Ibu Sambung Buat Anakku

Ibu Sambung Buat Anakku
Membuat Rujak


__ADS_3

"Non, kok makanan nya tidak habis?" Tanya bi Siti sambil mengambil nampan dari tangan Raya.


"Mas Steven keburu mual bi, dia malah mau di buatkan rujak, ada buah apa saja bi di kulkas?" Ucap Raya.


"Rujak? Mual? Apa jangan-jangan_." Gumam bi Siti yang masih bisa di dengar oleh Raya.


"Jangan-jangan apa bi?" Tanya Raya sambil menatap bi Siti.


"Jangan-jangan non Raya sedang hamil? Apa non tidak merasakan apa-apa?"


Raya hanya tersenyum penuh arti, dan mengambil buah-buahan yang ada di dalam kulkas.


"Menurut bibi?"


"Ah, selamat ya non, semoga bayi dan non sehat selalu sampai lahiran nanti." Bi Siti ikut senang walaupun Raya belum menjawab nya.


"Syut, bibi jangan keras-keras, mas Steven belum tahu soal ini." Raya menyimpan jari telunjuk di bibir nya.


"Baik non, bibi akan diam dan ngga akan bicara masalah ini."


Raya tersenyum lalu mulai membuat rujak pesanan suami nya itu.


"Mamah." Teriak Grace yang sudah rapih dan wangi.


Raya yang sedang serius membuat rujak mengangkat kepala nya dan melihat ke arah Grace.


"Kamu sudah mandi sayang?" Tanya Raya sambil tersenyum, tangan nya masih sibuk membuat rujak.


"Sudah dong mah, kita kan habis berenang tadi." Jawab Grace.


"Aunty sama nenek mana sayang?"


Belum juga Grace menjawab nya, orang yang ditanyakan pun kini sudah berada di dekat nya.


"Kita di sini nak." Ucap bu Maria yang memang sudah berada di dekat Raya.


"Kakak lagi buat rujak? memang nya mangga muda nya ada? Kakak jangan makan rujak terus nanti perut kakak sakit." Ucap Farah.


"Ini buat mas Steven, dia minta di buatkan rujak, buah yang ada saja yang penting bumbu rujak nya enak dan pedas." Jawab Raya sambil menata rujak nya.


Bu Maria dan Farah saling menatap dengan senyuman dari bibir kedua nya, mereka bahagia melihat Raya yang sudah mau melayani suami nya.


"Tapi Stev belum makan nasi nak." Ucap bu Maria.

__ADS_1


"Mamah tenang saja, mas Steven sudah makan kok walaupun sedikit." Ucap Raya.


"Alhamdulilah kalau Stev mau makan." Bu Maria benar-benar bahagia dengan kehadiran Raya dan Farah di rumah nya, mereka berdua sangat berarti buat bu Maria saat ini.


"Kamu mau dek, Kalau mau kakak pisahin." Ucap Raya.


"Sedikit saja kak, seperti nya seger banget." Farah mengambil piring kecil dan mengambil sedikit buah dan bumbu rujak nya.


"Agak banyak saja sekalian buat mamah."


"Ngga, mamah sudah ngga kuat makan rujak, buat kalian saja." Ucap bu Maria.


"Grace juga mau mah."


"Boleh sayang, tapi bumbu nya jangan yang ini ya nak, kamu tidak boleh makan pedas." Ucap Raya, dan Grace pun mengangguk mengerti.


"Kalau kakak mau mengantarkan rujak nya pergi saja, biar aku yang buatkan bumbu rujak buat Grace, cuma gula dan garam saja kan kak." Ucap Farah.


"Iya dek, ya sudah Kalau begitu aku ke kamar dulu ya mah, kamu mau ikut nak." Ucap Raya sambil membawa rujak nya.


"Ngga ah, Grace mau makan rujak saja sama aunty." Grace masih marah dengan Stev.


Raya pergi dengan rujak di tangan nya, bu Maria dan Farah menatap dengan tatapan bahagia mereka.


