
Wanita itu membuka kedua mata nya, sungguh dirinya sangat kaget begitu mendapatkan kedua tangan dan kedua kaki nya sudah terikat dan mulut nya yang di lakban.
"Bajingan, siapa yang berani melakukan semua ini pada ku, di kota ini tidak ada yang mengetahui aku, lalu siapa yang sudah berani mengurungku di sini." Gumam bathin wanita itu dengan kedua mata nya yang terus menelisik ruangan pengap itu.
Terlihat pintu terbuka dan menampak kan seorang pria dengan postur tubuh tinggi dan besar menatap nya dengan bibir tersenyum penuh arti.
Wanita itu terus bergerak tanda ingin di buka ikatan dan lakban di mulut nya.
Dengan perlahan Brandon menghampiri nya lalu dengan secepat kilat menarik lakban yang menutup mulut nya hingga membuat wanita itu berteriak kesakitan.
"Argh, brengsek, siapa kamu? Kenapa kamu kurung aku di sini?" Teriak wanita itu sambil meronta.
"Apa benar kamu tidak tahu alasan aku mengurung kamu di sini?" Brandon malah balik bertanya dan membuat wanita itu semakin emosi.
"Jika aku tahu, aku ngga bakalan bertanya sama kamu." Wanita itu menatap tajam dan penuh amarah kepada Brandon.
"Sudahlah kamu nikmati saja dulu seperti ini, tunggu bos datang, mungkin malam nanti bos akan kesini." Brandon kembali menutup mulut wanita itu dengan lakban.
Wanita itu terus berontak dan mengumpat di dalam hati nya, dia juga sangat penasaran siapa yang menjadi bos pria di hadapan nya ini
"Siapa sebenar nya yang sudah menyuruh nya untuk mengurungku di sini?" Bathin wanita itu, kedua matanya terus menatap Brandon.
Tanpa basa basi lagi Brandon meninggalkan kembali wanita itu sendirian.
Sedangkan Boy yang siang tadi setelah di hubungi wanita itu langsung menuju apartemen nya, tapi sayang sampai saat ini Boy belum bisa bertemu dengan bos nya itu.
Boy merasa ada yang aneh, lalu dirinya meminta pihak apartemen untuk memutar rekaman cctv hari ini.
Dengan serius Boy melihat rekaman cctv hari ini dan akhir nya dirinya melihat bos nya di bawa oleh seorang pria yang menutupi wajah nya.
__ADS_1
Boy hanya diam karena dirinya tidak tahu siapa yang membawa bos nya itu, Boy pun pergi meninggalkan apartemen dan tidak mau perduli lagi dengan bos nya itu, dirinya memutuskan untuk kembali ke kota nya berasal.
******
Sementara di kediaman nya pak Agam, mereka kini sudah berkumpul di ruang keluarga, Grace sudah masuk ke dalam kamar nya ditemani bi Siti
Awalnya Grace meminta Raya yang menemani nya, tapi Raya membujuk dan memberikan pengertian kepada Grace hingga Grace mengerti dan mau tidur sendirian.
Karena Raya tidak tega melihat Grace masuk ke kamar nya sendirian, Raya meminta bi Siti untuk menemani Grace sampai Grace tertidur.
"Bisa ada yang menjelaskan kepada papah kenapa kalian semua pada diam dan terlihat murung?" Pak Agam memulai pembicaraan nya.
"Maafkan Stev pah, ini semua Stev yang salah, Stev bodoh yang sudah terhasut oleh perempuan itu." Ucap Stev sambil menunduk.
"Perempuan? Perempuan siapa? Jangan bilang kamu terhasut oleh mantan istri kamu sewaktu kamu menjemput Grace semalam." Ucap pak Agam dengan tatapan tajam nya yanga sangat menusuk.
Raya hanya diam menunduk, dia ngga mau sedikit pun melihat ke arah Steven yang ada di samping nya.
"Plak!" Sebuah tamparan yang sangat keras bahkan lebih keras dari tamparan sang ibu mendarat di pipi nya hingga keluar darah dari sudut bibir Steven.
Sakit dan merah bekas tamparan ibu nya saja belum hilang, kini dia harus kembali merasakan rasa sakit dan panas di tempat yang sama.
Raya menitik kan air mata nya ketika dirinya mendengar pengakuan Steven.
Bu Maria hanya bisa menitik kan air mata nya ketika melihat Steven yang di tampar oleh ayah nya, hati seorang ibu mana yang tidak ikut merasakan sakit di kala anak nya kena pukul orang lain, apalagi yang mukul saat ini adalah ayah kandung nya sendiri.
Sejak kecil mereka tidak pernah sekali pun memukul Steven, jangan kan untuk memukul, menyentil saja mereka belum pernah, tapi hari ini mereka berdua sudah menampar nya dnegan sangat keras.
Steven hanya terdiam, memang dari dulu Steven tidak berani melawan sang papah.
__ADS_1
"Kenapa semua itu bisa terjadi? Apa kamu masih mencintai nya?" Tanya pak Agam dengan wajah yang merah menahan amarah nya.
"Stev juga tidak tahu pah, seingat Stev setelah minum Stev merasakan ngantuk dan tidur di sana, tapi_" Stev melirik ke arah Raya yang sedang menangis di samping nya.
"Tapi apa? kamu mau menyangkal nya?" Bentak pak Agam.
"Pah sabar, pelan-pelan jangan sampai Grace mendengar teriakan papah." Ucap bu Maria sambil mengelus lembut pundak suami nya.
"Tapi Stev tidak melakukan apa-apa." Stev berusaha membuat semua nya percaya kepada dirinya.
"Tidak melakukan apa-apa menurut mas." Teriak Raya yang dari tadi hanya diam, Raya sudah ngga kuat mendengar nya dan ingin segera menyelesaikan masalah ini di depan kedua mertua nya.
Raya menatap tajam Steven dengan air mata yang terus mengalir di pipi nya membuat bu Maria ikut menangis karena merasakan apa yang sedang di rasakan menantu nya itu.
Steven hanya diam menunduk, dia sangat ngga tega melihat Raya menangis seperti itu.
Raya menarik kemeja yang sedang di pakai Steven hingga semua kancing nya terlepas dan jatuh ke lantai.
Pak Agam dan bu Maria hanya diam dan terus memperhatikan apa yang akan di lakukan Raya menantu nya kepada Steven.
Raya memaksa membuka kemeja Steven dan kaos dalam yang sedang di pakai suami nya itu hingga menampak kan kulit yang merah-merah bekas gosokan Raya apalagi pas tanda dari bibir wanita itu terlihat ada luka gosok nya.
"Papah sama mamah lihat, apa ini belum bisa di jadikan bukti kalau mereka sudah melakukan nya." Teriak Raya sambil menunjuk ke arah tanda merah perbuatan wanita itu di bagian tubuh Steven.
Pak Agam dan bu Maria menatap tajam Steven, tangan pak Agam sudah terkepal dan ingin sekali menghajar Steven.
"Sumpah sayang, aku tidak tahu kalau dia melakukan semua ini." Steven masih berusaha meyakinkan Raya.
Raya mengambil ponsel yang dia simpan di atas meja lalu membuka galeri dan membuka rekaman layar yang berhasil Raya rekam dan memperlihatkan nya kepada pak Agam dan bu Maria.
__ADS_1
.