
Dua hari berlalu, keluarga Raya sudah kembali ke kampung nya, Steven dan Raya sudah mulai masuk kerja, kado ulang tahun Grace dari semua orang sudah mereka buka satu persatu membuat Grace sangat bahagia karena banyak hadiah yang dia dapatkan.
Steven memberikan boneka yang di beli bersama Selena, tapi Grace sangat bahagia dengan kado yang kini menjadi ibu sambung nya.
Pagi ini Raya mulai di sibuk kan dengan tugas sebagai istri dan sebagai ibu buat Grace.
Setelah menyiapkan baju kerja suami nya, Raya pergi dan masuk ke kamar Grace, dengan penuh kelembutan Raya membangunkan Grace.
"Sayang, bangun yuk, hari ini kamu masuk sekolah kan?" Raya mencium seluruh wajah Grace.
Grace yang merasa di banjiri ciuman di wajah nya pun membuka kedua mata nya.
"Pagi mamah sayang." Grace mencium balik pipi Raya.
"Ayo bangun mandi, nanti mamah antar pergi sekolah." Raya menarik dan memeluk Grace dengan lembut.
"Beneran mah? Asik akhir nya aku bisa merasakan diantar sekolah sama seorang ibu." Begitu bahagia nya Grace ketika dirinya mendengar akan diantar sekolah oleh Raya.
Raya tersenyum dan mengangguk melihat wajah berbinar Grace, "Begitu bahagia nya kamu sayang."
Grace langsung berlari ke kamar mandi di ikuti Raya, dengan telaten Raya memandikan Grace.
Pagi ini Grace sangat bahagia sekali, senyum di bibir nya tidak pernah luntur.
"Mamah, adek bayi nya sudah jadi belum?" Pertanyaan Grace membuat Raya kaget dan tersedak oleh air liur nya sendiri.
"Sayang sudah hampir terlambat, ayo sudah mandi nya." Raya mengalihkan pertanyaan Grace.
Raya langsung memakaikan seragam dan menguncir rambut Grace dengan rapih.
Steven melihat ke sekeliling kamar mencari sosok Raya, tapi dirinya tidak melihat nya yang dia lihat hanya baju kerja yang sudah Raya siapkan di atas tempat tidur.
"Kemana dia." Gumam Steven sambil mengambil baju yang sudah di siapkan Raya.
Steven sudah mulai nyaman dengan keberadaan Raya, bibir nya sedikit tersenyum di kala dia memakai kan jas nya.
__ADS_1
Setelah serasa sudah siap, Steven keluar kamar dengan maksud mau mencari Raya, tapi ketika melewati kamar Grace samar-samar Steven mendengar suara dua wanita yang sedang berbicara.
Dengan perlahan Steven mendekati pintu kamar Grace, pintu kamar yang sedikit terbuka memudahkan Steven melihat kedua nya.
Terlihat oleh kedua mata Steven, Raya yang sedang menguncir rambut Grace, gerakan tangan Raya yang lembut membuat Steven sedikit terpana.
"Tenyata dia di sini, tangan nya terlihat lembut dan seperti nya sangat sayang banget sama Grace." Steven mengakui nya di salam hati.
Tapi seketika Steven merubah pengakuan nya, "Tidak! Dia melakukan nya karena ini baru awal saja, setelah satu bulan pasti akan kelihatan sifat asli nya." Steven pergi menjauh dari kamar Grace.
"Selesai, kamu sangat cantik sayang." Raya mencium gemas pipi Grace.
"Mamah sudah dong jangan cium Grace terus, nanti lipstik mamah nempel di pipi Grace." Raya pun hanya tersenyum.
"Ya sudah ayo kita sarapan." Dengan sebelah tangan menggandeng tangan Grace dan sebelah tangan nya lagi memegang tas kerja, Raya mengajak Grace untuk sarapan.
Terlihat di meja makan sudah duduk Steven dan kedua orang tua nya.
"Pagi pak, bu." sapa Raya dengan sopan.
