
Dengan kecepatan penuh Steven melajukan mobil nya membelah jalanan yang sepi.
Bayangan wajah kecewa ibu dan istri nya serta wajah marah ayah nya membuat Steven ingin segera sampai dan ingin segera mengetahui kejadian sesungguh nya.
"Aku harus bisa membuktikan nya kepada Papah, mamah dan Raya, kalau aku tidak melakukan nya, aku akan paksa wanita itu untuk mengakui semua nya, aku tidak perduli meski aku harus berbuat kejam dan berujung di penjara." Gumam Steven sambil terus melajukan mobil nya.
Sebelum Steven pergi, dirinya sudah di beritahu dimana Brandon menyekap wanita itu, hingga kini Steven sudah sampai di depan sebuah rumah sederhana.
Brandon yang memang sejak tadi sudah menunggu langsung menyambut kedatangan Steven.
"Malam bos, mari ikut saya." Ucap Brandon sambil menunduk kan wajah nya.
Dengan tatapan amarah Steven berjalan mengikuti langkah Brandon dari belakang.
"Bos, maaf sebelum aku menunjuk kan wanita itu, apa boleh saya tahu masalah nya? Soalnya kalau sampai wanita itu mati sia-sia sayang banget, tubuh nya oke wajah nya juga lumayan." Ucap Brandon sambil menghentikan langkah nya.
"Wanita itu mantan istri saya, tapi dulu dia sudah membuat anak kita bisu lalu saya menceraikan nya, tapi sekarang setelah lima tahun dia pergi dia kembali, dia membawa anak ku ke apartemen nya, dan dengan bodoh nya saya datang ke apartemen dia, ternyata dia menjebak saya hingga istri dan kedua orang tua saya kecewa dan marah besar, kamu lihat baik-baik wajah saya." Steven menatap Brandon.
Walaupun Steven tidak terlalu detail menceritakan nya, tapi Brandon sudah paham kearah mana cerita Steven.
"Tapi bos tidak melakukan nya kan?"
"Makanya saya datang kesini, saya ingin mengetahui semua nya, karena saya memang tidak merasakan kalau saya sudah melakukan nya." Brandon mengangguk tanda mengerti.
Wajah bos seperti kena pukul." Ucap Brandon sambil menelisik wajah Steven.
"Saya kena tampar lima kali, kamu bayangkan saja saya kena tampar sebanyak itu."
__ADS_1
"Pasti tamparan istri anda lumayan sakit ya bos?" Tanya Brandon sambil membayangkan nya.
"Istri saya tidak melakukan apa-apa, yang menampar ini kedua orang tua saya." Jawaban Steven membuat Brandon kaget.
"Kok bisa istri anda tidak berbuat apa-apa sih bos, seandainya saya yang menjadi istri bos, sudah saya bunuh anda." Ucap Brandon dengan wajah serius.
"Lagian saya juga ngga mau punya istri seperti kamu, lagian saya masih normal." Steven menatap tajam Brandon.
Brandon hanya tersenyum di tatap tajam seperti itu, "Baiklah bos, sekarang saya mengerti, mari ikuti saya." Brandon berjalan ke belakang di ikuti Steven dari belakang.
Brandon menuju sebuah dinding, Steven yang belum mengerti dengan maksud Brandon hanya melihat dengan tatapan aneh.
Brandon menggeser sebuah lukisan lalu menempelkan ke lima jari nya, dan dengan otomatis dinding yang ada di hadapan nya bergeser.
"Kamu punya ruang rahasia?" Tanya Steven sambil menatap takjub pada sebuah dinding yang bergeser.
Ternyata di ruang bawah tanah ini ada sebuah pintu lagi, dan itu tempat Brandon menyekap wanita itu.
"Dia di sini tuan." Ucap Brandon sambil menunjuk sebuah pintu.
Steven yang lagi melihat ke sekitar ruangan merasa takjub, apalagi ruangan bawah tanah ini di sertai beberapa cctv.
