
Luna menyerahkan Rendra kepada mbak Tya saat nada dering dari ponselnya menyeruak di ruangan itu.
Sebelah alis Luna tertarik keatas begitu nama Dina, tertera pada layar ponsel yang sedang ia genggam " Siapa?" Tanya Melly. dokter cantik itu tengah memberikan botol susu kepada Ella yang berada dalam pangkuannya.
" Dina."
" Kenapa Nggak di angkat." Tanya Melly, sebab Luna hanya diam menatap layar ponsel dengan raut kebingungan.
" Binggung aja! tiba tiba dia nelpon, biasanya juga aku yang telpon dulu." Jawab Luna.
" Mungkin dia, ada masalah atau sesuatu yang mendesaknya untuk menghubungi kamu." Luna mengedikkan kedua bahunya sebagai respon atas dugaan Melly. " Angkat aja lun, kali aja penting." Desak Melly. Luna pun mengangguk, belum sempat ia menggeser ikon berwarna hijau. dering ponsel itu telah berakhir.
" Kamu sih kebanyakan bengong." dumel Melly tetepi tidak di hiraukan Luna. toh kalau penting pasti Dina telpon lagi.
Sesuai dugaan Luna tak lama berselang, Dina kembali menghubunginya. tak ingin mendengar protes dari Melly. Luna langsung menjawab panggilan dari Dina.
" Halo Din! ada apa?" Tanya Luna saat benda pipih itu telah menempel pada daun telinganya, tentu setelah mengeser Icon berwarna hijau.
" Lun! aku pengen minta tolong sama kamu?
" Minta tolong apa Din
?"
__ADS_1
" Tolong bilangin suami kamu ya, suru temannya jangan gangguin aku."
" Jayden?"
" Iya! siapa lagi."
" Kenapa kamu nggak ngomong sendiri ke orangnya." Terdengar helaan nafas berat dari seberang sana.
" Kamu kan tahu, aku nggak mau lagi ketemu dia." Ucap Dina memasang wajah cemberutnya, walaupun Luna tidak dapat melihat ekspresinya saat ini. " Tolong lah lun! aku pengen jalanin hari hariku dengan tenang seperti dulu."
" Iya nanti aku bilang sama Reval ya! sekarang kamu dimana? udah makan belum."
" Udah sama bunda, nih aku masih dirumah mertua kamu! disini sepi tahu nggak ada kalian makanya aku mau balik ke mess nggak tega sama bunda."
" Iya juga sih! tapi kasihan bunda, kenapa kamu nggak berhenti kerja aja sih! lagian suami kamu kan kaya. kami nggak akan kekurangan."
" Sebenarnya Ada pikiran aku buat berhenti, agar aku bisa bantu bantu mama ngurusin ka Ardy juga. Tapi entahlah hati kecil aku masih sedikit ragu atau mungkin hanya ketakutan aku saja kali ya! aku sendiri juga nggak tahu." Luna mengutarakan kegundahannya Selama ini, di satu sisi dia ingin bersama keluarganya di sisi lainnya ia masih terbayang bayang rasa sakitnya. Tanpa Luna sadari Melly kini sedang menatapnya penuh tanya.
" Jangan bilang kamu belum percaya dengan kesungguhan suami kamu!" Tanya Dina. " Melly apa sikapnya selama ini kurang meyakinkan buat kamu atau ada hal lain yang mengganjal di hati kamu." Tanya Dina lagi .
" Entahlah aku sendiri juga binggung untuk saat ini tapi satu yang pasti aku sedang berusaha mengikuti alur yang tuhan kasih. Memaafkan memang mudah Din, tapi melupakan itu sulit. Sebab terluka dan tersakiti secara bersamaan itu bukan momen yang indah untuk terus aku ulang di kemudian hari." Tanpa Luna sadari Air matanya menetes saat mengatakan hal itu. " Baik aku, kamu dan wanita manapun di luar sana, tidak ingin mengulangi rasa sakit mereka. aku memilih untuk menjauh darinya agar dapat meyakinkan perasaanku padanya. sebab Bibir boleh mengatakan sayang dan cinta tapi dalam lubuk hati seseorang tidak ada yang tahu kan Din."
Helaan nafas berat kembali Luna dengar dari seberang sana. " Aku belum pernah merasakan apa yang kamu rasakan, aku juga tidak berada di posisi kamu sehingga aku tidak bisa memberikan nasehat atau mengajari kamu mana yang harus kamu lakukan dan mana yang tidak boleh kamu lakukan. Tapi sebagai teman aku berharap kamu memberikan yang terbaik untuk Ella dan Rendra. Dunia mu bukan tentang kamu dan Reval saja ada Naela dan Narendra yang harus kamu pikirkan."
__ADS_1
" Itu pasti Din! nanti kita lanjut lagi ya Din, Aku mau ngurus Rendra dulu."
" Iya lun, titip salam buat keponakan aku yang cantik dan ganteng, Melly juga."
" Iya." Setelah itu, Luna mengakhiri panggil mereka berakhir.
" Aku pikir kamu udah jadi bucin suami kamu! ee tahunya masih ada yang mengganjal di antara kalian." Sindir Melly tetapi tidak di hiraukan Luna, sebab tangisan Rendra semakin menjadi jadi.
Hal itu membuat mbak Tya sedikit kualahan. sebab balita yang akan memasuki bulan kelima itu menangis sambil mengulurkan kedua tangannya kepada Luna, Naela yang baru saja tertidur langsung terbangun mendengar tangisan kakaknya.
" Sini sayang, kenapa nak! haus ya, iya." Ucap Luna saat mengambil Rendra dari mbak Tya, Rendra langsung diam seketika. sementara Naela sudah kembali tertidur begitu Melly menepuk pundaknya dengan lembut.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..,💋💋...
__ADS_1
...Jangan lupa like dan komen..🙏👍...