
Semua nya kini sudah berada di meja makan untuk melakukan sarapan pagi nya, hanya Steven dan Raya yang belum keluar dari kamar nya.
"Nak, kamu mau diantar pak sopir atau mau bawa mobil sendiri, kebetulan ada mobil satu yang jarang di pakai di garasi, jadi kamu pakai saja."Ucap pak Agam, kepada Farah.
"Tidak pah, aku pakai motor saja, aku lebih nyaman pakai motor." Jawab Farah.
Sungguh entah terbuat dari apa hati nya keluarga pak Agam ini, sudahlah kuliah nya di bayarin sampai selesai, di suruh tinggal di rumah nya, dan sekarang dia menyuruh memakai mobil nya lagi.
"Memang nya kamu tidak takut kena debu?" Pak Agam heran dengan Farah, karena kebanyakan para anak gadis ngga mau kulit wajah nya kena debu.
"Kan aku selalu pakai masker dan helm yang pull Face pah, jadi aman dari debu."
"Baiklah, papah ngga memaksa, tapi kalau kamu mau pakai mobil, pakai saja, kunci nya ada di pak satpam."
"Iya pah, makasih." Farah sudah ngga bisa berkata apa-apa lagi selain ucapan terima kasih.
"Aunty pergi ke kantor nya sekalian antar Grace ke sekolah ya." Ucap Grace sambil menikmati sarapan nya.
"Tapi aunty naik motor sayang." Ucap bu Maria.
"Ngga apa-apa nek, naik motor itu asik kemarin saja aku pergi sama aunty naik motor."
Pak Agam dan bu Maria saling menatap tiidak percaya kalau Grace memilih untuk naik motor di banding naik mobil.
"Tapi naik motor kena debu sayang." Ucap pak Agam.
"Kakek ini masih saja ngurusin debu, ya biarkan saja lah kek debu nempel, lagian nanti pas mandi juga tuh debu ilang, kakek belum ngerasain sih asik nya naik motor, makanya kek sekali-kali naik motor jangan naik mobil terus." Ucapan Grace membuat Farah tersenyum.
"Anak ini benar-benar pintar, kemarin aku yang kena mental, sekarang kakek nya sendiri di buat mental." Bathin Farah.
"Ya sudah terserah kamu saja, tapi kamu harus pegangan sama aunty ya? Dan aunty kalau lagi bawa motor jangan ngebut seperti author nya ya? Dia itu kalau bawa motor ngga pernah pelan." Ucap pak Agam.
"Iya pah."
"Wah ternyata sudah pada sarapan semua." Ucap Steven yang sudah rapih dengan baju kantor nya, wajah nya berseri dan rambut nya tetap masih dalam keadaan basah.
"Nunggu kalian keluar kamar bisa-bisa papah yang terlambat ke kantor." Ucapan pak Agam membuat Raya sedikit malu.
"Kayak ngga pernah muda aja." Jawab Steven, pak Agam hanya tersenyum saja.
"Pagi sayang, wah kamu sudah rapih dan cantik, ini rambut nya di ikat sama siapa?" Tanya Raya.
"Kakak tadi mandi dan pakai baju sendiri, tapi rambut nya minta tolong aunty."
__ADS_1
"Kenapa ngga minta tolong ke mamah sayang?"
"Kakak ngga mau merepotkan mamah, kasihan mamah kan harus ngurusin adik yang ada di perut mamah."
Semua nya tertawa mendengar jawaban lucu dari Grace.
"Sayang, mamah ngga akan repot hanya untuk ngurusin kamu." Ucap Raya sambil membelai lembut kepala Grace.
"Mamah Raya hanya tidak boleh gendong kamu dan kecapean saja, kalau untuk mengikat rambut kamu mamah Raya masih bisa sayang." Ucap bu Maria.
"Baiklah nenek."
"Nak, bibi sudah buatkan susu untuk kamu, tapi itu susu biasa dulu ya, soalnya ibu belum sempat untuk membeli susu hamil." Ucap bu Maria.
