
Semakin hari perut Raya semakin tumbuh besar dan semakin kelihatan, Steven semakin hari nya semakin posesif kepada Raya.
Di awal Steven yang selalu di layani, kini Steven yang selalu melayani Raya.
Awal nya Raya merasa ngga enak dan canggung dengan perlakuan dari Steven, tapi lama-lama kini Raya sudah terbiasa.
Raya sangat di manjakan oleh Steven, apa pun yang Raya minta Steven selalu mengabulkan nya, hanya satu yang tidak pernah Stevn kabulkan, yaitu keluar dari rumah tanpa dirinya.
Sewaktu acara syukuran empat bulan nya Raya, mereka mengundang anak-anak yatim dan para tetangga saja.
Steven sangat menjaga sekali istri nya itu, terlihat selama acara syukuran Steven selalu siaga di samping nya.
Grace kini sudah masuk sekolah dasar, dia menjadi anak yang sangat mandiri dan jiwa seorang kakak nya sudah mulai tumbuh.
Grace sudah merasa nyaman dan sangat menyayangi Raya melebihi ibu kandung nya sendiri, sampai-sampai Grace tidak pernah bertanya tentang ibu kandung nya sendiri, Grace punya pikiran sendiri tentang seorang ibu, Grace tidak akan mencari ibu yang sudah meninggalkan nya, karena sekarang Grace sudah mempunyai seorang ibu sambung yang sudah menganggap nya seperti anak kandung nya sendiri.
Walaupun sedang hamil dan akan mempunyai seorang anak dari rahim nya sendiri, Raya tetap menyayangi Grace, bahkan rasa sayang Raya kepada Grace semakin bertambah.
Raya selalu memperhatikan apa pun tentang Grace, Raya tidak mau kalau Grace merasa minder dan merasa tersaingi dengan kehadiran calon adik nya.
Pak Agam dan bu Maria selalu bersyukur mempunyai menantu seperti Raya, mereka tidak salah memilih pendamping untuk anak nya.
Raya seorang gadis yang dengan rela mau di nikahkan dengan anak nya yang seorang duda dengan satu anak dan tidak menuntut apa-apa kepada mereka.
Pak Agam dan bu Maria pun berjanji setelah Raya melahirkan nanti, mereka akan melaksanakan resepsi besar-besaran.
Farah ikut merasakan kebahagiaan kakak nya dan dia sangat bersyukur dengan di nikahkan kakak nya dengan Steven, kini dirinya pun ikut merasakan kebahagiaan dan kebaikan dari keluarga pak Agam.
__ADS_1
Farah berjanji akan belajar sungguh-sungguh hingga impian nya tercapai dan bisa membantu keluarga pak Agam suatu saat nanti.
Farah selalu sibuk karena harus bekerja dan kuliah, kadang Grace selalu marah kepada nya karena tidak ada waktu sama sekali untuk menemani dirinya.
Raya memberikan mobil nya kepada Farhan adik laki-laki nya atas persetujuan dari Steven, walaupun mobil itu mobil nya sendiri pemberian dari pak Hendrik, tapi Raya menghargai Steven sebagai suami nya, dengan tujuan biar kalau kedua orang tua nya mau berkunjung ke rumah nya bisa di antar oleh Farhan.
Dan setiap sebulan sekali ke dua orang tua nya Raya selalu mengunjungi nya, mereka ngga mau Raya kelelahan untuk menemui nya jadi mereka memilih yang datang untuk menjenguk Raya dan Farah.
Dengan seiring nya perut Raya yang semakin besar, rasa ngidam Steven pun sudah berkurang hingga kini kehamilan Raya sudah menginjak usia sembilan bulan.
Hari ini hari minggu, dimana semua orang sedang pada libur dari kegiatan nya, dan untuk hari ini Farah bersyukur sekali karena tidak ada tugas atau kegiatan dari kampus hingga dirinya bisa ikut berkumpul di rumah.
Yang paling bahagia hari ini adalah Grace, dia merasa keluarga nya sangat utuh sekali karena mereka semua berkumpul dan tidak ada yang kurang satu pun.
"Mah kita beli perlengkapan bayi yuk, sudah bisa kan sekarang kita beli." Ucap Raya.
Raya memang belum membeli satu perlengkapan bayi pun, karena ke dua orang tua nya bilang jangan dulu menyiapkan nya kalau belum mendekati lahiran.
"Aku ikut." Teriak Grace.
"Iya semua nya ikut termasuk aunty Farah." Ucap Bu Maria.
Semua nya kini sibuk mengganti pakaian karena mau pergi ke mall untuk belanja perlengkapan bayi.
Pak Agam dan Steve menggelengkan kepala nya melihat kelakuan para wanita yang mereka sayang.
"Begitulah wanita, mereka semua suka ribet kalau mau pergi, padahal baju yang mereka tadi pakai saja sudah bagus untuk di pakai ke mall, tapi kenapa harus ganti segala." Ucap Steven.
__ADS_1
"Ribet-ribet juga kamu sangat mencintai para wanita itu kan?" ucap pak Agam.
Steven hanya mengangguk sambil tersenyum, mereka berdua dengan sabar menunggu para wanita yang sedang berganti pakaian nya.
Hampir tiga puluh menit menunggu akhir nya mereka sudah siap dan sudah pada cantik.
Steven semakin terpana melihat Raya yang semakin hari semakin cantik saja walau pun perut nya membesar.
"Sayang kenapa harus cantik sekali sih kalau pergi keluar rumah?" Tanya Steven dengan wajah sedikit kesal.
"Aku hanya memakai bedak sama lipstik tipis begini kok mas." Raya sudah hapal betul kalau suami nya takut banyak pria yang menatap nya.
Raya teringat sewaktu dirinya berjalan dengan Steven banyak sekali yang menatap nya dan tidak segan-segan bilang cantik di depan Steven, hingga membuat Steven selalu kesal di buat nya.
"Tenang saja kak, ngga bakalan ada pria yang mau sama kak Raya dengan kodisi perut buncit seperti itu." Ucap Farah sambil menatap perut Raya.
"Ngga bakalan gimana kamu dek, bulan kemarin saja kakak keluar sama kakak kamu banyak sekali para pria yang menatap nya, padahal di samping nya ada kakak, tapi mereka semua pada berani." Jawab Steven dengan wajah di tekuk nya.
"Biarkan saja lah pah, seharus nya papah itu bersyukur karena punya istri seperti mamah, sudah cantik, baik dan juga penyayang hingga banyak para pria yang menatap mamah, yang terpenting mamah selalu ada buat papah dan sangat mencintai dan menyayangi papah." Ucap Grace.
"Anak pintar, apa yang kamu ucapkan seratus persen benar adanya." Ucap Farah sambil menyentuh kepala Grace.
Raya tersenyum penuh kemenangan karena ucapan Grace telah mewakilkan diri nya.
"Oh jadi sekarang kamu berpihak sama mamah kamu?"
"Iya lah, dari dulu juga Grace berpihak sama mamah."
__ADS_1
Perdebatan selalu ada di kala mereka berkumpul atau mau berpergian, tapi itu semua membuat rasa kekeluargaan nya semakin erat.
"Sudah-sudah, sekarang kita berangkat, Grace sama Farah ikut mobil kakek saja." Pak Agam selalu yang melerai perdebatan diantara keluarga nya.