
Pagi hari Farah bangun dan langsung pergi ke kamar mandi untuk menggunakan testpack nya.
Dengan hati yang berdebar Farah setia menunggu nya, Farah sengaja cepat-cepat ke kamar mandi sebelum suami nya bangun, karena kalau suami nya sudah bangun pasti akan banyak pertanyaan.
Setelah beberapa menit menunggu, dan dengan tangan sedikit gemetar Farah mengambil testpack dan melihat nya.
Terlihat dua garis merah tertera di sana membuat Farah menutup mulut nya tidak percaya.
"Terima kasih Tuhan atas kepercayaan mu kepada ku." Gumam Farah dengan pelan.
Farah menitik kan air mata bahagia nya dan mengulang kembali dengan testpack yang kedua.
"Aku coba sekali lagi, takut nya yang pertama tidak akurat." Gumam Farah lalu kembali memasukan testpack yang kedua.
Farah melihat hasil testpack yang kedua dan hasil nya sama dengan testpack yang pertama.
"Aku ingin lihat reaksi mas Arif."
Setelah dirinya tenang dan siap untuk memberikan kejutan kepada suami nya, Farah keluar dengan perlahan dengan hasil testpack di tangan nya.
"Sayang, kenapa ngga bangunkan aku?" Tanya dokter Arif dengan muka bantal nya.
"Memang nya mas sudah baikan?" Bukan nya menjawab, Farah memberikan pertanyaan juga.
Farah menghampiri suami nya dengan tangan dia simpan di belakang.
"Sudah kok, tapi mas kok malas banget ya buat pergi ke rumah sakit." Ucap dokter Arif dan menelungkup kan kepala nya di atas paha Farah yang sudah duduk di samping dokter Arif.
"Jangan malas dong mas, kalau mas malas bekerja nanti aku dan anak kita makan apa." Ucap Farah dengan bibir tersenyum.
Dokter Arif hanya diam dan belum bisa mencerna ucapan dari istri nya.
"Tapi aku ngga mau jauh-jauh dari kamu." Ucap dokter Arif dengan manja.
__ADS_1
"Aku tdak akan kemana-mana mas, aku akan selalu menunggu di rumah, dan paling juga aku pergi ke kampus."
"Bisa ngga sayang kalau kuliah nya di rumah saja, mas ngga mau kamu dekat-dekat dengan pria lain." Ucap dokter Arif dengan wajah sedikit di tekuk.
"Mas, aku kuliah demi cita-cita ku yang aku impikan sejak kecil, bukan untuk mendekati pria." Farah sedikit kesal karena suami nya sekarang posesif.
"Tapi kamu bisa kan meminta kepada pihak kampus untuk belajar dari rumah." Dokter Arif kekeh dengan pendirian nya.
"Mas, dengarkan aku. Aku ini sudah bersuami dan bahkan sebentar lagi kita akan punya anak, mana mungkin aku mau mencari pria lain lagi." Farah sedikit menekan kan kata anak biar suami nya sadar dengan apa yang sudah di ucapkan nya.
"Punya anak? Maksud kamu?" Tanya dokter Arif dengan kening berkerut lalu bangun dan menatap wajah istri nya.
"Pagi ini aku ingin memberikan sesuatu sama kamu mas, tapi mas harus janji untuk lebih giat lagi bekerja dan jangan memikirkan hal-hal yang negatif tentang aku, karena sembilan bulan ke depan aku akan selalu membawa nya." Ucap Farah sambil tersenyum.
"Maksud kamu? Bisa ngga sayang kalau bicara itu secara langsung jangan memberikan teka teki seperti ini." Dokter Arif kesal karena menurut nya Farah terlalu berputar-putar dalam berbicara.
"Kamu lihat sendiri saja lah mas." Ucap Farah lalu memberikan ke dua tespack dengan dua garis merah di sana.
Dokter Arif mengambil dan mengamati ke dua testpack yang kini sudah berada di tangan nya.
Farah hanya mengangguk sambil tersenyum, dokter Arif langsung memeluk dan mencium seluruh wajah Farah karena sangat bahagia dengan kabar pagi ini.
"Terima kasih sayang, terima kasih, baiklah kalau begitu sekarang kita pergi ke rumah sakit." Ucap dokter Arif sambil melepaskan pelukan nya.
"Kan mas yang dokter, kenapa harus sama aku juga ke rumah sakit nya, aku ada kuliah siang ini mas."
"Kita pergi ke dokter kandungan, mas ingin lebih memastkan nya lagi, lagian masih banyak waktu untuk kuliah, setelah dari rumah sakit kamu bisa langsung ke kampus."
"Baiklah mas." Hanya itu yang keluar dari mulut Farah.
"Terima kasih ya nak, kamu sudah hadir di dalam perut mamah kamu, papah janji akan selalu menjaga kalian berdua." Ucap dokter Arif sambil mengelus perut Farah yang masih rata lalu menciumnya.
Dengan perasaan sangat bahagia nya dokter Arif langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuh nya.
__ADS_1
Pagi ini dokter Arif tidak merasakan mual ataupun pusing, yang ada dalam dirinya hanyalah kata bahagia.
Sambil menunggu suami nya mandi, Farah membereskan tempat tidur dan menyiapkan semua keperluan suami nya.
Tidak berapa lama dokter Arif dengan wajah yang sudah segar, rambut yang basah membuat dokter Arif makin kelihatan tampan.
"Ayo mandi sayang, kita pergi ke rumah sakit sekarang." Ucap dokter Arif.
"Baiklah mas dokter tampan ku." Ucap Farah lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Dokter Arif hanya tersenyum sambil menatap ke arah istri nya yang mulai menghilang di balik pintu.
Setelah kedua nya sudah rapih, Farah dan dokter Arif menuju ruang makan, mereka berdua bergandengan tangan dengan mesra membuat orang yang melihat nya iri dengan kemesraan mereka.
Di meja makan dokter Arif selalu tersenyum membuat Asya adik nya merasa heran.
"Kenapa kak? Tumben wajah nya sumringah seperti itu?" Tanya Asya.
"Papah bahagia karena kehadiran ku aunty." Jawab Farah dengan nada seperti anak kecil.
"Serius? Kakak ipar hamil? Ah senang nya, selamat ya kak, mamah sama papah pasti akan bahagia mendengar nya." Ucap Asya lalu mengambil ponsel nya hendak memberikan kabar bahagia tersebut kepada ke dua orang tua nya.
"Jangan di kasih tahu dulu, ini belum pasti benar, hari ini kakak mau periksa dulu ke dokter kandungan, nanti kalau sudah jelas kita kasih tahu semua nya." Ucap Farah.
"Jadi kalian berdua mau ke rumah sakit sekarang?" Tanya Asya.
"Iya, sekalian ngantar mas Arif kerja." Ucap Farah sambil mengambil makanan untuk suami nya.
"Aku ikut ya? Lagian kuliahku juga nanti siang, dari pada aku sendirian di rumah."
"Ngga, kamu ngga boleh ikut." Ucap dokter Arif lalu menerima suapan dari istri nya.
"Kakak ipar tolong lah bujuk kakak, aku juga ingin menyaksikan calon keponakan aku." Asya meminta pertolongan Farah.
__ADS_1
"Mas, ajak saja, lagian kasihan Asya sendirian di rumah, lagian anakku ingin sekali pergi sama aunty nya." Ucap Farah dengan lembut.
"Kalau memang ini kemauan nya anak papah, aunty boleh ikut." Ucap dokter Arif membuat bibir Farah dan bibir Asya tersenyum, mereka kini tahu kelemahan nya dokter Arif.