
Dengan muka bantal nya dokter Arif mengecek keadaan Farah.
"Harus nya sudah sadar, tapi kenapa belum bangun juga ya? Atau dia sudah sadar terus tertidur ya." Gumam dokter Arif.
"Ya sudah aku mau mandi dulu mumpung kamu nya masih tidur." Gumam dokter Arif lalu membalik kan tubuh nya untuk pergi ke ruangan nya sendiri.
"Pasti mbak Raya yang membawakan semua ini, kalau mbak Raya tadi kesini berarti dia melihat aku sedang_, ah kenapa aku sampai terlelap banget sih, sampai-sampai ngga dengar yang membuka pintu." Dokter Arif terus bergumam dan merutuki dirinya.
Sekuat tenaga Farah menahan tertawa nya, Farah sudah bangun sejak tadi tapi dirinya berpura-pura seolah-olah masih tertidur.
Dokter Arif melirik ke arah Farah kembali, "Farah, aku mandi dulu ya?" Ucap dokter Arif lalu pergi meninggalkan ruangan Farah.
Setelah mendengar suara pintu tertutup kembali, Farah langsung membuka kedua mata nya dan menatap ke arah pintu.
"Ternyata dokter tampan lucu juga ya." Gumam Farah sambil tersenyum.
"Pagi non Farah." Ucap salah satu suster yang baru masuk.
"Pagi sus."
"Bagaimana keadaan nya sekarang?" Tanya suster.
"Sudah lebih enakan sus, oh iya sus, aku kan ngga apa-apa dan kemarin hanya kecapean saja, bolehkan sekarang selang infus nya di lepas, soalnya aku ingin mandi ngga enak banget nih badan lengket." Ucap Farah.
"Ngga bisa non, soalnya belum ada instruksi dari dokter Arif."
"Ayolah suster yang cantik, bantu aku kenapa, masalah urusan dokter ARif nanti saya yang tanggung jawab."
"Oh iya non, maaf kalau sudah lancang, memang nya non ini siapa nya dokter Arif? Soalnya saya melihat kalau nona Farah ini seperti orang yang spesial buat dokter Arif sampai-sampai kemarin pas dokter Arif membawa nona kesini dia kelihatan sangat khawatir sekali."
"Benarkah sus?" Farah bukan nya menjawab, dia malah balik bertanya kepada suster.
Suster pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Sus, ayolah tolong bukain selang infus nya, suster ngga kasihan sama aku, aku jamin suster aman kok, kalau suster di marahin dokter Arif nanti saya yang akan balik marahin dokter Arif." Farah terus menerus merayu suster hingga suster menyetujui nya.
Suster yang terus menerus di rayu oleh Farah akhir nya luluh dan menuruti keinginan Farah.
__ADS_1
Farah tersenyum kemenangan, dia memang selalu bisa membuat hati orang luluh.
Farah langsung mandi dengan membawa semua perlengkapan yang di kirim kakak nya.
"Ah, kakak ku memang yang terbaik, pasti tadi kakak melihat dokter Arif yang sedang tidur sambil memegang tangan ku, makanya kakak langsung kembali dan tidak menunggu aku sampai aku bangun." Gumam Farah sambil membersihkan tubuh nya.
Pagi ini setelah istirahat semalaman dan masuk nya cairan infus, kini tubuh Farah menjadi lebih segar.
Farah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang benar-benar sudah fresh.
Farah memoles tipis wajah nya, kakak nya sangat mengerti sekali hingga keperluan dirinya di bawakan nya.
"Makasih kak, kakak memang kakak yang terbaik." Gumam Farah sambil merias diri nya.
Setelah di rasa cukup dengan penampilan nya, Farah pun pergi dan keluar dari ruangan nya.
Sebelum dokter Arif ke ruangan nya, dokter Arif pergi ke parkiran dimana dia selalu membawa baju ganti dan dia menyimpan nya di dalam mobil.
"Untung aku selalu membawa baju ganti dan peralatan mandi." Gumam dokter Arif.
Setelah di rasa cukup, dokter Arif pun masuk ke ruangan nya dan membersihkan tubuh nya.
Dokter Arif melewati beberapa ruangan dan bertemu dengan para suster jaga pagi itu.
Senyum nya selalu terukir membuat para suster menatap nya dengan tatapan heran.
"Pagi sus." Sapa dokter Arif ke setiap suster.
"Pagi dok." Jawab para suster.
Para suster yang berpapasan dan di sapa sama dokter Arif menatap kepergian dokter Arif.
"Mimpi apa aku semalam, hingga pagi ini melihat senyuman yang indah di bibir nya dokter Arif." Ucap salah satu suster.
"Tumben banget ya dokter mau menyapa kita sambil tersenyum bahagia begitu."
"Aku ngga salah lihat kan? Kalian juga melihat nya kan kalau pagi ini dokter Arif tersenyum sama kita."
__ADS_1
"Pasti dokter Arif sedang bahagia, atau dokter Arif sedang kasmaran."
"Kalau dia sedang kasmaran sama seorang wanita, maka beruntunglah wanita itu."
Para suster terus membicarakan tentang sikap dokter Arif pagi ini hingga menjadi trending topik di rumah sakit tersebut.
Dengan perlahan dokter Arif membuka pintu ruangan Farah.
Dokter Arif kaget dan sekaligus cemas begitu melihat ranjang pasien sudah rapih tanpa ada nya seorang pasien yang sedang tertidur.
"Farah." Teriak dokter Arif, tapi tidak ada jawaban.
Dokter Arif mencari Farah sampai dia membuka kamar mandi, tapi alhasil Farah memang tidak ada di dalam ruangan.
"Di kamar mandi juga ngga ada, kemana dia."
Dokter Arif melihat ke arah paper bag yang berisi makanan yang di bawa Raya.
"Kenapa makanan nya tidak di makan? Apa dia pergi ke kantor? Tapi dia kan belum sehat benar." Dokter Arif terus menerus bergumam dan bergelut dengan pikiran nya.
"Suster, apa kamu melihat Farah?" Tanya dokter Arif ketika melihat seorang suster yang melintas di depan ruangan.
"Tidak dok." Jawab suster itu dengan wajah bingung.
"Tidak mungkin kamu tidak mengetahui nya, sedangkan Farah adalah tanggung jawab kamu sebagai suster, terus kerja kamu apa? Kenapa kamu membiarkan pasien pergi tanpa ada yang tahu, kalian itu berjaga atau tidur." Ucap dokter Arif dengan wajah yang tidak bersahabat nya.
"Tapi saya_,"
"Jangan banyak alasan suster, kalau begitu saya akan mengajukan pemecatan terhadap kalian yang tidak becus menjaga Farah." Teriak dokter Arif, emosi nya sudah tidak bisa di kontrol karena sangat khawatir dengan Farah.
"Kalau dokter Tampan memecat nya, saya akan menuntut dokter yang tidak ada tanggung jawab nya sama pasien." Ucap Farah yang sudah berdiri di belakang dokter Arif.
Begitu mendengar suara Farah, dokter Arif langsung membalikan tubuh nya dan tanpa sadar dokter Arif memeluk Farah.
"Kamu dari mana? Kenapa buat aku khawatir?" Tanya dokter Arif yang masih memeluk Farah.
Suster yang tadi di marahi dokter Arif hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala nya lalu pergi karena tidak mau mengganggu dokter Arif dan Farah.
__ADS_1
"Segitu khawatir nya kah dokter tampan kepada ku?" Tanya Farah dengan bibir tersenyum.
Dokter Arif tersadar lalu melepaskan pelukan nya dan sedikit menjaga jarak dari Farah.