
" Hentikan." Luna mendorong pelan pipi Reval. " Aku ingin mandi." Jelasnya, entah kenapa ia takut, penolakannya membuat Reval kecewa.
Begitu Reval melepaskan dirinya, Luna langsung melangkah ke kamar mandi. " Tolong pindahkan mereka ke tempat tidur." Pinta luna Sebelum ia menutup rapat pintu kamar mandi itu.
Sudut bibir Reval tertarik keatas. Ia segera melakukan perintah Luna. Begitu Kedua bayi telah tertidur di ranjangnya masing-masing.
Reval duduk di sofa. Mengambil benda pipih dari dalam saku celananya, untuk memesan makanan buat Luna, sebab Reval yakin Istrinya itu belum menyentuh makanan sama sekali. mengingat ia melakukan perjalanan bersama kedua anaknya seorang diri, apalagi Ela sempat di rawat beberapa saat di rumah sakit.
Hampir setengah jam Luna berada didalam kamar mandi, bahkan pesanan makanan yang Reval pesan telah datang, tetepi tidak ada tanda tanda pintu kamar mandi itu terbuka. Lima belas menit berlalu, Luna juga belum keluar.
Tidak ingin terjadi sesuatu dengan Luna, Reval berjalan kearah pintu kamar mandi itu, memutar Hendel pintu itu dengan pelan. Saat pintu terbuka, Reval melangkah, layaknya seorang pencuri yang takut ketahuan pemilik rumah.
Reval bernafas lega, saat menemukan Istrinya itu, telah tertidur di dalam bathtub. Ia menghampiri Luna. salah satu kakinya di tekukkan di samping bathtub. " Lun, Luna." Panggil Reval sambil menepuk pipi, wanita yang telah memberikannya dua orang anak itu.
" Sayang, bangun! kamu bisa sakit nanti." Ucap Reval, ia terus berusaha membangunkan Luna, Tetapi Luna hanya mengerang sesaat setelah itu memajam kembali matanya.
Tak ingin Istrinya itu sakit dan mungkin akan berdampak kepada kedua anaknya, Reval mengambil handuk, membantu Luna sedikit berdiri sambil bersandar pada tubuhnya. Setelah membilas tubuh Luna dan memakaikannya handuk, Reval langsung Mengangkat tubuh Luna. meletakkan tubuhnya di atas ranjang dan menyelimutinya serta memberikan ciuman singkat di kening Luna.
Setelah memastikan tubuh istrinya tidak akan kedinginan, Reval kembali ke kamar mandi untuk Menganti bajunya yang basah serta bersolo karir. Lelaki mana yang tidak on melihat tubuh polos wanita, apalagi wanita itu adalah Istrinya.
Begitu selesai dengan kegiatannya, Reval ikut istirahat bersama istri dan anaknya, Setelah menyimpan makanan yang dia pesan. takutnya Luna akan terbangun tengah malam dan butuhkan makan sebelum memberi makan kedua anaknya.
...💋💋💋💋💋...
Satu Minggu sudah Luna berada di Jakarta dan menetap di apartemen suaminya. Kesehatan bunda Vio pun telah membaik, bahkan urusan Argha pun telah Sanjaya selesaikan, setelah bertemu dengan mantan menantunya itu dua hari yang lalu.
Sanjaya tetap membiarkan Anita berpikir kalau Argha bukan anaknya Reval tanpa berencana untuk meluruskan hal ini, sebab Sanjaya tidak ingin Anita memperalat cucunya. Soal tunjangan tiap bulan Argha, tentu saja Anita dengan senang hati menerimanya tanpa perlu berdebat, begitu juga dengan Baby sister yang di pilih Sanjaya.
Entah kata apa yang cocok untuk menggambarkan, sosok ibu seperti Anita ini.
" Ayah." Panggil Bunda Vio. Keduanya kini tengah duduk di ruang keluarga.
" Kenapa Bun? Ada yang sakit?" Tanya Sanjaya, Bunda Vio dengan cepat menggeleng kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
" Bukannya di rumah sakit ayah bilang ada yang mau ketemu bunda! Siapa yah?" Bunda Vio kembali bertanya.
" Ohh, itu! Kayaknya Mama mereka belum siapa ketemu Bunda! Bagaimana kalau bunda yang menemui mereka?" Jawab Sanjaya, Sambil menanyakan pendapat Istrinya itu.
" Siapa sih yah." Makin penasaran Bunda Vio.
" Kalau Bunda sudah tidak sabar ingin bertemu mereka, sebaiknya kita ketempat mereka sekarang."
" Ya udah ayo! Dari pada bunda penasaran." Ajak Bunda Vio.
