Ibu Sambung Buat Anakku

Ibu Sambung Buat Anakku
Menjemput Raya


__ADS_3

Steven menghubungi no pak Rahmat untuk pergi ke rumah yang tadi mereka singgahi, dan pak Rahmat di suruh menunggu nya di sana dan tunggu kabar selanjut nya dari Steven.


"Pak, sekarang bapak ke rumah yang tadi kita singgahi, bapak diam saja di depan rumah nya, nanti saya kasih kabar lagi untuk selanjut nya.


"Baik den." pak Rahmat langsung pergi setelah Steven memutuskan panggilan nya.


Setelah menghubungi pak Rahmat, Steven kembali mengetik no yang pak Hendrik berikan tadi siang, dengan harapan Raya mengangkat nya.


Steven ngga tega melihat Grace yang terus meminta nya untuk bertemu dengan Raya, Steven memberanikan dirinya untuk menghubungi Raya walaupun Steven tahu ini sudah malam.


"Mudah-mudah han dia belum tidur." gumam Steven sambil mengetik no ponsel Raya.


Raya tersenyum sambil memeluk guling nya, "Ternyata mas Fajar tidak berubah tapi dia lagi sibuk kerja." gumam Raya sambil tersenyum.


Terdengar ponsel nya berbunyi, Raya langsung meraih ponsel nya dan menerima panggilan tanpa melihat si penelepon.


"Halo mas? Kamu belum tidur?" tanya Raya dengan sangat antusias.


Steven terdiam begitu mendengar suara Raya, dia bingung harus bicara apa.


"Mas, kok kamu diam saja?"


"Em, selamat malam, apa benar ini dengan nona Raya?" Steven memberanikan dirinya.


"Lo, ini bukan suara mas Fajar, lalu ini siapa." bathin Raya sambil melihat layar ponsel nya.


"Ini no siapa? Kok dia tahu no aku." Raya kaget dan terus menatap layar ponsel nya.


"Nona Raya, halo," panggil Steven karena Raya tidak ada suara nya.


"Oh iya benar saya Raya, maaf ini dengan siapa?"


"Saya Steven dari perusahaan xxxx." Steven sengaja menyebut nama perusahaan nya agar Raya bisa langsung mengenali nya.


"Steven? apa dia pak Steven yang dari perusahaan xxxx, oh my god, kalau benar ini sungguh suatu kehormatan bagi aku di hubungi dia, tapi mau apa malam-malam begini menghubungi aku, masa mau membicarakan masalah pekerjaan?" Raya malah bergelut dengan segala pemikiran nya sedangkan mata nya menatap jam dinding yang ada di dalam kamar nya yang sudah menunjukan jam sepuluh malam.

__ADS_1


"Nona, halo, apa anda masih ada di sana?" tanya Steven yang tidak mendengar suara dari Raya.


"Eh, iya pak maaf saya hanya kaget saja dihubungi bapak malam- malam begini, maaf ada apa bapak menghubungi saya malam-malam begini? Kalau masalah kerja sama dengan perusahaan pak Hendrik biar besok kita jadwalkan untuk bertemu." ucap Raya dengan hati sedikit bergetar, entah kenapa hati nya bergetar kala mendengar suara dari Steven.


"Bukan nona, bukan masalah pekerjaan, apa nona bisa menolong saya untuk malam ini saja." ucap Steven sambil mata nya menatap Grace yang sedang gelisah dalam tidur nya.


"Minta tolong? Apa ngga salah pak Steven minta tolong sama aku." bathin Raya.


"Maaf nona, apa anda bisa? Untuk malam ini saja? Soal nya saya kasihan sama Grace." ucap Steven yang sengaja menyebut nama Grace.


"Grace? Ada apa dengan Grace pak?" seketika Raya mengingat wajah Grace yang cantik dan imut.


"Tubuh Grace panas, dan dia terus-terusan meminta saya untuk memanggil nona." Steven langsung mengalihkan panggilan nya kepada panggilan video.