"Semoga mereka hidup bahagia ke depan nya, dan tidak ada lagi yang mau menghancurkan kebahagiaan mereka." Ucap bu Maria.


******


Raya kembali membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, posisi Steven masih seperti tadi yang masih duduk dan bersandar di ranjang.


Ketika melihat istri nya masuk dengan rujak di tangan nya, Steven langsung menyimpan laptop dari atas pangkuan nya.


"Mas lagi ngapain? kerja?" Tanya Raya sambil menghampiri nya.


"Iya sayang, ada yang harus di selesaikan hari ini, soalnya dari kemarin mas ngga masuk kerja.


"Kalau masih pusing jangan kerja dulu, nanti tambah sakit lagi." Raya ikut duduk di samping nya.


"Wah seperti nya enak sekali rujak buatan kamu sayang." Ucap Steven sambil menelan saliva nya.


"Coba deh mas, kalau ngga enak jangan di makan." Raya memberikan satu suapan buah belimbing.


Steven mengunyah nya tanpa ada rasa pedas padahal Raya membuat nya dengan puluhan cabai.

__ADS_1


"Enak sayang di bandingkan dengan rujak kemarin yang mas beli enakan rujak buatan kamu ini." Steven terus menyantap rujak nya.


Keringat sudah bercucuran dari kening Steven membuat Raya tersenyum.


"Sudah cukup mas, ini sudah setengah nya habis dan mas sudah kepedasan, nanti mas sakit perut." Raya khawatir dengan suami nya.


"Ngga, mas mau menghabis kan nya." Ucap Steven.


Raya terus memberikan suapan demi suapan kepada suami nya hingga rujak yang dia buat pun habis tidak bersisa.


"Gerah sayang, sampai baju mas basah dengan keringat." Ucap Steven sambil menatap baju nya.


"Ya sudah sekarang mas mandi dulu sana, aku mau menyimpan piring dulu ke bawah."


"Boleh ngga kamu yang mandiin nya sayang." Steven berharap Raya mau memandikan nya.


"Mas, kamu itu sudah mau jad_." Raya terdiam, hampir saja dirinya keceplosan bicara.


"Aduh, hampir aku keceplosan, aku akan memberitahu nya nanti malam di depan Grace dan semua nya." Bathin Raya.


"Mau apa sayang? Kenapa ngga di lanjutkan."


"Em, maksud aku, kamu itu sudah dewasa, Grace saja sudah mulai mandi sendiri, masa kamu masih mau di mandikan." Raya membuat alasan.


"Sekali ini saja sayang, ya sudah aku ngga mau mandi kalau ngga kamu mandikan." Ucap Steven manja seperti anak kecil yang ngambek sama ibu nya.


"Apa ini juga pengaruh dari bayi yang aku kandung, hingga kamu jadi manja seperti ini mas." Bathin Raya sambil melihat wajah kesal Steven.


"Kalau mas ngga mau mandi aku akan pergi dari rumah dan ngga akan kembali lagi, aku ngga mau punya suami yang tidak mandi." Raya balik mengancam.


"Tidak sayang, kamu jangan pergi, baiklah aku mau mandi sekarang." Steven langsung turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi dengan lesu.


Raya sangat kasihan melihat suami nya yang kelihatan nya tidak bergairah itu.


Dengan perlahan Raya mengikuti dan masuk ke dalam kamar mandi.


Raya kaget melihat kulit punggung Steven yang merah-merah seperti kena cakaran.


"Mas, kulit kamu kenapa seperti ada yang mencakar?" Tanya Raya sambil menyentuh punggung Steven.


Steven spontan membalikan tubuh nya, tambah kaget lagi Raya ketika melihat bebera luka lecet di dada Steven.


"Kan kamu yang melakukan nya sayang sewaktu kamu memandikan aku waktu itu."

__ADS_1


"Mas, maaf kan aku, waktu itu aku lagi emosi." Raya mencium luka lecet di dada Steven.


Steven memejamkan kedua matanya merasakan getaran dan aliran di tubuh nya yang di salurkan dari bibir dan sentuhan Raya.


__ADS_2