
Kini Farah dan Raya sudah berada di sebuah rumah sakit, bu Maria ikut mendampingi Raya karena ingin tahu langsung kabar bahagia ini.
Setelah mengantar Grace ke sekolah bu Maria langsung datang ke rumah sakit yang sudah di janjikan oleh Farah.
Dan kini mereka sedang berada di ruangan dokter, Raya berbaring di atas ranjang pasien dengan perasaan yang tidak menentu, sedangkan bu Maria dan Farah sedang berdiri di dekat nya.
"Maaf ya nyonya," Ucap dokter wanita yang seumuran bu Maria sambil mengoleskan gel di atas perut nya Raya.
Dokter itu terus menggulir ke kanan ke kiri dan gerakan memutar hingga titik bayi terlihat sangat jelas di layar monitor.
"Ibu lihat titik hitam itu, itu adalah calon janin anda, usia nya baru sekitar tiga mingguan." Ucap dokter itu membuat bu Maria dan Farah tersenyum sambil saling menatap.
Yang paling bahagia di sini adalah bu Maria, dia sangat bersyukur dan sangat berharap sekali dengan ada nya janin di dalam rahim Raya, maka ada peluang untuk mereka bisa kembali bersatu dan mencairkan hati Raya yang sudah beku.
Terlihat bibir Raya sedikit tersenyum, dirinya memang benci sama suami nya, tapi mendengar ada buah hati mereka di rahim nya membuat ada perasaan bahagia di dalam hati Raya.
"Alhamdulilah ya Allah, semoga dengan hadir nya janin di dalam rahim Raya akan meluluhkan hati Raya dan mau memaafkan Steven dan mereka bisa kembali bersatu." Ucap bu Maria dalam hati nya.
Raya bangun dan merapihkan baju nya kembali lalu turun dari ranjang pasien dan duduk di depan dokter.
"Ibu jangan mengangkat yang berat-berat dan melakukan kegiatan yang membuat ibu capek di tri semester awal ini, dan jangan lupa ibu minum susu hamil, vitamin dan makanan yang sehat, ini saya buatkan resep vitamin nya." Ucap dokter sambil memberikan resep kepada Raya.
"Terima kasih bu dokter."
__ADS_1
"Kenapa suami nya tidak ikut mengantar?" Tanya dokter penasaran, karena rata-rata yang datang itu suami istri.
"Suami nya lagi ngidam dok, dia pusing, mual sampai muntah-muntah, wajah nya juga pucat sampai-sampai dia ngga bisa pergi ke kantor karena lemas." Jawab bu Maria sengaja agar hati Raya sedikit ada rasa kasihan kepada Steven.
"Wah anda seorang istri yang beruntung nyonya, karena tidak semua wanita mendapatkan suami yang seperti nyonya yang bisa merasakan ngidam, berarti suami nyonya ini sangat mencintai nyonya hingga dia mengalami sindrome couvade." Raya hanya tersenyum mendengar ucapan dari dokter wanita itu.
"Apa benar mas Steven sangat mencintai aku?" Bathin Raya dalam hati.
"Baiklah dok, kalau begitu kami permisi." Ucap Raya lalu berdiri dan menjabat tangan dokter.
"Jangan lupa yang saya ucapkan tadi ya nyonya, jaga baik-baik harta nya nyonya, dia adalah harta yang tidak ternilai harga nya." Raya mengangguk sambil tersenyum lalu keluar dari ruangan dokter di ikuti bu Maria dan Farah.
*****
Kini mereka sudah duduk di kantin rumah sakit, bu Maria sengaja mengajak Raya dan Farah duduk di kantin hanya untuk sekedar bercengkerama sambil menunggu jam pulang Grace.
"Aku baik mah, mamah baik juga kan? Maaf kan aku mah, aku sudah pergi tanpa izin dari mamah." Jawab Raya yang merasa tidak enak dengan bu Maria.
"Mamah baik nak, tapi Stev yang lagi tidak baik-baik saja, semenjak kepergian kamu Stev terus mengurung diri dan menyesali semua nya sampai dia tidak mau makan sama sekali, dia hanya makan rujak pedas kemarin sore, sebenar nya mamah khawatir dengan keadaan Stev sekarang, mamah mohon kembali ke rumah nak, mamah yakin Stev tidak melakukan nya, Stev hanya di jebak oleh kembaran nya Brenda dan dia sudah mengakui kesalahan nya di depan Stev, Stev sangat terpuruk sekali sekarang, dia kehilangan kamu dan sekaligus Grace." Ucap bu Maria dengan mata yang sudah mengembun dan hampir menetes.
Ke dua mata Raya dan Farah ikut berkaca-kaca mendengar ucapan dari bu Maria.
"Memang nya Grace kemana mah? bukan nya Grace bersama mas Stev?" Tanya Raya dengan suara sedikit bergetar karena menahan tangisan nya.
__ADS_1
"Pagi itu ketika Grace tahu kamu pergi dari rumah, Grace membenci papah nya padahal Stev sudah bilang kalau kamu sedang ada kerjaan di luar kota, tapi Grace tidak mau tahu dan sampai saat ini Grace tidak mau melihat papah nya yang sedang terbaring di kamar nya, padahal Stev saat ini butuh semangat dan belaian seseorang yang sangat berarti di dalam hidup nya."
Sakit hati Raya membayangkan Steven harus menahan sakit sendirian.
"Sudah lah kak, turunkan ego kakak sedikit, apalagi kakak sedang mengandung anak nya kakak ipar, jangan sampai keegoisan kakak akan membuat semua nya hancur berantakan, dan lagian juga anak kakak sangat membutuhkan sosok seorang ayah." Ucap Farah ikut bicara.
Raya terdiam, dia mencerna dan berpikir dengan apa yang di ucapkan ibu mertua dan adik nya.
"Baiklah mah, aku akan kembali ke rumah, tapi aku minta maaf kalau aku belum bisa memaafkan kelakuan bodoh mas Stev." Akhir nya Raya mau kembali ke rumah besar nya pak Agam.
"Benarkah nak? Ngga apa-apa kamu belum mau memaafkan Stev, asal kan kamu mau tinggal kembali di rumah kita semua sudah bahagia." Ucap bu Maria sambil menghapus air mata nya, ini awal yang baik buat mereka menuju saling memaafkan.
"Terima kasih kak, kakak sudah mau menurunkan ego kakak walau hanya seujung kuku saja." Ucap Farah sedikit mencairkan suasana.
"Kamu ya dek, kecil amat cuma seujung kuku saja, kenapa ngga sekalian aja seujung jarum." Ucap Raya sambil merenggut.
Bu Maria tersenyum melihat interaksi kedua adik kakak tersebut.
"Ya ampun sebentar lagi Grace pulang, bagaimana kalau kita bertiga menjemput nya, pasti Grace sangat senang." Ucap bu Maria sambil menatap jam yang ada di ponesel nya.
"Ayo." Jawab Raya dan Farah seacra bersamaan.
Mereka bertiga dengan perasaan yang bahagia keluar dari rumah sakit dan menuju parkiran, bu Maria ikut di dalam mobil nya Raya, dan menyuruh pulang sopir nya, bu Maria ingin sedikit demi sedikit meluluhkan hati Raya agar Raya mau membuka pintu maaf nya untuk Steven.
__ADS_1
Kini mereka sudah berada di depan sekolah Grace, terlihat Grace keluar dengan wajah yang lesu.
"Sayang."