
Pagi hari menjelang, seperti biasa bu Maria selalu membantu bi Siti menyiapkan untuk sarapan.
"Pagi mah, nak Raya dan Grace belum keluar kamar?" tanya pak Agam sambil duduk di kursi nya.
"Belum pah," Jawab bu Maria sambil menyeduh kopi buat suami nya.
"Lihat dulu ke kamar nya mah, takut nya mereka kesiangan, sekalian lihat Steven ada di kamar nya ngga."
"Baik pah," Bu Maria pergi meninggalkan suami nya di meja makan.
Kamar yang pertama bu Maria masuki adalah kamar Grace.
"Sayang, kamu kok belum siap-siap?" tanya bu Maria begitu melihat Grace yang hanya duduk di sisi tempat tidur nya.
"Nenek, aku semalam bermimpi nek, mamah Raya mencium Grace terus pergi."
Jantung bu Maria langsung berdetak kencang begitu mendengar ucapan dari Grace, tapi bu Maria tetap santai dan berusaha tenang.
"Sudahlah nak jangan di pikirkan, sekarang kamu mandi terus kita sarapan, Grace mau mandi sendiri atau nenek yang mandi kan?"
"Grace mandi sendiri saja nek, Grace kan sudah besar sudah mau masuk sd."
"Baiklah nak, kalau begitu nenek tunggu di meja makan ya." Bu maria mengelus lembut kepala Grace sambil tersenyum.
Bu Maria belum pergi sebelum Grace masuk ke dalam kamar mandi, begitu Grace sudah masuk, bu Maria langsung keluar dan dengan langkah sedikit lebar bu Maria menuju kamar Raya, dirinya takut ucapan Grace barusan benar ada nya.
"Nak, sudah bangun belum?" Teriak bu Maria sambil mengetuk pintu nya.
Bu Maria mencoba memanggil Raya sekali lagi tapi tetap ngga ada jawaban dari dalam.
Dengan perlahan bu Maria mencoba membuka pintu kamar Steven.
__ADS_1
"Kok tidak di kunci." Gumam bu Maria sambil membuka pintu kamar lebar-lebar.
Pertama yang di lihat adalah tempat tidur king size milik Steven, bu Maria kaget karena kasur masih Rapih, bu Maria menghampiri kamar mandi tapi sepi, begitu bu Maria melihat ke arah lemari, betapa kaget dirinya melihat Steven yang lagi duduk bersandar dengan kedua mata nya terpejam.
"Nak, bangun, kenapa kamu tidur di sini?"
"Sayang, akhir nya kamu kembali." Teriak Steven sambil membuka ke dua mata nya.
"Ini mamah nak, memang nya Raya kemana?"
Steven menatap kaget wajah ibu nya, lalu bersujud di kaki sang ibu memohon maaf sambil kembali mengeluarkan air mata nya.
"Maafkan Stev mah, ini semua kesalahan Stev, Raya pergi dari rumah gara-gara Stev."
Meluncur lah air mata bu Maria, ternyata yang diucapkan Grace benar adanya dan itu nyata bukan mimpi.
"Bukan sama mamah kamu minta maaf, tapi kamu harus minta maaf sama Raya, cari Raya dan bawa kembali ke rumah ini, mamah ngga tega mengatakan yang sebenar nya kepada Grace." Ucap bu Maria sambil menangis.
"Stev janji mah, Stev akan membawa Raya kembali ke rumah ini."
Steven menatap punggung ibu nya dengan linangan air mata, air mata penyesalan dari seorang pria sekaligus seorang suami.
Bu Maria duduk di samping suami nya sambil mengusap air mata nya, kini dia ngga ada nafsu untuk sarapan.
"Kok mamah nangis? Ada apa?" Tanya pak Agam sambil menatap wajah sembab istri nya.
"Raya pah, Raya pergi dari rumah." Bu Maria sedih di tinggalkan menantu terbaik nya, dan akhir nya bu Maria kembali menangis di hadapan suami nya.
"Ini semua gara-gara anak itu, seandainya dia bisa tegas menolak wanita itu, semua ini ngga bakalan terjadi." Terlihat kilatan amarah di wajah pak Agam.
"Kakek, nenek, aku sudah siap, lo, mamah kok belum keluar kamar sih, aku panggil mamah dulu ya." Teriak Grace lalu membalikan tubuh nya mau pergi ke kamar Raya.
__ADS_1
"Ngga usah sayang, mamah kamu juga nanti kesini, sekarang kamu makan duluan ya? Kan kamu mau jadi seorang kakak, jadi mulai sekarang kamu harus makan sendiri." Sungguh bu Maria sangat ngga tega melihat Grace, bu Maria ngga bisa membayangkan kalau seandainya Grace tahu kalau Raya sudah tidak ada di rumah ini lagi.
Grace terdiam dan mencerna ucapan dari nenek nya, "Baiklah nek, kalau begitu mulai pagi ini Grace akan melakukan nya sendiri." Ucap Grace sambil tersenyum lalu menghampiri meja makan.
"Ampuni aku ya Tuhan, aku sudah membohongi cucu ku." Gumam bathin bu Maria dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kamu makan yang banyak ya sayang, dan jangan selalu mengandalkan mamah kamu, kasihan mamah kamu capek." Ucap pak Agam.
"Iya kakek." Jawab Grace sambil mulai menyantap sarapan nya.
Bu Maria terus menatap Grace, sesekali dirinya melirik ke arah suami nya, begitu pun juga dengan pak Agam.
"Kakek, nenek, mamah kok lama sih ngga keluar-keluar, apa mamah marah sama Grace ya?'
Bu Maria dan pak Agam saling menatap, "Tidak sayang, mamah kamu ngga marah kok, mungkin mamah kamu_" Belum selesai bu Maria dengan kalimat nya, suara Steven sudah terdengar dan memotong ucapan bu Maria.
"Mamah lagi ada kerjaan di luar kota sayang, tadi mamah titip pesan sama papah katanya kamu harus nurut sama kita semua, dan kamu jangan rewel." Ucap Steven berbohong.
"Kenapa mamah tidak pamit dulu sama Grace? Apa mamah sudah ngga sayang lagi sama Grace?' Tanya Grace dengan linangan air mata nya.
Grace sedih, karena Grace merasa kalau mamah nya pergi meninggalkan dia dan tidak akan kembali lagi.
"Mamah sudah pamit kok sama Grace, tapi Grace masih tidur, tadinya mau papah bangunin tapi mamah melarang nya karena mamah ngga mau mengganggu tidur Grace, dan mamah sangat menyayangi Grace." Steven meyakin kan Grace, padahal hati nya sedang merasakan sakit yang luar biasa, karena ulah dirinya semua orang merasakan sakit hati dan kecewa.
Pak Agam dan Bu Maria hanya diam dan terus memperhatikan mereka berdua.
"Grace mau mamah, Grace tidak akan masuk sekolah sebelum mamah pulang, kenapa papah biarkan mamah Raya pergi? Memang nya papah ngga pernah kasih uang ke mamah hingga mamah harus pergi ke luar kota?" Teriak Grace sambil menangis.
Steven terdiam, dia bingung harus bagaimana, melihat Grace menangis hati nya tambah sakit.
Tanpa terasa mata mereka semua mengeluarkan air mata termasuk pak Agam.
__ADS_1
"Sayang." Ucap Steven ingin menenangkan Grace.
"Tidak! Papah jahat, mamah Raya pergi pasti gara-gara papah, papah pelit, pokok nya Grace tidak mau bicara sama papah lagi." Teriak Grace lalu pergi ke kamar nya sambil menangis.