"Ngga apa-apa mah." Raya pun menggeser kursi lalu duduk di samping Steven.
"Biar aku yang membeli nya nanti sepulang dari kantor." Ucap Steven sambil mengambil makanan nya.
"Mas, biar aku yang mengambil nya." Raya merasa ngga enak karena itu kewajiban nya.
"Kamu diam dan duduk di situ saja, mulai sekarang kamu ngga boleh mengerjakan apa pun." Steven melayani Raya dengan penuh semangat.
"Tapi mas," Protes Raya.
Akhir nya mereka makan sepiring berdua dengan Steven yang memberikan suapan kepada Raya.
"Sudahlah nak, turuti saja kemauan nya." Ucap pak Agam.
Bu Maria sangat bahagia melihat Steven kembali semangat dan lahap untuk menikmati sarapan nya.
"Biarkan Raya sarapan dulu, nanti setelah sarapan baru membuat rujak nya."
"Bi, tolong siapkan buah-buahan yang ada di dalam kulkas seperti kemarin ya." Ucap Raya kepada bi Siti.
"Baik non." Bi Siti langsung melakukan apa yang di suruh Raya.
"Kamu ngga apa-apa kalau mau makan rujak setiap hari asal kamu sudah makan nasi, dan ingat ya Stev kondisi ibu hamil di tri semester pertama bagaimana." Ucap bu Maria.
"Iya mah aku ingat kok, dan aku ngga bakalan sering-sering paling hanya sesekali saja, kalau kemarin sama tadi itu cuma khilap aja." Dengan enteng nya Steven menjawab.
Sedangkan Raya dan Farah hanya saling menatap karena tidak mengerti dengan apa yang sedang diucapkan bu Maria sama Steven.
"Alasan saja kamu khilap." Bu Maria tahu kalau Steven merindukan istri nya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu papah berangkat ke kantor duluan." Ucap Pak Agam lalu berdiri.
Semua nya mencium telapak tangan pak Agam.
"Hati-hati pah." Ucap mereka bersamaan.
"Mamah antar papah ke depan dulu ya." Ucap bu Maria sambil mengambil tas kerja suami nya.
"Iya mah."
"Kakak ipar maksud yang di bicarakan sama mamah tadi itu apaan? Aku kok ngga ngerti ya?" Farah sangat penasaran dengan yang Steven dan bu Maria ucapkan tadi.
"Kalau kamu sudah menikah pasti akan mengerti."
"Apa ada hubungan nya dengan rambut kalian yang selalu basah?" Farah tidak menyerah, jiwa pengacara nya selalu tumbuh dalam dirinya.
"Dek, kamu ini." Ucap Raya sambil melirik ke arah Grace, dia ngga mau kalau Grace mendengar obralan orang dewasa.
"Jiwa pengacara ku tumbuh kak, aku masih penasaran soal nya."
"Nanti saja kita ceritakan," lagi-lagi Raya melirik ke arah Grace.
"Oke deh, janji ya akan menceritakan nya."
"Iya bawel." Ucap Raya yang membuat Farah tersenyum.
"Sayang ayo kita berangkat, kita akan menembus jalanan pagi ini dengan debu jalanan." Ajak Farah.
"Oke aunty, aku sudah siap melawan debu nya."
"Kalian mau naik motor lagi?" Tanya Raya.
"Iya dong."
"Pakai mobil saja, kan ada mobil yang ngga di pakai di gaeasi." Ucap Steven.
"Pakai mobil kakak aja dek, kan mobil kakak juga ngga di pakai."
"No papah, no mamah, kita berdua akan melawan debu jalanan, ayo aunty."
Farah dan Grace pun pergi setelah drama kecil dan pamit kepada Raya dan Steven.
Steven dan Raya hanya pasrah pada keputusan mereka berdua yang sifat nya hampir sama.
__ADS_1