
"Mas, apa ngga apa-apa kita meninggalkan Farah, aku takut pas Farah sadar dan membutuhkan sesuatu ngga ada yang membantu nya." Ucap Raya yang kini sudah berada di dalam mobil suami nya.
"Percaya sama mas, apa kamu tidak menyadari nya kalau dokter Arif itu menyukai Farah?" Tanya Steven sambil fokus mengemudi.
"Aku juga menyadari nya sih mas, tapi kan mereka belum resmi menjadi pasangan."
"Justru saat ini adalah waktu yang tepat untuk kedua nya tambah dekat dan lebih saling mengenal lagi, coba kamu bayangkan kalau seandainya ada kita di sana, dokter Arif pasti merasa canggung karena ada kita."
"Iya juga ya mas, ya sudah lah kalau ada apa-apa juga dokter Arif pasti menghubungi mamah atau mas."
"Nah gitu dong, lebih baik sekarang kamu cepat membuat Gustav untuk tidur lalu siap-siap melayani mas." Ucap Steven dengan bibir tersenyum.
Raya hanya rtersenyum sambil menggelengkan kepala nya.
"Ya sudah ayo turun, kita sudah sampai sayang." Ucap Steven lalu membuka pintu mobil nya.
*******
Dokter Arif menunggu Farah dan kini dia duduk di samping nya Farah yang sedang tertidur.
Raya sudah pulang dengan Steven, dan besok pagi mereka akan kembali ke rumah sakit.
Dokter Arif terus menatap wajah Farah yang sudah tidak pucat lagi, dengan perlahan tangan nya menggenggam tangan Farah.
"Kamu wanita hebat, kamu wanita kuat, jadi aku mohon kamu cepat sadar dan menganggu aku lagi, kalau kamu diam dunia sepi, kamu itu bawel dan cerewet, tapi entah kenapa hati ku sangat senang bila kamu melakukan kan hal yang konyol, hidup ku terasa berwarna dan tidak sepi lagi." Gumam dokter Arif sambil menggenggam erat tangan Farah.
"Ku akui aku ngga bisa bersikap romantis dan hati ku sudah beku untuk yang nama nya wanita, tapi semenjak bertemu dengan kamu, sedikit demi sedikit hati ini mulai mencair."
Dokter Arif merasa dirinya sudah nyaman dengan keberadaan Farah, jadi melihat Farah yang tidur seperti sekarang membuat dirinya merasa kehilangan.
Hari semakin malam, dokter Arif pun terlihat sudah ngantuk sekali, dokter Arif menelungkupkan kepala nya di atas sebelah tangan kiri karena tangan yang sebelah kanan lagi menggenggam tangan nya Farah.
Tanpa terasa dokter Arif pun tertidur sambil duduk dan genggaman nya tidak lepas sama sekali.
Pagi buta Farah mulai mengerjapkan kedua mata nya, Farah merasa tangan nya sedang di genggam seseorang.
Pertama yang dia lihat langit-langit yang berwarna putih, lalu Farah melihat ke arah sekitar, terlihat cairan infusan yang menggantung di sebelah kiri nya.
__ADS_1
"Kenapa aku ada di sini." Gumam bathin Farah sambil terus melihat ke arah sekitar.
Farah melihat kearah sebelah kanan, sungguh dirinya kaget begitu melihat ada sosok seorang pria yang tertidur sambil menggenggam tangan nya.
"Dokter tampan." Gumam Farah pelan, bibir nya tersenyum melihat dokter Arif yang setia menemani dirinya.
"Pasti dokter tampan juga menyukai aku, kalau tidak untuk apa dia mau menemani aku di sini dan rela tidur sambil duduk seperti itu." Gumam bathin Farah.
Tangan yang terpasang jarum infus membelai pelan kepala dokter Arif.
"Tidur yang nyenyak dokter, jangan lupa mimpikan aku ya." Gumam Farah pelan.
Farah tidak berani melepaskan genggaman tangan dokter Arif, dirinya tidak mau menggangu tidur dokter Arif.
