
Dokter Arif pergi setelah pamitan kepada bu Maria dan dia tidak melirik sama sekali kepada Farah membuat Farah kesal.
"So kegantengan, lihat saja ya dokter es, jangan panggil aku Farah kalau aku tidak bisa mendapatkan kamu." Gumam bathin Farah sambil mata nya terus menatap mobil Arif yang mulai menjauh.
"Dokter Arif itu usia nya beda satu tahun dengan Steven, dia dokter termuda dan sekaligus dokter terbaik di kota ini, padahal dia tampan dan karir nya pun sudah bagus, tapi entah kenapa dia belum mempunyai pendamping." Ucap bu Maria.
"Bagaimana mau mendapatkan pendamping bu, lihat saja gaya dan wajah nya itu, perempuan yang akan mendekati nya bakalan langsung kabur kalau melihat wajah es nya itu, senyum nya mahal seperti nya, aku heran kenapa dia bisa jadi seorang dokter, udah gitu dokter terbaik lagi, padahal ngga ada ramah-ramah nya sama sekali, kalau aku sakit aku malas banget untuk berobat sama dokter itu." Ucap Farah, bu Maria tersenyum mendengar ucapan Farah.
"Seperti nya kamu dan nak Arif cocok, mau ngga ibu jodohkan dengan nya?"
"Mau bu, eh, ngga lah seperti nya juga tuh dokter ngga doyan sama perempuan." Begitulah Farah yang suka asal bicara.
"Kamu ini, nak, apa kakak kamu sama kamu? Kalau benar suruh dia pulang, Steven sakit dan Grace sedih karena di tinggalkan nya." Ucap Bu Maria dengan wajah sedih nya.
"Kak Steven sakit apa bu?" Tanya Farah.
"Ya sudah kita masuk dulu, kita bicara di dalam." Bu Maria mengajak Farah masuk dan duduk di ruang tamu.
Bu Maria menceritakan semua yang sudah terjadi kepada Steven dan Raya, tidak ada yang di tutup-tutupi nya.
Sebenar nya Farah sudah tahu dari kakak nya, tapi Raya yang bercita-cita menjadi seorang pengacara dengan sabar mendengarkan semua cerita dari bu Maria, Farah ingin membuktikan ucapan kakak nya dengan ibu Maria itu sama atau tidak.
"Begitulah nak cerita nya, ibu sebagai orang tua nya Steven, minta maaf yang sebesar-besar nya karena kelakuan anak ibu kakak kamu pergi dari rumah ini." Bu Maria mengusap air mata nya yang kembali menetes.
"Sabar ya bu, ibu jangan terlalu banyak pikiran, kak Raya dalam keadaan baik-baik saja, tapi mungkin kakak ingin menenangkan hati dan pikiran nya dulu, saya juga minta maaf karena kakak sudah pergi dari rumah ini tanpa pamit kepada ibu dan bapak."
"Nak, panggil kami berdua papah dan mamah seperti kakak kamu ya? ibu akan merasa bahagia karena kini mempunyai dua anak perempuan yang sangat cantik-cantik."
"Tapi bu."
"Ngga ada penolakan,"
Farah pasrah dan mengubah panggilan nya, "Baiklah mah, boleh aku melihat kak Steven?" Farah penasaran dengan kondisi kakak ipar nya itu.
__ADS_1
"Tentu saja nak, ayo." Bu Maria mengajak Farah menuju kamar nya Steven.
"Grace kemana mah?" Tanya Farah sambil melirik pintu kamar Grace yang tertutup dengan rapat.
"Ada di kamar nya, dia sedih karena Raya pergi, tapi Grace tahu nya kalau Raya sedang melakukan pekerjaan nya di luar kota." Jawab bu Maria sambil membuka pintu kamar nya Steven.
Terlihat kondisi Steven dengan wajah pucat dan sangat lemah.
"Jadi kak Steven ini sakit apa mah?" Tanya Farah sambil menatap sedih wajah Steven yang pucat.
