ISTRI KEDUA (Jangan Sakiti Aku Lagi)

ISTRI KEDUA (Jangan Sakiti Aku Lagi)
Terima kasih


__ADS_3

Reval melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan yang pasti. Entah sudah berapa jam mobilnya itu berputar putar di jalan raya.


Selang beberapa menit, mobilnya tiba tiba berhenti tepat di depan area pemakaman, bukan karena gangguan mistis atau apapun itu, yang jelas ia kehabisan bensin.


" Sial." Umpatnya sambil menutup pintu mobil dengan begitu kasar.


Bruuk.


Reval bersandar pada mobilnya, tangan bergerak merabah saku jas dan celana yang ia pakai untuk mencari sesuatu disana, sayangnya! Reval tidak menemukan apa yang ia cari.


" Arrrggggh." Ia semakin bertambah kesal saja. Entah hari ini yang begitu sial atau memang nasibnya saja yang sial di hari ini.


Reval menengok ke sana kemari, siapa tahu ada taksi atau peziarah yang lewat, sehingga ia bisa meminta tolong.


Saat tengah menunggu tumpangan, Reval teringat akan sahabatnya dan secara kebetulan area makam itu adalah tempat Zen beristirahat untuk selama lamanya.


" Saatnya mengunjungimu sahabat ku." Gumamnya sambil melangkah masuk kedalam area pemakaman.


Langkah Reval terhenti tepat di depan Gundukan tanah, berbentuk persegi. Ia langsung berjongkok di samping makam yang begitu terawat itu, tangan Kanannya bergerak mengusap nisannya. " Maaf aku baru menemuimu lagi." Ucap Reval.

__ADS_1


" Seandainya kamu masih ada disini, aku ingin memarahi mu, karena telah membuat gadis sebaik dan sepolosnya! berubah menjadi wanita pembangkang." Reval tidak sadar bahwa dialah penyebab gadis yang dulu ia anggap baik dan polos itu berubah.


" Tidak, kamu tidak boleh ada disini, sebab apa yang di atur tuhan itu sudah benar! bukan karena aku tidak ingin kamu ada besama kita atau aku sudah tidak menganggap mu sahabatku, bukan, bukan seperti itu." Reval terus berbicara dengan makam yang ada di hadapannya. " Kamu masih sahabatku selamanya seperti itu. Andaikan kamu masih bersama kita! Mungkin Aku tidak akan pernah memiliki Luna sebagai istriku." Reval tersenyum.


" Membayangkan hal itu rasanya aku akan ingin gila! Kamu pasti berpikir jika aku mencintainya bukan? tapi sayang aku sendiri tidak yakin dengan apa yang aku rasakan untuknya, mungkin benar aku mencintainya atau mungkin saja aku hanya terobsesi dengannya! Tidak ada yang tidak mungkin di dunia Bro." Sebelum Reval berdiri ia sempat berdoa untuk sahabatnya itu.


" Kamu pasti bosan mendengar Ucapanku, Tetapi aku harus mengatakan ini kepadamu! Terima kasih Sudah menjaganya dengan baik! Aku pamit pulang dulu jika suatu hari dia bisa menerima aku dan pernikahan kita ini, di hari itu juga aku akan mengajaknya untuk mengunjungimu lagi, Sekali lagi terima kasih." Setelah itu Reval melangkah pergi.


...💋💋💋💋💋💋...


Setelah menemui kepala rumah sakit Luna duduk di bangku panjang yang terletak di taman taman rumah sakit, ia mengambil ponsel dari saku bajunya.


Luna mengotak Atik layar ponselnya, mencari kontak untuk ia hubungi, setelah mendapatkan apa yang dia cari, Luna langsung mendekatkan ponsel itu pada daun telinganya.


" Hallo." Ucap Luna begitu sambungan teleponnya di jawab. " Hallo, ma! Mama dimana?" Lanjutannya lagi.


" Mama di rumah sakit." Jawab Mama Lina dengan malasnya.


" Maaf kalau Luna salah, maaf jika sikap Luna membuat mama malu! tetapi semua yang Luna lakukan ada alasannya ma." Air matanya menetes membasahi pipinya. " Ma, semua yang Luna, lakukan itu ada alasannya." Luna mengulangi ucapnya lagi.

__ADS_1


" Apa pun alasannya! mama tidak membenarkan sikap kamu yang pergi dari rumah mertuamu. bahkan kamu tidak mengabari mertua dan suamimu, apa mama pernah mengajarkan kamu seperti ini?"


" Nggak ma, mama sudah mendidik Luna dengan benar. semua ini salah Luna bukan salah mama."


" Mungkin kamu berpikir seperti itu tetapi di luar sana orang akan berpikir jika mama tidak becus mendidik anak mama! Jika kamu tidak suka penikahan kamu dengan anaknya Bunda Vio, kasih tahu kami Luna! bukan mempermalukan mama seperti ini, mama kecewa sama kamu." Mama Lina mengakhiri panggilan itu secara sepihak.


Luna yang tak kuasa dengar ucapan mamanya langsung menangis sejadi jadinya. " Ma sekali saja, pikirkan perasaan Luna! kenapa selalu omongan orang lain yang mama pikirkan, selama ini Luna bersikap baik baik saja karena tidak ingin mama khawatir dengan Luna, Luna tidak ingin menambah beban pikiran mama! tapi kenapa kenapa selalu omongan orang lain yang menjadi perioritas mama." Luna menjerit, walaupun ia tahu sambungan teleponnya telah berakhir setidaknya, ia bisa mengeluarkan keluh kesahnya, Luna tidak peduli dengan tatapan beberapa pengunjung rumah sakit yang duduk tidak jauh dari tempatnya.


" Luna." Dina menepuk pundaknya. " Kamu baik baik sajakan." Luna menggeleng kepalanya, ia langsung memeluk Dina.


Dina hanya diam, ia mengusap punggung luna, mencoba menenangkan sahabatnya itu. Walaupun dalam pikirannya terbesit beberapa pertanyaan untuk Luna. Tetapi Dina urungkan untuk bertanya sebab ia tahu yang Luna butuhkan saat ini adalah bahu untuk bersandar, bukan pertanyaan kenapa, mengapa, siapa , apa dan bagaimana.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


💋 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍


__ADS_2