Sebenarnya Sanjaya Belum mendapatkan, izin dari Reval untuk membawa bunda Vio menemui kedua cucunya itu. Sanjaya pun terpaksa melakukannya mengingat usia kedua cucunya yang hampir genap sebulan, tentunya Sanjaya harus menyiapkan acara aqiqah an mereka. tidak mungkin kan kedua bayi itu, tidak di buat acara syukuran yang meriah. Argha saja mendapatkan keistimewaan itu kenapa Kedua cucunya yang lahir dari menantu sah secara hukum dan agama tidak.
Sanjaya dan viona pun menuju apertemen Reval di antar supir pribadi mereka. Begitu tiba di sana, Vio semakin binggung dengan suaminya itu.
" Kita ngapain yah, di Apartemen Reval." Tanya Bunda Vio, kedua pasangan paruh bayah itu kini telah berada di dalam lift.
" Nanti bunda juga akan tahu." Jawab Sanjaya Sambil mengusap punggung Istrinya. Bunda Vio pun memilih diam dan mengikuti saja, toh bertanya pun jawab suaminya selalu sama.
Ting . .
Langkah Keduanya berhenti tepat di depan pintu apartemen Reval. Tanpa menunggu lama Sanjaya langsung menekan bel.
" Ayah, Bunda." Reval sedikit terkejut dengan kehadiran, kedua orang tuanya di apartemen itu. " Ko Ayah dan bunda nggak bilang mau kesini." Sambungnya.
" Kenapa kamu nggak suka, ayah dan bunda nengok kamu." Sahut Bunda Vio, wanita itu sedikit kesal dengan putranya ini.
Pasalnya Reval tidak pernah kembali menengoknya lagi di rumah sakit." Bukan begitu Bun."
" Terus Abang ngapain sampai nggak datang nengok bunda lagi?" Sanjaya tidak ambil pusing dengan Omelan Istrinya, ia memilih duduk di sofa. pandangannya kesana-kemari mencari keberadaan menantunya.
" Abang punya alasan untuk itu! nanti aku jelaskan Bun, tapi sekarang Abang mau pergi dulu." Ucap Reval, membuat Sanjaya memijit pelipisnya. Beginilah kalau datang mendadak tanpa janjian dulu.
" Jadi urusan kamu itu lebih penting dari bunda, iya?" Reval langsung memeluk bunda Vio, guna meredakan rasa kesal.
__ADS_1
" Bunda adalah wanita yang paling penting dalam hidup aku, Begitu juga Luna, Naela dan Rania. kalian mendapatkan tempat yang khusus di hatiku Bun." Reval mengusap punggung bundanya. " Sekarang Bunda pulang terus istirahat, nanti Reval yang akang mengunjungi bunda." Bujuk Reval Setelah mengurai pelukan mereka. ia menggenggam tangan yang mulai keriput itu, mencium punggung tangan bundanya dengan durasi yang sedikit lama.
Melihat hal itu Sanjaya memutuskan untuk mengajak istrinya pulang. mengingat putranya ada keperluan lain.Walaupun Sepanjang perjalanan pulang bunda Terus melayangkan protesnya kepada sang suami.sebab ia masih ingin berbicara dengan Reval. Belum juga duduk kini mereka sudah pulang lagi.
" Siapa yang datang." Tanya Luna, yang baru keluar dari kamarnya ketika kedua mertuanya telah pergi. ia tidak bermaksud kurang ngajar atau tidak sopan kepada kedua mertuanya itu, hanya saja ia ketiduran saat menidurkan bayinya.
" Ayah dan Bunda." Jawab Reval sembil, berjalan menghampiri Luna.
" Kenapa tidak bangun kan aku."
" Aku pikir kamu belum siap ketemu bunda." Reval mengecup pipi Luna Sembari mengacak rambutnya." Jangan cemberut gitu nanti aku tambah sayang." Goda Reval membuat pipi Luna langsung merona.
Entah dari mana lelaki itu belajar gombal gombalan receh seperti itu, hingga satu Minggu ini dia terus mengoda lun dengan kata katanya itu.
" Apa sih. mulai lagi."
" Bukan seperti itu, tetapi apa yang aku katakan barusan, karena aku terlanjur sayang dan teramat sangat mencintaimu." Sebuah kecupan kembali mendarat di pipi Luna. semakin merona saja pipi Luna. walaupun ia menyembunyikannya dengan menunduk.
" Sadar Luna kamu disini hanya untuk Rendra dan Naela." Luna berusaha menguasai dirinya agar tidak terluka lagi. Bukannya ia tidak percaya kepada Reval, tetepi untuk merasakan Luka yang sama kalinya Luna tidak akan pernah siapa.
.
.
.
.
Bersambung.
Maaf ya, harus nya aku update semalam tapi drafnya Mala kehapus. ntar kalo ada waktu luang aku double tapi nggak janji ya.
Happy reading.. 💋💋
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen..👍🙏