
"Sayang tunggu." Teriak Steven dan mau mengikuti Grace.
"Biarkan Grace sendiri, kamu bujuk pun percuma, dia ngga akan mau mendengar alasan apa-apa lagi, ingat Stev, Grace itu semakin hari semakin tumbuh besar, jadi dia pasti akan tahu mana yang benar dan mana yang salah, jadi kamu harus banyak berfikir kalau mau melakukan sesuatu, kamu tidak mau menyesal seperti sekarang kan? seandainya Grace tahu masalah nya pasti Grace juga ikut pergi meninggalkan kamu." Ucapan bu Maria membuat Steven mematung dan menghentikan langkah nya.
"Apa kamu sudah mendapatkan bukti kalau kamu tidak bersalah? Atau kamu malah sudah mendapatkan bukti nya dan kamu menyembunyikan nya karena semua itu benar telah kamu lakukan?" Tanya pak Agam dengan nada datar dan dingin.
Steven kembali duduk dan mengeluarkan ponsel dari saku celana nya, Steven memutar rekaman semalam tentang pengakuan Bianca.
"Papah dan mamah bisa mendengar nya, semalam aku sudah merekam pengakuan dia." Steven menekan play untuk memulai memutar nya.
Pak Agam dan bu Maria terdiam dan mendengarkan semua nya dengan sangat serius, mereka berdua tidak mau salah mendengar.
"Jadi, dia kembaran nya Brenda? kenapa kamu sampai tidak tahu kalau Brenda punya kembaran?' Tanya pak Agam setelah mendengar rekaman yang di putar oleh Steven.
"Aku juga tdak tahu karena Brenda selalu bilang kalau dirinya hidup sendiri, jadi aku ngga curiga."
"Itulah salah nya kamu, kamu ngga pernah mau mendengarkan omongan mamah, mamah sudah curiga dari pertama kamu mengenalkan nya sama mamah, sekarang kamu mau apa? percuma juga kamu mendapatkan bukti itu, Raya nya saja sudah pergi dari rumah ini." Bu Maria sangat kesal karena Steven tidak pernah mau mendengarkan omongan nya.
"Maafkan aku pah, mah, aku janji aku akan membawa pulang Raya dalam kondisi baik-baik saja."
"Jangan pernah menampak kan wajah kamu di depan papah kalau kamu belum bisa membawa menantu papah kembali ke rumah ini." Ucap pak Agam sambil berdiri, pak Agam sangat kecewa sekali dengan anak nya ini.
"Papah berangkat." Pak Agam pamit kepada istri nya dan tidak menghiraukan lagi Steven.
Setelah mengantar suami nya ke depan, bu Maria kembali ke ruang makan dan duduk kembali di depan Steven.
"Kamu lihat papah kamu, dia sangat kecewa dengan kamu, kamu harus bisa mengembalikan rasa kecewa papah kamu, sudah puluhan tahun mamah kenal papah, baru kali ini mamah melihat kalau papah sangat kecewa dan sakit hati."
__ADS_1
Steven terdiam, dia berjanji akan membuat senyum semua orang yang dia sayangi kembali.
"Maaf kan Stev mah." Entah sudah berapa puluh kali kalimat itu terucap dari bibir Steven.
"Sudahlah, sekarang kamu sarapan dan berangkat ke kantor, papah sama mamah tidak butuh kata maaf dari kamu, tapi kami butuh Raya di rumah ini." Ucap bu Maria sambil memberikan piring yang sudah dia isi dengan makanan.
Sebenar nya Steven tidak mau sarapan, tapi demi menghargai ibu nya Steven memaksakan diri untuk menyantap nya, tapi baru juga satu suap makanan yang masuk, perut Steven terasa mual hingga dirinya langsung berlari dan masuk ke kamar mandi yang berada di dekat dapur dan memuntahkan nya semua yang ada di dalam perut nya.
