
Steven dan Raya kini sudah rapih dengan pakaian mereka dan bersiap untuk pergi ke sekolahan Grace, mereka ingin memberikan surprise buat Grace
"Sayang, bisa ngga jangan terlalu merah bibir nya." Selalu ada protes dari Steven untuk Raya.
"Mas, apa mas tidak lihat, aku pakai lipstik nya tipis begini." Raya kesal dengan segala protes dari Steven.
"Kalau begitu kamu ngga usah pakai lipstik aja." Dengan enteng nya Steven bicara.
"Ya sudah kalau begitu aku ngga jemput Grace, aku mau tidur saja." Raya bangun dari duduk nya.
"Sayang, segitu aja ngambek, ya sudah ayo kita berangkat." Steven langsung menarik tangan Raya dan membawa nya pergi keluar kamar.
Tangan Steven tidak lepas dari pinggang Raya membuat bi Siti yang tahu cerita mereka berdua ikut tersenyum melihat nya.
"Semoga den Steven dan nona Raya selalu bahagia dan cepat di berikan keturunan." Bathin bi Siti sambil menatap punggung mereka berdua.
Bibir Steven terus tersenyum dan sesekali melirik ke arah Raya yang sedang duduk di samping nya.
Sebelah tangan memegang kemudi sedangkan sebelah tangan nya lagi menggenggam tangan Raya, mereka berdua kini seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.
"Sayang, kamu harus segera menyiapkan surat pengunduran diri kamu sama pak Hendrik, aku ngga mau kamu bekerja, kamu cukup duduk manis di rumah dan biarkan aku yang bekerja." Steven ngga mau kalau Raya ikut bekerja seperti dirinya.
"Tapi mas,"
"Tidak ada tapi-tapian, aku tidak mengizinkan nya." Jawaban Steven membuat Raya kesal.
"Melarang kerja tapi ngga kasih duit." Gumam Raya yang masih bisa terdengar dengan sangat jelas di telinga Steven.
Steven tersenyum lalu memberikan satu buah kartu ATM yang berwarna hitam kepada Raya.
"Ini milikmu, terserah mau kamu gunakan untuk apa, pin nya bulan dan tahun pernikahan kita." Raya tersenyum dan mengambil kartu nya.
__ADS_1
"Terima kasih mas, tapi aku kerja nya satu bulan lagi ya?" setelah itu aku janji aku akan mengundurkan diri." Raya mencoba memberikan penawaran.
"Satu minggu, tidak ada penawaran lagi, karena aku ingin kamu pokus kepada aku dan Grace terutama pada calon buah hati kita." Steven mengusap lembut perut Raya.
Raya tersenyum dan menatap suami nya yang sedang mengemudi. "Apa mas berharap aku mengandung secepat ini?" Raya ingin memastikan suami nya.
"Ya, mas ingin mempunyai anak dari kamu, dan mas berharap anak kita nanti seorang jagoan yang akan melindungi kakak dan adik-adik nya." Ucap Steven lalu mencium telapak tangan Raya.
Betapa bahagia hati Raya saat ini, dirinya begitu sangat di cintai Steven suami nya, dan Raya berjanji dalam hati kalau dirinya akan segera mewujudkan keinginan suami nya itu.
Mobil masuk ke pelataran parkir, mereka menunggu Grace keluar dari dalam kelas.
Sebelum mereka datang ke sekolahan Grace, mereka sudah memberitahu bu Maria kalau mereka akan menjemput Grace, jadi bu Maria kembali ke rumah nya dengan pak Rahmat sopir pribadi nya.
"Mereka sudah keluar sayang, ayo kita turun." ajak Steven.
Raya dan Steven keluar dari mobil dan menghampiri kelas Grace, mereka berdua berdiri menunggu Grace keluar, betapa kaget campur bahagia nya hati Grace ketika keluar dari dalam kelas dirinya di sambut oleh papah dan mamah nya dengan sebuah senyuman.
"Papah, mamah." teriak Grace dengan wajah bahagia nya.
Grace berlari dan masuk ke dalam pelukan Steven, Raya hanya tersenyum melihat nya.
"Maafkan mamah ya sayang, pagi tadi tidak membantumu menyiapkan semua nya." ucap Raya lalu mencium pipi Grace, begitu Raya mau mencium pipi Grace yang sebelah nya lagi Steven mengganti dengan pipi nya.
"Mas," Steven hanya tersenyum penuh dengan kemenangan.
"Mamah, sudah jadi belum adik bayi nya?" tanya Grace dengan wajah polos nya.
Raya dan Steven saling menatap, "Sabar ya nak, sebentar lagi adik bayi pasti hadir di dalam perut mamah kamu." Ucap Steven lalu mencium pipi Grace.
"Mas, kita makan siang di cafe saja ya? Kalau langsung pulang ke rumah aku takut Grace telat makan."
__ADS_1
"Baiklah, kita makan di cafe ya sayang." Steven dan Raya masuk ke dalam mobil, Grace duduk di pangkuan Raya, Grace bermanja-manja kepada Raya, mereka berdua bercanda, gelak tawa kedua nya membuat hati Steven sangat bahagia.
Terlintas bayangan di benak Steven sewaktu dirinya dan Selena pergi keluar membawa Grace untuk makan siang, Grace terlihat tidak semangat, tapi dengan Raya, Grace terlihat sangat bersemangat dan sangat bahagia.
Mereka bertiga memasuki sebuah cafe dan duduk di kursi kosong, dengan wajah tersenyum Steven terus menatap Raya dan Grace.
"Mau pesan apa sayang?" tanya Steven sambil melihat-lihat buku menu yang di berikan pelayan cafe.
"Terserah kamu saja mas, apa pun yang kamu makan aku pasti memakan nya."
Steven memesan makanan untuk makan siang mereka, beberapa menu sudah di pesan oleh Steven.
Begitu bahagia hati Steven melihat pemandangan di depan nya, Raya yang dengan telaten memberikan Grace suapan demi suapan, Grace pun dengan sangat lahap menerima suapan dari tangan Raya.
"Jangan cuma Grace yang kamu suapin, kamu juga harus makan." Steven memberikan suapan kepada Raya.
Raya sedikit tertegun melihat kelakuan suami nya, dari awal menikah baru kali ini Steven memberikan suapan nya.
"Buka mulut nya sayang," Raya membuka mulut nya sambil menahan rasa malu karena dirinya merasa kalau pengunjung cafe sedang menatap nya.
"Sudah ah mas, malu di lihatin orang." Ucap Raya lalu mengunyah makanan nya.
"Mah, Grace sudah kenyang, tapi Grace mau ice cream boleh kan pah?" Grace dengan tatapan memohon nya meminta untuk di belikan ice cream.
"Baiklah sayang, papah pesan kan ice cream, tapi Grace jangan mengganggu mamah lagi makan ya?" Grace mengangguk tanda mengerti.
Steven langsung memesan ice cream kepada pelayan, dan dengan segera pelayan itu menyiapkan pesanan Steven.
Raya dan Steven menghabiskan makanan nya, sedangkan Grace menikmati ice cream yang sudah di pesan oleh papah nya.
"Mas, aku ke toilet dulu." Steven mengangguk, Raya pergi ke toilet setelah mendapatkan izin dari suami nya.
__ADS_1
Steven ikut makan ice cream Grace, mereka berdua terus bercanda merebutkan ice cream nya, dan tanpa di sadari Steven, mereka berdua sedang ada yang mengawasi nya dari meja yang berada di sudut cafe.
"Bukan kah itu mas Steven? Apa itu Grace?" Gumam seorang wanita yang sedang duduk dan menikmati makan siang nya.