
Wanita itu terus saja mencium dan meraba tubuh Steven dengan tanpa ada rasa malu.
Sejenak Steven terbuai dengan segala sentuhan dari wanita yang dulu ia cintai, tapi bayangan Raya terlintas di benak nya hingga Steven dengan kasar melepaskan tangan wanita itu.
"Lepaskan, aku kesini hanya mau menjemput Grace, dimana Grace?" tanya Steven sambil menjauhkan tangan wanita itu dari tubuh nya.
"Sayang please, sudah lama kita tidak melakukan nya, untuk malam ini sekali saja kita melakukan nya." Wanita itu kembali menyentuh tubuh di bagian sensitive Steven.
"Tidak Brenda, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, ingat itu." Ucap Steven dan kembali tangan nya menepis tangan wanita itu.
"Ternyata kamu dengan mudah nya melupakan semua kenangan kita, aku kembali hanya untuk kamu dan Grace, oh iya Grace sudah sembuh ternyata, makasih ya mas kamu sudah menyembuhkan Grace anak kita, maaf kan sikap ku yang dulu, dulu aku di butakan dengan karir, tapi sekarang aku sadar kalau kamu dan Grace adalah separuh hidup ku, dan selama aku jauh dari kalian, aku selalu merasa separuh jiwa ku itu pergi, setiap hari aku menangis karena aku merindukan kalian berdua." Wanita itu memulai drama nya di depan Steven.
"Kalau memang kamu merindukan aku dan Grace, kenapa kamu tidak kembali dan meminta maaf." Steven meatap nya dengan tajam.
"Itu sudah pernah aku lakukan mas, tapi mamah sama papah kamu dengan kasar menyeret dan mengusir aku, padahal aku sudah memohon sampai aku bersujud di hadapan mereka, tapi mereka tidak mau perduli dan tetap mengusir aku." Wanita itu mulai mengeluarkan air mata buaya nya di depan Steven.
Wanita itu memeluk Steven sambil menangis, hingga tangan Steven tanpa sadar membelai kepala nya.
Steven terdiam dan terus mendengarkan ucapan dari wanita yang sangat ia cinta di waktu dulu.
"Apa benar dengan semua yang di ucapkan Brenda." Gumam bathin Steven dengan ke dua matanya masih menatap wanita yang ada di dalam pelukan nya.
"Ayolah sayang, percaya saja sama ucapan aku, aku akan membuat kamu lebih percaya sama aku di banding keluarga kamu." Bathin wanita itu sambil mngusap asir mata nya.
Wanita itu menatap wajah tampan Steven dengan mata yang masih berlinang dengan air mata buaya nya.
__ADS_1
Wanita itu terus memainkan bibir nya di hadapan Steven membuat Steven mendekatkan wajah nya dan mencium bibir nya sebentar.
Wanita itu menyentuh bibir Steven dengan lembut dan turun ke dagu hingga tangan nya dia lingkarkan ke leher Steven.
Dengan kaki yang berjinjit wanita itu meraup bibir Steven, dia terus memainkan bibir nya.
Steven yang hanya diam lama-lama terpancing dan membalas semua gerakan bibir wanita itu, hingga terjadilah ciuman yang sangat panas di antara mereka sampai wanita itu kehabisan nafas dan melepaskan pagutan dengan sendiri nya.
"Duduk saja dulu mas, sebentar aku ambilkan minum." Wanita itu mengambil gelas yang sudah dia campur dengan obat tidur.
Steven duduk dan kembali termenung, "Ngga, ngga mungkin papah dan mamah seperti itu, selama ini papah sama mamah tidak pernah kasar meskipun mamah tidak suka dengan orang." Steven masih memikirkan semua ucapan wanita itu.
"Setelah malam ini, aku pastikan rumah tangga kalian hancur, dan istri mu akan marah besar dan meninggalkan kamu selama nya." Wanita itu tersenyum dengan kaki terus melangkah menghampiri Steven yang masih duduk di atas sofa.
Steven yang masih memikirkan semua ucapan wanita itu meraih gelas lalu menenggak nya sampai habis, wanita yang berada di samping nya tersenyum penuh dengan kemenangan.
"Apa mas mau melihat Grace." Ajak wanita itu dengan senyum palsu nya.
Wanita itu menarik tangan Steven untuk melihat Grace yang sedang tidur nyenyak di dalam kamar, sedangkan Steven hanya diam dan mengikuti wanita itu.
Wanita itu membuka pintu kamar dan terlihat Grace yang sedang tidur dengan nyenyak.
Steven menghampiri Grace lalu mencium kening dan menutup tubuh Grace dengan selimut.
"Nyenyak sekali kamu tidur nya sayang, papah jadi ngga tega membawa kamu pulang malam ini." Gumam bathin Steven
__ADS_1
"Jadi bagaimana mas, bolehkan kalau Grace tidur di sini dulu bersama aku, walau bagaimana pun aku ini ibu kandung nya, mas masih ingat kan sewaktu kita membuat Grace, dengan penuh cinta kita melakukan nya di berbagai tempat, mas selalu meminta nya kapan saja mas mau, dan aku selalu siap melayani mas sampai mas puas." Wanita itu mengingatkan Steven kepada masa lalu yang penuh dengan cinta.
Terlihat Steven menguap, efek dari obat yang di campur ke dalam minuman sudah mulai bekerja.
"Seperti nya mas juga kelelahan, lebih baik mas tidur di sini juga bersama Grace, bahaya bawa mobil dalam keadaan ngantuk." Wanita itu tersenyum bahagia melihat target nya sudah dalam genggaman.
"Tapi aku sudah di tunggu sama Raya di rumah." Mata Steven sangat berat dan ingin segera tidur.
"Mas, pikirkan keselamatan, kalau mas mengendarai mobil dalam keadaan begini sangat bahay, sudah lah mas lebih baik tidur di sini dengan kit." Wanita itu memeluk tubuh Steven dan membawa nya ke kamar sebelah.
Wanita itu memang sengaja membeli apartemen yang kamar nya ada dua, karena untuk memudah kan rencana nya.
Dengan susah payah wanita itu membawa Steven dan kini tubuh Steven sudah ia baringkan di atas kasur.
"Akhir nya, malam ini milik aku seorang, dan besok pasti akan ada perang dunia dengan istri kamu mas."
Satu persatu yang melekat di tubuh Steven dia lepaskan hingga yang tersisa hanya ****** ***** Steven saja.
Dengan bibir tersenyum dia terus meraba dan mencium tubuh Steven hingga ada beberapa tanda di dada dan di leher Steven, sedangkan Steven diam tidak bergerak karena memang pengaruh obat yang sangat kuat hingga membuat dirinya benar-benar tidak merasakan apapun, bahkan suara ponsel nya yang berbunyi nyaring pun tidak terdengar oleh Steven.
Wanita itu melihat nama di layar ponsel Steven dan membaca nya.
"Istriku." nama yang tertera di ponsel Steven.
Wanita itu bukan nya menerima panggilan dari Raya, tapi dia malah melepaskan semua yang menempel pada tubuh nya hingga dia tidak mengenakan apapun dan masuk ke dalam selimut bersama Steven.
__ADS_1