk kamar.
Steven melirik ke arah Raya dengan harapan Raya merasa kasihan kepada dirinya dan Raya mau bicara sesuatu sama dirinya.
Tapi harapan Steven harus musnah ketika dirinya melihat Raya memilih pergi tanpa satu kata pun yang keluar dari mulut nya.
Steven terduduk lemas, kedua tangan nya menyentuh kedua pipi yang terasa panas dan sakit, serta darah yang sudah mulai mengering di bibir nya.
"Kamu lihat saja nanti Brenda, jika semua ini hanya rekayasa kamu, aku akan buat kamu menyesal seumur hidup kamu, aku akan bayar rasa sakit istri ku." Gumam Steven, tapi kemudian terlintas dalam pikiran nya kalau semua itu benar adanya apa yang akan terjadi kepada diri nya.
"Jika itu memang terjadi aku harus siap menerima hukuman dari papah dan Raya, jika aku harus jadi gelandangan pun aku rela dan aku akan menerima nya, tapi sampai kapan pun aku akan selalu mencintai kamu Raya." Steven bangun dari duduk nya dan masuk kembali ke ruang kerja.
Steven meraih ponsel dan melihat semua chat yang masuk, mata nya tertuju pada chat Brandon lalu membuka nya.
"Bagus Brandon, tunggu aku kesana sekarang." Steven membalas chat Brandon lalu pergi ke kamar nya untuk mengambil jaket dan kunci mobil nya.
Raya membaringkan tubuh nya setelah dirinya muntah-muntah, entah kenapa akhir-akhir ini Raya sering ngga enak perut dan selalu mual.
Tubuh nya sedikit lemas dan pusing, hingga membuat Raya selalu ingin tidur.
Sambil menatap langit-langit kamar, Raya terus bergelut dengan pikiran nya, semua hal yang sudah di lalui nya kini terlintas dipikiran nya.
__ADS_1
Terdengar suara pintu kamar terbuka, Raya langsung memejamkan kedua mata nya, dirinya tahu kalau yang masuk itu adalah Steven orang yang saat ini dia benci.
"Sayang, kamu sudah tidur?" Tanya Steven sambil menghampiri Raya, Steven duduk di sisi tempat tidur, tangan nya membelai lembut rambut Raya.
"Sayang, maafkan mas, mas berani bersumpah kalau mas tidak melakukan nya, malam ini mas akan mencari bukti nya, seandainya memang mas melakukan semua yang dituduhkan wanita itu, mas akan pergi dari kalian semua nya, tapi satu yang harus kamu tahu, mas sangat mencintai kamu." Steven mencium kepala Raya lumayan lama, seperti dirinya sedang meminta kekuatan dari Raya.
Raya yang memang belum tidur mata nya kembali menitik kan air mata ketika mendengar ucapan dari Steven.
Steven bangun lalu megambil jaket dan kunci mobil nya, sebelum Steven keluar dari kamar, untuk beberapa menit Steven menatap Raya yang masih dalam posisi nya lalu pergi.
Di rasa Steven sudah keluar dari kamar, Raya membuka kedua mata nya.
"Maaf kan aku mas, sebelum kamu yang pergi dari rumah ini, aku dulu yang akan meninggalkan kamu." Raya bangun dari tidur nya, dia mengusap air mata nya lalu turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
Raya menatap wajah nya di depan cermin berukuran sedang yang ada di kamar mandi.
"Kamu harus kuat Raya, jangan lagi kamu mengeluarkan air mata." Raya menghela nafas kasar lalu keluar dari kamar mandi.
Raya mengambil koper milik nya lalu memasuk kan semua baju dan barang-barang nya yang dia bawa ke rumah itu.
Dirasa semua barang-barang nya sudah masuk ke dalam koper, Raya menatap kamar yang beberapa bulan ini menjadi tempat nya menghilangkan penat, Raya menatap tempat tidur yang berukuran king size dan mengingat dimana dia selalu di manjakan oleh suami nya lewat setiap sentuhan nya, tapi semua itu kini sirna ketika dirinya mengetahui kalau Steven tidur dengan mantan istri nya.
__ADS_1
Dengan perlahan Raya menutup pintu kamar nya lalu pergi meninggalkan nya.
Sebelum Raya benar-benar pergi dari rumah itu, Raya sempatkan masuk ke kamar Grace, Raya beberapa kali mencium kening Grace, setelah dirinya puas mencium Grace, Raya pergi tanpa menolah lagi ke belakang.