"Entahlah nak, dokter Arif saja bingung tadi, makanya dokter Arif menyuruh mamah membawa Steven ke rumah sakit untuk cek lab." Jawab bu Maria.
"Kalau begitu segera bawa mah, kasihan kak Steven, dia butuh cairan agar wajah nya tidak pucat seperti ini." Farah merasa kasihan dengan kakak ipar nya itu.
"Iya nak, ini mamah juga mau pergi ke rumah sakit."
"Ya sudah sekarang kita bawa kak Steven mah." Ajak Farah dengan serius.
"Grace pasti tidak akan mau ikut nak, soalnya dia lagi marah sama ayah nya."
"Benarkah nak? Kalau begitu mamah akan siap-siap dulu mamah titip Steven sebentar." Bu Maria pergi setelah melihat sebuah angguk kan dari Farah.
Farah menatap wajah Steven lalu mengambil gambar nya buat bukti untuk sang kakak.
"Sayang," Gumam Steven sambil mengerjapkan kedua mata nya.
"Aku Farah kak, apa yang kakak rasakan sekarang?" Ucap Farah sambil mendekati Steven.
"Farah, kamu sama Raya kan?" Tanya Steven sambil melihat ke sekitar kamar nya.
"Tidak kak, aku kesini juga tadi nya ingin bertemu dengan kak Raya, tapi kata mamah kakak sudah pergi dari rumah ini." Farah sengaja berbohong, dirinya masih belum bia membuktikan kalau Steven bersalah atau tidak nya.
"Maaf kan kakak Farah, tolong kamu cari Raya, aku nginmembuktikan sesuatu kepada nya." Ucap Steven dengan nada lemah nya.
__ADS_1
"Bukti? Bukti apaan?" Farah purta-pura belum mengerti dengan ucapan Steven.
"Bukti kalau kakak di jebak, tolong ambilkan ponsel nya." Steven menunjuk ponsel nya yang dia simpan di atas meja.
Farah yang mengerti langsung mengambilkan ponsel Steven dan memberikan nya.
Steven membuka dan mencari rekaman suar Bianca dan dirinya.
"Dengarkan ini." Steven memberikan ponsel nya kepada Farah.
Farah menerima nya lalu dengan serius mendengarkan semua percakapan yang ada di dalam rekaman tersebut dari awal hingga selesai.
"Bolehkan aku mengirim nya ke ponselku?" Farah ingin memberikan nya kepada Raya.
"Silahkan, tolong kalau kamu bertemu dengan Raya berikan rekaman ini, dan sampaikan rasa penyesalan kakak." Terlihat oleh Farah kedua mata Steven merah karena menahan tangis nya.
"Baik kak, nanti Farah bantu." Jawab Farah sambil memberikan kembali ponsel Steven setelah mengirimkan rekaman nya ke no dia sendiri
"Ayo pak masuk saja bantu saya membawa Steven." Ucapan bu Maria membuat Steven dan Farah menatap pintu.
"Syukurlah kamu sudah bangun, ayo kita perg ke rumah sakit." Ajak bu Maria yang sudah rapih.
"Tapi aku hanya masuk angin saja mah, nanti juga smebuh."
"Tidak, mamah ingin tahu jelas dengan penyakit kamu, ayo pak bawa dia ke mobil." Bu Maria memerintahkan sopir nya untuk membawa Steven.
Steven pasrah dan mau mengikuti keinginan ibu nya, sedang kan Farah memilih untuk menemani Grace.
Setelah kepergian bu Maria dan Steven yang pergi ke rumah sakit, Farah menemui Grace yang sedang di dalam kamar nya.
Farah mempunyai ide untuk mempertemukan Grace dengan Raya, dengan senyuman yang mengembang Farah melangkah menuju kamar nya Grace.
Dengan perlahan Farah membuka pintu kamar Grace yang tidak pernah di kunci itu.
__ADS_1
Grace yang sedang memeluk guling nya langsung menatap ke arah pintu.
"Aunty." Teriak Grace dengan air mata yang kembali memabasahi pipi nya.