
"Rupanya kamu lelah dan kekenyangan sayang, sampai tidur kamu nyenyak sekali." Gumam wanita itu yang sudah menghentikan mobil nya di parkiran.
Dengan terpaksa wanita itu menggendong Grace sampai ke kamar nya.
"Berat juga nih anak, kalau bukan karena misi ku, aku malas banget gendong kamu." Wanita itu terus berjalan dan naik lift untuk sampai ke kamar nya yang berada di lantai atas.
Dengan perlahan wanita itu membaringkan Grace di atas kasur milik nya.
Wanita itu tersenyum penuh dengan kemenangan sambil menatap Grace yang sudah terlelap.
"Tidurlah yang nyenyak sayang, besok pagi kamu akan melihat mamah sama papah sudah bersatu." Wanita itu keluar dan menutup pintu kamar nya.
Terdengar suara ponsel nya berbunyi dan segera mengambil dan membaca pesan yang ternyata dari Boy orang kepercayaan nya.
"Kamu memang bisa diandalkan Boy." Wanita itu tersenyum karena Boy sudah mendapatkan no ponsel Steven.
"Kamu pasti akan segera datang kemari sayang." Wanita itu langsung memanggil no yang di kirim Boy.
Terdengar Steven mengancam dari arah sana membuat wanita itu tersenyum.
"Grace memang sedang sama aku, kamu tenang saja, aku ngga bakalan ngapa-ngapain Grace, kalau kamu mau bertemu dengan Grace kamu harus datang sendiri, aku tidak mau ada yang mengganggu kita sayang, i love you." Wanita itu menutup panggilan nya sebelah pihak.
"Kamu pasti akan menghubungi aku lagi sayang." Wanita itu tersenyum penuh dengan kemenangan.
"Brengsek." Gumam Steven sambil menahan amarah nya.
"Mas, apa itu kabar dari Grace?" tanya Raya dengan mata yang masih menitikan aire mata.
Steven mendekati Raya dan duduk di samping nya, pak Agam dan bu Maria duduk didepan nya menunggu Steven membawa kabar tentang Grace.
"Sayang, kamu tenang ya? Aku akan menjemput Grace, barusan Brenda menghubungi mas, tapi mas harus pergi sendiri untuk membawa Grace."
"Aku ikut mas, aku ingin menjemput dan memastikan kalau Grace tidak kenapa-kenapa." Raya tidak bisa tenang kalau dirinya tidak ikut dengan Steven.
"Sayang, dengarkan aku, kamu sama mamah di sini ya, kalau kamu ikut justru mas takut Brenda berbuat sesuatu kepada Grace." Steven membujuk Raya agar tidak ikut dnegan nya.
__ADS_1
"Iya sayang, kamu tunggu di sini saja sama mamah, kamu percayakan semua nya kepada Steven." Bu Maria ikut membujuk Raya.
Raya menatap Steven, dia melihat senyuman dan anggukan dari Steven.
"Ya sudah aku tunggu di rumah, tapi mas harus cepat membawa pulang Grace."
"Iya sayang, mas akan langsung pulang dan memabwa Grace ke rumah ini, ke hadapan kamu." Steven mencium seluruh wajah Raya.
"Kamu hati-hati nak, pastikan Grace baik-baik saja." Ucap bu Maria.
"Aku pergi, aku titip Raya mah, pah."
"Apa papah temani kamu nak?' Pak Agam menawarkan diri untuk menemani Steven.
"Tidak usah pah, biar aku sendiri saja." Steven pergi meninggalkan mereka.
Bu Maria memeluk Raya, "Tenang ya nak, mamah yakin Steven bisa membawa Grace pulang dalam keadaan baik-baik saja." Raya mengangguk dalam pelukan bu Maria.
"Aku mau menunggu di dalam kamar saja mah." Ucap Raya sambil melepaskan pelukan nya.
"Tidak perlu mah, aku mau sendiri." Setelah mendapatkan izin dari pak Afgam dan bu Maria, Raya pergi ke kamar nya.