Farah kembali memejamkan kedua mata nya, dia pun tertidur kembali dengan bibir tersenyum.
Hati nya sangat bahagia ketika melihat pria pujaan nya sedang menemani nya di rumah sakit.
Di kediaman pak Agam, pagi-pagi Raya sudah sibuk mempersiapkan baju dan makanan untuk sarapan Farah dan dokter Arif di rumah sakit, Raya tahu kalau adik nya itu tidak suka makanan yang ada di rumah sakit.
"Mas sibuk ngga hari ini, kalau ngga, antar aku dulu ya ke rumah sakit." Ucap Raya.
"Mamah, aunty memang nya sakit apa?" Tanya Grace.
"Aunty hanya keapean sayang, makanya kamu jangan terlalu capek ya? Kamu jangan banyak main." Jawab Raya.
"Pulang sekolah aku mau nengok aunty boleh ngga mah?"
"Kita lihat nanti saja ya sayang, soalnya kalau aunty nya sudah sadar dan fresh aunty hari ini juga bisa pulang ke rumah." Grace mengangguk tanda mengerti.
"Terus acara minggu depan gimana?" Tanya bu Maria.
"Oh iya mah sampai lupa aku, ya mudah-mudahan Farah hari ini bisa pulang, jadi nanti kita tinggal fokus ke acara.
"Gustav sama mamah saja, kalau kamu mau ke rumah sakit."
"Iya mah, maaf ya mah ngerepotin terus." Raya merasa ngga enak karena dari semalam mertua nya menjaga Gustav terus.
__ADS_1
"Ngga ada kata merepotkan, Gustav juga cucu mamah, jadi sudah kewajiban mamah untuk menjaga nya."
"Terima kasih mah." Ucap Raya sambil menatap bu Maria.
"Ya sudah kita berangkat sekalian ngantar Grace dulu ke sekolah." Ucap Steven.
"Iya mas, ayo nak sudah siap belum."
"Sudah mah, asyik Grace diantar papah sama mamah." Ucap Grace dengan senang.
"Maaf kan mamah ya sayang, mamah baru smepat mengantarkan kamu ke sekolah."
"Ngga apa-apa mah, lagian aku juga sudah besar, aku sudah bisa sendiri." Jawab Grace.
Mereka bertiga pun pamit kepada bu Maria dan pak Agam, sebelum pergi mereka selalu mencium seluruh wajah Gustav yang selalu bikin gemes.
Sebelum mengantarkan istri nya ke rumah sakit, Steven mengantarkan Grace ke sekolahan dulu.
"Belajar yang rajin ya sayang, nanti siang di jemput sama pak sopir saja ya." Ucap Raya lalu mencium wajah Grace.
"Iya mamah, aku masuk dulu ya pah, mah." Grace pun masuk ke dalam kelas nya setelah mencium telapak tangan Steven dan Raya.
Kini tinggal Raya sama Steven berdua di dalam mobil manuju rumah sakit.
Tidak membutuhkan waktu yang lama mobil Steven pun kini sudah masuk ke pelataran parkir rumah sakit.
Raya berjalan sambil menggandeng tangan suami nya, sedangkan Steven membawakan papar bag yang berisi baju Farah.
Raya dan Steven terus melangkah menuju ruangan Farah.
Dengan perlahan Farah membuka pintu ruangan, terlihat Farah yang masih tidur di temani oleh dokter Arif.
"Sayang kamu lihat kan mereka berdua, kalau begitu kamu sudah ngga perlu khawatir lagi, Farah sudah berada di tangan yang tepat."
"Kamu benar mas, ya sudah kalau gitu aku balik lagi aja, mas kalau mau ke kantor pergi saja, aku pulang naik taxi saja."
"Ngga, mas antar kamu pulang, mas ngga mau kamu pulang sendiri, apalagi sopir taxi sekarang pada masih muda."
__ADS_1
Steven ngga rela kalau Raya pulang naik taxi yang di dalam nya hanya ada sopir taxi dan istri nya saja.