Bu Maria kaget dan mengikuti Steven ke kamar mandi, walaupun bu Maria lagi kecewa dan kesal dengan Steven, tapi ibu tetaplah ibu, dia akan merasa khawatir dengan anak nya.
"Nak, kamu kenapa? kamu baik-baik saja kan?" Teriak bu Maria sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Den Stev kenapa nyonya?" Tanya bi Siti yang mendengar keributan bu Maria.
Belum juga bu Maria menjawab pertanyaan bi Siti, terdengar pintu kamar mandi terbuka.
"Kamu kenapa nak? Kamu sakit?" Tanya bu Maria yang melihat kondisi anak nya.
"Semalam aku kurang tidur mah, mungkin aku masuk angin." Jawab Steven sambil memegang kepala nya yang dirasa sangat pusing sekali.
"Ya sudah kalau begitu kamu jangan pergi ke kantor, kamu istirahat saja." Bu Maria menggandeng Steven dan membawa nya ke dalam kamar Steven.
"Bi, tolong bantu saya membawa Steven ke kamar nya." Ucap bu Maria, karena ngga mungkin dirinya membawa Steven yang sedang lemas sendirian.
Dengan susah payah bu Maria dan bi Siti membawa Steven ke kamar nya.
"Biar saya buatkan air jahe untuk den Steven." Ucap bi Siti setelah berhasil membaringkan tubuh Steven.
__ADS_1
"Terima kasih bi, dan tolong sekalian hubungi dokter Arif." Ucap bu Maria sambil menutup tubuh Steven dengan selimut nya.
"Baik nyonya." Bi Siti pun pergi kembali ke dapur.
"Mamah tinggal dulu sebentar, mau melihat Grace." Steven hanya mengangguk dengan kedua mata nya terpejam.
Hati bu Maria sedih melihat keadaan Steven saat ini, bagaimana pun kesal dan marah nya seorang ibu, tetap saja akan sedih melihat anak nya terbaring sakit, Steven ini dari kecil memang jarang sakit, dia anak yang kuat, tapi dengan kepergian Raya hidup nya seperti lemah sampai-sampai dia sakit seperti sekarang.
Grace sedang memeluk guling kesayangan nya sambil menangis, Grace tidak menyadari dengan kehadiran sang nenek yang kini sudah berada di samping nya.
"Sayang, kamu jangan nangis begini, kalau semua urusan mamah sudah selesai pasti mamah akan kembali kok, mamah Raya kan sangat sayang sama Grace." Ucap bu Maria sambil membelai lembut kepala Grace.
Hati bu Maria benar-benar hancur saat ini, dirinya marah, kecewa dengan Steven tapi hati nya juga sedih melihat keadaan nya tadi, di tambah dirinya harus melihat wajah sedih Grace, ingin rasa nya bu Maria menangis dengan kencang, tapi dirinya masih sadar, kalau masih ada Grace yang butuh semangat dari nya.
"Papah jahat nek, aku benci papah, aku tidak mau apa-apa, aku tidak butuh mobil atau mainan apa pun, yang aku butuh kan hanya mamah Raya, kalau mamah Raya ngga kembali lagi aku akan menyusul nya." Ucap Grace dalam isak tangis nya.
Bu Maria ikut meneteskan air mata nya, dia merasakan apa yang di rasakan cucu nya itu.
Lamunan nya buyar ketika suara ponsel nya terdengar sangat nyaring.
Bu Maria mengambil ponsel dan melihat siapa yang menghubungi nya di pagi itu.
"Sayang, mamah Raya menelepon lihat." Betapa senang dan bahagia nya bu Maria ketika melihat no Raya memanggil nya, bu Maria langsung menerima panggilan video dari Raya.
Grace langsung bangun dan duduk di samping bu Maria.
"Sayang, kenapa kamu belum berangkat sekolah?" Tanya Raya di seberang sana sambil menahan air mata nya.
__ADS_1