
Kini Farah sudah duduk di samping dokter Arif, selama perjalanan pulang Farah hanya diam dan tidak memperdulikan dokter Arif yang terus-terusan melirik kepada diri nya.
Kini mereka sudah sampai di depan gerbang rumah pak Agam, dokter Arif sengaja mengunci pintu mobil nya agar Farah tidak langsung keluar dari mobil.
"Terima kasih sudah mengantar saya, dan tolong pintu nya di buka saya mau keluar." Ucap Farah dengan nada datar.
"Farah, aku mohon maaf kan aku, aku sudah salah menilai kamu selama ini, aku tahu aku sudah keterlaluan dengan ucapan ku hingga hati kamu terluka, jadi kumohon maaf kan aku." Dokter Arif terus memohon minta maaf kepada Farah.
"Sudah saya maafkan, dan sekarang tolong buka pintu nya."
Dokter Arif membuka kunci nya karena tidak mau membuat Farah semakin membenci nya.
Farah membuka pintu nya lalu pergi tanpa melihat lagi ke arah dokter Arif.
Dokter Arif hanya memandang punggung Farah yang sedang melangkah masuk ke dalam rumah.
Terdengar kaca mobil nya di ketuk membuat dokter Arif membalik kan pandangan nya.
Dokter Arif membuka kaca nya dan terlihat wajah Steven yang sedang menatap nya.
"Dokter lagi ngapain? Kenapa ngga masuk?" Tanya Steven sambil menatap nya.
"Eh, kak Steven baru pulang ya, tadi aku cuma ngantar Farah aja kok." Jawab dokter Arif.
"Ngga masuk dulu."
"Ngga makasih kak, sudah sore juga."
"Oh ya sudah kalau gitu, tapi jangan lupa minggu besok datang ya untuk menghadiri pesta pernikahan aku sama Raya." Steven mengingatkan.
"Iya kak, Insya Allah saya datang, ya sudah kalau begitu saya permisi." dokter Arif pergi meninggalkan Steven yang sedang menatap nya.
Steven masuk setelah mobil dokter Arif menghilang dari pandangan nya.
Farah yang sudah masuk langsung pergi ke kamar nya dan melihat mobil dokter Arif dari balik tirai jendela.
"Aku sudah memaafkan kamu pak dokter, tapi aku ingin tahu sampai mana kamu akan terus berusaha meluluhkan hati aku." Gumam Farah sambil terus menatap nya dari balik tirai.
__ADS_1
"Aunty." Teriak Grace sambil masuk ke dalam kamar karena memang pintu nya yang terbuka.
Lamunan Farah seketika buyar di kala dirinya mendengar teriakan dari Grace.
"Iya sayang, kenapa?" Tanya Farah sambil membalik kan tubuh nya.
"Aunty lagi lihat apaan sih di situ? Aunty ngintip ya?" Tanya Grace sambil mengangkat jari telunjuk nya ke atas.
"Ngga, aunty cuma lagi cari inspirasi aja, kenapa kamu manggil aunty, ada apa?"
"Itu aunty di tunggu mamah di ruang keluarga."
"Ya sudah kalau begitu kita kesana sekarang." Farah keluar dari kamar nya sambil memegang tangan Grace.
*******
Waktu berlalu dan kini tibalah saat nya hari dimana akan diadakan nya pesta pernikahan Raya dan Steven, pagi ini mereka semua sibuk, satu persatu wajah nya di rias oleh MUA yang sudah handal.
Keluarga Raya sudah berada di rumah pak Agam sejak kemarin sore, dan mereka kini sedang bersiap-siap.
Raya sudah terlihat sangat cantik pagi ini, Gustav yang sudah bisa duduk sendiri sedang bermain bersama seorang pengasuh.
Steven menatap wajah cantik istri nya tanpa berkedip.
Sungguh hari ini Raya sangat terlihat cantik di mata Steven.
"Sayang kamu cantik banget, mending kita gagal kan saja lah resepsi nya, kita diam di kamar saja seharian." Ucap Steven yang terus menatap wajah cantik nya Raya.
"Mau mu mas." Ucap Raya dengan tatapan tajam nya, sedangkan Steven yang di tatap hanya menyunggingkan sebuah senyuman.
Seorang wanita yang sedang merias wajah nya Raya ikut tersenyum melihat pasangan romantis di hadapan nya.
"Kakak sudah selesai belum?" Tanya Farah yang kini sudah berdiri di ambang pintu.
"Wah, mamah cantik sekali." Ucap Grace sambil menghampiri Raya.
"Kamu juga cantik sayang, sudah kok dek, kenapa?" Ucap Raya.
__ADS_1
"Kakak sama kakak ipar sudah di tunggu oleh semua nya." Ucap Farah.
"Ya sudah kalau gitu kita ke bawah sekarang." Ucap Steven sambil menggandeng Raya.
Raya dan Steven berjalan sambil bergandengan tangan di ikuti oleh Farah dan Grace dari belakang.
Begitu menuruni tangga, mata semua para tamu memandang kagum ke arah Raya dan Steven, mereka sangat memuji kecantikan Raya yang di hari itu memang terlihat sangat cantik sekali.
Pak Agam dan bu Maria tersenyum melihat anak dan menantu nya yang sedang menghampiri kursi pelaminan dan duduk di sana.
Tamu dari berbagai kalangan pun sudah memenuhi rumah besar nya pak Agam, mereka sagat menikmati sekali acara pesta nya.
Sebuah keluarga baru saja datang dan langsung menghampiri keluarga pak Agam, mereka adalah keluarga nya dokter Adit.
Ayah dokter Arif sengaja mengambil libur hanya untuk menghadiri pesta pernikahan anak teman nya itu.
"Selamat Gam, kamu sekarang sudah menjadi seorang kakek." Ucap pak Bram sambil menjabat tangan nya pak Agam.
"Kamu juga akan segera nyusul pasti nya." Ucap pak Agam sambil tersenyum.
"Sebenar nya aku sangat menginginkan sekali Gam, tapi mau bagaimana lagi Arif saja belum mengenalkan seseorang kepada kita."
"Jangan putus asa, saya yakin sebentar lagi juga kamu pasti akan segera punya menantu." Ucap pak Agam sambil melirik ke arah Farah.
Sebenar nya Farah mendengar apa yang di bicarakan sama pak Agam dan pak Bram, tapi Farah memilih diam dan berpura-pura sibuk melayani para tamu.
Acara siang itu sangat lah meriah apalagi di lengkapi oleh salah satu band ternama dan juga seorang mc yang sangat pandai membawa para tamu undangan untuk berinteraksi.
Di kala semua para tamu undangan sedang menikmati makanan dan juga mendengar kan sebuah musik, tiba-tiba ada seorang pria yang berbicara menggunakan mikropon dan sangat jelas di dengar oleh semua para tamu yang hadir termasuk keluarga mereka.
"Semua para tamu yang hadir saya mohon waktu nya sebentar." Terdengar suara seorang pria yang sudah Farah kenal hingga membuat Farah langsung menatap ke arah nya.
"Mau apa dokter Arif." Gumam bathin Farah sambil menatap ke arah dokter Arif yang sedang berdiri di samping mc.
"Saya mohon kepada yang bernama Farah saya tunggu di sini." Ucap dokter Arif dengan sangat jelas.
Semua para tamu saling melirik dan melihat ke arah sekitar mencari sosok seorang wanita yang bernama Farah yang di panggil oleh dokter Arif.
__ADS_1
"Apa sih dokter Arif ini, pakai manggil-manggil aku lagi." Gumam Farah di dalam hati nya.