"Pagi juga nak, kalau bisa mulai sekarang kamu panggil kami ini papah dan mamah juga seperti Steven, kamu sudah menjadi anggota keluarga ini, kamu sudah kami anggap seperti anak kami sendiri." Ucapan pak Agam membuat hati Raya senang tapi tidak dengan Steven.
"Sayang, makan sendiri jangan di suapin sama mamah, kamu kan sudah besar apalagi sebentar lagi kamu akan punya adik bayi." Ucapan bu Maria membuat Steven langsung tersedak.
Dengan sigap Raya memberikan minum kepada Steven.
Semua kelakuan Raya menjadi perhatian pak Agsm dan bu Maria.
"Ibu tidak salah pilih, Raya memang orang baik yang akan menjadi pendamping kamu dan juga menjadi ibu sambung buat Grace." Bathin bu Maria dengan bibir tersenyum.
"Ngga salah papah membuat kamu menikahi nya, dia wanita baik, sopan dan sangat menyayangi kalian berdua." Bathin pak Agam sambil menatap kepada Raya.
"Kamu sangat cantik sayang, pasti mamah Raya yang membuat kamu jadi lebih cantik dari kemarin." Bu Maria memuji Grace yang memang pagi ini berpenampilan berbeda dari hari biasa nya.
"Iya nek, semua ini mamah Raya yang melakukan nya." Ucap Grace dengan wajah yang sangat berbinar.
__ADS_1
Pak Agam dan bu Maria tersenyum sambil saling menatap.
Mereka sarapan dengan tenang hingga sarapan sudah habis di piring mereka masing-masig.
"Baiklah papah berangkat dulu ya sayang." Ucap Steven sambil berdiri dari kursi nya.
"Iya papah, Grace berangkat bareng mamah aja." jawab Grace.
"Baiklah kalau begitu papah duluan." Steven melirik Raya dengan sudut mata nya.
Dengan sigap Raya mengulurkan tangan nya, Steven yang mengerti menerima uluran tangan nya, terasa lembut di telapak tangan Steven yang terkena bibir Raya.
Hati Steven sedikit tenang dan merasa bahagia dirinya di perlakukan seperti itu oleh Raya, padahal dirinya masih memberikan sikap yang dingin.
"Hati-hati di jalan pak." Pesan Raya yang terdengar oleh kedua orang tua Steven.
"Apa! Sudah mau empat hari kalian menikah, jadi kamu masih memanggil dia dengan panggilan pak?" tanya bu Maria dengan wajha kaget.
Raya merasa malu dan bingung harus memanggil Steven dengan panggilan apa.
"Maaf bu, saya belum terbiasa." ucap Raya sambil menunduk.
"Rubah panggilan kamu nak, bagaimanapun Steven sekarang adalah suami kamu." Ucap pak Agam.
"Baik pak, mulai saat ini saya akan merubah panggilan."
Steven masih berdiri karena dirinya juga ingin mendengar Raya memanggil nya dengan panggilan yang baru.
"Hati-hati di jalan mas." Dengan wajah yang sudah berubah menjadi merah Raya mengulang ucapan nya.
Steven hanya mengangguk lalu pergi dari ruang makan, tanpa di sadari semua nya bibir Steven sedikit tersenyum begitu dirinya mendengar kata mas dari bibir Raya.
"Ya sudah nak, ayo sekarang kita berangkat, mamah takut terlambat." Ajak Raya sambil berdiri.
"Pah, mah, kita berdua berangkat dulu." Izin Raya lalu mencium telapak tangan pak Agam dan bu Maria di ikuti oleh Grace.
__ADS_1
"Baiklah nak, hati-hati di jalan jangan ngebut." pesan bu Maria.
"Jangan takut kesiangan nak, pak Hendrik tidak akan memarahi kamu, kalau dia marah nanti papah putus hubungan kerja nya." Ucap ak Agam bercanda, Raya hanya tersenyum dan mengangguk lalu pergi meninggalkan pak Agam dan bu Maria yang sedang tersenyum sambil menatap mereka berdua.