"Aduh bagaimana ini, kenapa lagi pak Steven mengalihkan panggilan nya ke panggilan video.' bathin Raya sambil menatap ponsel nya.


"Tolong angkat panggilan video saya nona, Grace ingin bicara dengan anda." bukan tanpa alasan Steven mengalihkan panggilan nya ke panggilan video, Grace terus menarik tangan nya dan ingin bicara sama Raya.


Raya langsung menerima panggilan video nya, terlihat di sana Grace dengan wajah sayu nya menatap wajah Raya.


Sekilas Raya melihat ada butiran air mata di sudut mata Grace membuat hati Raya ikut sedih melihat nya.


"Nona bisa kan sekarang datang kesini? Kalau nona bersedia, sopir saya sudah menunggu di depan rumah nona." ucap Steven.


Raya spontan berlari ke ruang depan dan menyibak kan tirai nya, Raya melihat ada sebuah mobil di depan rumah kontrakan nya.


"Jadi pak Steven juga sudah tahu kontrakan aku?" bathin Raya lalu menutup tirai nya kembali.


"Halo nona, bisa kan anda sekarang kesini? Saya mohon nona."


"Baik pak, kalau begitu saya kesana sekarang."


"Terima kasih nona." Steven memutuskan panggilan nya, dia sangat bahagia karena dirinya sudah berhasil membujuk Raya untuk datang ke rumah nya.


Raya langsung pergi keluar dan hanya mengambil tas selempang nya saja.

__ADS_1


Raya kaget ketika melihat seorang lelaki yang seumuran dengan ayah nya sedang berdiri di depan pintu rumah kontrakan nya.


"Maaf apa anda nona Raya?" tanya pak Rahmat dengan sopan.


"Aduh, saya sampai kaget, iya pak saya Raya." ucap Raya sambil memegang dada nya.


"Saya pak Rahmat utusan dari pak Steven untuk menjemput nona, silahkan nona." ucap pak Rahmat sambil membuka kan pintu mobil bagian belakang.


Raya masuk dan duduk dengan hati yang gelisah dan banyak sekali pertanyaan dalam dirinya dengan semua ini.


Pak Rahmat melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.


Selena sedang marah-marah di dalam kamar nya, karena Steven tidak menerima panggilan telepon nya.


"Kamu sedang menerima telpon dari siapa sih mas, kenapa aku diabaikan seperti ini." Selena sangat kesal sekali karena malam ini Steven tidak mau menerima panggilan nya.


"Apa aku terima saja tawaran dari Fajar? Sepertinya aku memang membutuhkan Fajar, apalagi mas Steven sekarang selalu mendahulukan Grace." bathin Selena.


"Ah sial, kenapa aku tidak minta no ponsel nya, sudah lah lebih baik aku tidur saja, besok pagi aku akan menemui mas Steven." Selena menyimpan ponsel nya dan berusaha untuk segera tidur.


Mobil masuk pelataran rumah yang sangat mewah dan megah dengan pagar yang menjulang tinggi.


"Silahkan nona, mari ikuti saya." ajak pak Rahmat sambil membuka kan pintu mobil nya.


Raya mengikuti langkah pak Rahmat kemana pun pak Rahmat melangkah hingga pak Rahmat berhenti di depan sebuah pintu kamar, kamar yang pernah dia singgahi.


Steven membuka pintu nya setelah mendengar suara ketukan dan yang memanggil diri nya.


"Selamat malam pak, saya kesini untuk mengantar nona Raya."


"Baiklah pak terima kasih." pak Rahmat pergi setelah mengantarkan Raya ke hadapan Steven.


Raya langsung menatap Grace yang sedang tertidur lalu menghampiri nya,


"Sayang." panggil Raya sambil menyentuh kening Grace, panas, itu yang Raya rasakan di telapak tangan nya.

__ADS_1


Grace yang merasakan ada sentuhan dari seseorang terbangun dan menatap wajah orang yang sangat ia rindukan saat ini.


Betapa bahagia nya Grace melihat Raya, ia langsung memeluk erat tangan Raya hingga membuat Raya harus ikut berbaring di samping nya.


__ADS_2