"Sungguh tulus rasa kasih sayang yang Raya berikan untuk cucu kita ya pah." Ucap bu Maria sambil menatap Raya yang sedang menapaki tangga satu per satu.
"Kita ngga salah pilih menjadikan dia sebagai menantu kita mah, sudahlah kita istirahat juga, semoga Steven membawa Grace pulang dengan cepat." Pak Agam mengajak bu Maria untukmasuk ke dalam kamar nya.
Bi Siti hanya menghembuskan nafas nya sambil melihat makanan yang sudah dia masak untuk makan malam, dan tidak ada yang menyentuh nya.
"Mungkin nanti malam mereka semua nya pada mau makan, semoga non Grace cepat kembali." Gumam bi Siti yang tidak sengaja mendengar obrolan mereka di ruang tamu.
******
Steven menghentikan mobil nya di pinggir jalan dan mengambil ponsel nya untuk menghubungi no wanita itu.
Dengan senyum penuh kemenangan wanita itu tersenyum sambil melihat dirinya di depan cermin, baju yang dia pakai sengaja pakaian yang sangat seksi bahkan hampir telanjang.
__ADS_1
"Kamu pasti akan tergoda melihat aku seperti ini mas Steven." Gumam dia sambil meliuk-liukan tubuh nya.
Terdengar suara ponsel nya berbunyi dan dengan senyuman yang lebar wanita itu menerima panggilan dari Steven.
"Halo sayang." tanpa rasa malu wanita itu terus memanggil Steven dangan panggilan sayang.
"Katakan, dimana kalian." Dengan ketus Steven bertanya.
"Ngga mesra banget sih mas, aturan kamu itu mesra karena kita sudah lama tidak bertemu." Ucap wanita itu dengan nada di buat-buat.
"Cepat katakan saja, dimana kalian berada." Steven tidak menghiraukan ucapan nya.
"Ya sudah, mas datang saja ke apartemen xxxx kamar no 526." Wanita itu tersenyum karena misi ke dua nya berhasil.
Steven langsung memutuskan pangilan nya ketika dirinya sudah mengetahui diman Grace berada.
Dengan kecepatan sedikit tinggi Steven menuju apartemen yang di bilang wanita itu.
Sedangkan wanita itu tersenyum lalu pergi menuju dapur dan menyiapkan segelas air minum dan mencampurkan obat tidur buat Steven.
"Mulai malam ini kamu akan bergantung kepadaku, dan aku akan membuat Grace membenci istri baru kamu itu." Gumam wanita itu sambil mengaduk obat nya dengan sendok.
Steven sampai di pelataran parkir apartemen tempat tinggal wanita itu, dengan tergesa-gesa Steven pergi menuju kamar yang di sebut wanita itu.
"Ini dia kamar nya." Steven menekan bel beberapa kali dan akhir nya pintu terbuka dan menampak kan wajah yang dulu ia cintai.
Steven sedikit terpana dengan tubuh wanita itu, bagaimana pun Steven laki-laki normal, tapi dengan sekuat tenaga Steven menahan nya.
"Akhir nya kamu datang juga sayang, aku sangat merindukan kamu." Wanita itu langsung memeluk erat tubuh Steven dan dengan sengaja dia sedikit menggesek kan dada nya ke dada Steven.
Sungguh keimanan Steven lagi di uji, wanita yang dulu sangat ia cintai kini hadir kembali di depan mata nya dengan penampilan yang sangat menggoda.
"Brenda lepaskan, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi." Steven berusaha melepaskan tangan wanita itu dari tubuh nya.
"Tidak mas, aku sangat merindukan kamu, dan biarkan untuk sebentar saja aku memeluk kamu, tubuh kamu yang selalu menjadi candu sudah lama aku tidak merasakan nya." Dengan tanpa tahu malu wanita itu mencium leher dan dada bagian atas Steven hingga meninggalkan noda lipstik dibaju nya.
__ADS_1