
Raya berjalan ke bawah menuju ruang makan, pikiran dan hati nya kini sudah tenang, di kamar tadi Steven menjelaskan semua nya dari awal penyekapan Bianca sampai dia mengakui semua nya.
Steven sengaja meminta hasil rekaman cctv dari Brandon dari pertama Bianca di bawa ke tempat persembunyian nya.
Awalnya Brandon tidak menyetujui nya karena Brandon takut tempat rahasia nya di ketahui banyak orang, tapi Steven berjanji hanya istri nya yang tahu, bahkan kedua orang tua nya tidak di beri tahu.
Raya sekarang yakin kalau suami nya memang tidak melakukan apa-apa, tapi hukuman buat Steven tetap harus di laksanakan.
"Kok sepi, pada kemana?" Raya melihat ke sekitar rumah.
Raya terus berjalan menuju ruang makan, terlihat ada bi Siti yang sedang bersih-bersih.
"Bi, mamah dan yang lain nya pada kemana?" Tanya Raya sambil melihat ada apa di meja makan.
"Mereka lagi pada renang non, nona mau makan? Biar bibi masak yang baru dulu." Ucap bi Siti.
"Ngga usah bi ini saja di angetin, mumpung mas Steven mau makan." Jawab Raya.
"Den Stev mau makan? Alhamdulilah ya Allah, akhir nya den Steven mau makan juga." Ucap bi Siti senang.
"Memang nya benar ya bi kalau mas Steven ngga mau makan?" Tanya Raya yang memang dia kira hanya alasan ibu mertua nya saja biar dirinya kembali.
"Benar non, semenjak non pergi dari rumah den Steven ngga mau makan dia itu langsung sakit karena memikirkan non terus, jadi bibi mohon non jangan pergi-pergi lagi ya, kasihan den Steven terutama non Grace, dia selalu terlihat murung dan tidak mau menyapa den Steven, karena pikir non Grace non itu pergi gara-gara den Steven, padahal benar ya non, ups maaf non bibi keceplosan." Bi Siti tanpa sadar mengatakan nya.
"Ampun nih bibir selalu saja ngga ada rem nya." Gumam bi Siti sambil menepuk bibir nya.
Raya tersenyum melihat kelakuan bi Siti. "Ngga apa-apa bi."
Bi Siti lega karena Raya tidak mempermasalah kan nya yang sudah lancang mengatakan nya.
"Sebegitu cinta nya kamu mas sama aku? Aku harap semua nya benar." Bathin Raya.
"Ini non, sudah siap." Bi Siti memberikan makanan dan minuman yang dia tata di atas nampan.
"Eh iya bi, makasih ya." Raya mengambil nampan dari tangan bi Siti lalu membawa nya ke dalam kamar.
Steven duduk dan bersandar di ranjang nya, bibr nya kini kembali tersenyum, semangat hidup nya kini kembali lagi dan dia berjanji pada diri nya sendiri tidak akan berbuat macam-macam lagi.
__ADS_1
Terdengar pintu kamar terbuka, Steven langsung menatap nya.
Terlihat wanita cantik yang selalu ia rindukan yang sudah membuat dirinya benar-benar jatuh cinta saat ini sedang membawa nampan di tangan nya.
Bibir Steven tersenyum, ini yang membuat dia jatuh hati kepada Raya, Raya selalu memperhatikan dirinya dan juga Grace.
"Makan dulu ya mas." Ucap Raya sambil duduk di tepi ranjang.
Steven hanya mengangguk, terlihat sorot mata nya yang penuh cinta dan kerinduan.
"Maaf ya mas, ini masakan yang tadi, tapi udah di hangatin kok."
"Ngga apa-apa sayang, yang penting dari tangan kamu, apa pun akan aku makan."
"Kalau aku memberi racun apa mas mau makan juga?"
"Apa pun itu pasti akan mas makan, mas ngga perduli kamu mau memberikan racun atau tdak, yang penting mas sudah merasakan kasih sayang dari kamu dan kamu tidak pergi lagi dari sisi mas." Ucap Steven dengan tulus.
Raya merasa terharu dengan ucapan dari Steven, dengan mata yang sudah berkaca-kaca Raya membelai pipi Steven.
"Makasih mas."
"Sudah mas, kalau begini terus kapan makan nya."
Steven tersenyum, dia mulai menerima suapan demi suapan dari tangan istri tercinta nya, tapi baru juga setengah nya perut Steven terasa mual.
"Sayang, sudah cukup mas sudah mual."
"Jangan di muntahkan, mas harus menahan nya."
Dengan terpaksa Steven menahan nya agar tidak muntah.
"Sayang, aku mau makan rujak yang pedas saja, tapi aku mau kamu yang membuat nya." Ucap Steven sambil menahan rasa mual di dalam perut nya.
"Jadi makan nya gimana?" Raya kasihan melihat Steven yang seperti itu.
"Ngga, mas ngga mau makan lagi, perut mas sudah mual, kalau diteruskan pasti muntah."
__ADS_1
Raya tidak mau memaksa nya lagi, yang penting sudah masuk nasi walaupun hanya sedikit.
"Baiklah aku akan membuat nya, tapi kalau lama ngga apa-apa kan? Soalnya kan harus menyiapkan buah-buahan nya juga."
"Ngga apa-apa sayang, yang penting kamu yang membuat nya." Ucap Steven sambil tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu mas tunggu dulu di sini, aku akan membuat nya."
******
"Sayang sudah yuk udah sore, sekarang kita mandi." Teriak bu Maria yang sejak tadi hanya melihat keseruan antara Farah dan cucu nya.
"Tapi ini lagi seru-seru nya nek." Ucap Grace.
"Sayang, kita kan sudah lama berenang nya, sekarang kita mandi aja yuk, nanti kapan-kapan kita berenang lagi, gimana?" Farah ikut membujuk Grace.
"Ya sudah, tapi aunty harus belikan Grace cokelat ya nanti."
"Apa pun buat gadis cantik dan imut seperti aunty ini akan aunty berikan."
"Aunty cantik dan imut tapi kok aunty belum punya pacar." Ucap Grace dengan wajah polos nya.
"Mampus, nih bocah kebiasaan suka mengalahkan aku, mana ada nenek nya lagi." Bathin Farah sambil melirik ke arah bu Maria yang sedang tersenyum.
"Aunty bukan tidak punya sayang, tapi aunty belum mau pacaran, aunty masih ingin mengejar cita-cita aunty dulu."
"Memang nya aunty cita-cita nya apa?"
"Aunty ingin jadi seorang pengacara handal, pengacara yang jujur dan selalu membela orang-orang yang tertindas." Ucap Farah dengan semangat.
"Sudah, kalian ngobrol nya nanti saja di dalam, sekarang kalian mandi dan ganti baju kalian, ini baju nya sudah nenek siapkan, kamu pakai baju Raya dulu saja ya sayang, dalaman nya masih baru kok." Ucap bu Maria.
"Makasih mah, baiklah ayo sayang kita mandi." Ucap Farah sambil menarik pelan tangan Grace.
Farah dan Grace pun mandi di kamar mandi yang sudah di sediakan di dekat kolam renang.
Bu Maria tersenyum bahagia, dirinya berasa mempunyai anak perempuan di dalam hidup nya.
__ADS_1
"Terima kasih ya Allah, engkau sudah menghadirkan mereka di dalam hidup ku, walaupun aku tidak punya anak perempuan, tapi engkau hadirkan menantu dan adik perempuan nya di rumah ini." Bathin bu Maria.