"Kamu pasang cctv juga di sini?' " Tanya Steven sambil menunjuk ke arah cctv yang ada di sudut ruangan.
"Ya, semua ruangan saya pasang cctv bahkan cctv tersembunyi pun banyak di sini." Jawab Brandon dengan santai.
"Berarti setelah ini saya bisa mendapatkan rekaman nya."
__ADS_1
"Tentu saja, dan saya yakin kalau bos memang di jebak." Brandon membuka pintu nya.
Wanita itu menatap tajam dan terus meronta-ronta ingin di lepaskan.
"Halo nona, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." Ucap Steven sambil membuka lakban yang menutup mulut nya.
"Steven," gumam wanita itu dengan tatapan tidak percaya nya begitu melihat Steven masuk ke dalam ruangan.
"Puas kamu sekarang." Teriak Steven yang masih menahan emosi nya, dia tidak mau sebelum mendapatkan bukti wanita itu sudah mati.
"Ha, ha, ha, pasti istri kamu marah dan meninggalkan kamu, tapi aku belum puas karena kamu belum menjadi milik ku kembali dan belum melihat semua penderitaan kamu" Teriak wanita itu sambil tertawa.
"Kamu ingin melihat penderitaan aku? Bukan kah selama lima tahun ini kamu sudah membuat aku menderita, kamu buat putri kita sampai tidak bisa bicara dan setelah itu kamu pergi meninggalkan kita tanpa ada rasa iba sedikit pun kepada putri mu, sekarang kamu mau apa lagi? Tiba-tiba datang dan melakukan semua nya kepada ku di saat aku dan Grace sudah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguh nya." Sungguh Steven di buat emosi oleh wanita itu, sedangkan Baron hanya diam dan memperhatikan kedua nya.
"Aku tidak mau melihat kamu bahagia dengan orang lain, dan aku akan menghancurkan rumah tangga kamu, sebenar nya dari dulu aku mencintai kamu, tapi saudara kembarku memohon karena dia juga menyukai mu di saat kalian bertemu di salah satu pesawat, dan selama ini yang selalu ada buat kamu itu adalah aku bukan Brenda, dia sibuk terbang kesana kemari, aku menemani kamu dan jadi pacar kamu walaupun kamu menganggap aku Brenda bukan Bianca, dan akhirnya datang hari dimana kalian harus menikah, kamu tahu? Aku di suruh pergi menjauh dan bersembunyi di suatu negara karena takut kamu mengetahui semua nya, sampai dia menikah dan mempunyai seorang putri, padahal dia sangat membenci anak kecil, dan dia tidak pernah mau punya anak selama hidup nya, maka dari itu dia memilih untuk pergi dari kalian semua nya." Sungguh Steven di buat kaget dengan semua ucapan dari wanita itu.
"Jadi kamu?" Sungguh Steven di buat bingung dengan semua ini.
"Ya, aku Bianca bukan Brenda, aku lah yang menjadi kekasih kamu dan aku yang selalu menemani kamu, tapi yang kamu nikahi Brenda bukan aku, dan sekarang aku ingin merebut kamu kembali dari tangan siapa pun, dari dulu sampai sekarang aku masih mencintai kamu."
Steven terdiam, dia bingung antara harus percaya atau tidak, kenapa hidup nya kini rumit dengan masa lalu nya.
"Brenda memberitahu semuanya kepada ku setelah dirinya terkena penyakit aids, dan akhir nya dia menghembuskan nafas nya." Ucap Bianca sambil menitik kan air mata nya.
"Jadi Brenda, Brenda sudah tiada?" Tanya Stev.
"Ya, sebulan yang lalu dia menghembuskan nafas nya setelah dia menceritakan semua tentang dirinya."
__ADS_1
Steven terdiam, dia mencerna semua ucapan dari Bianca, dirinya ngga percaya karena sudah di cintai dua wanita yang berwajah sama.