
Ayah pikir Luna dan Reval telah bercerai, jadi ayah berpikir untuk membantu Anita, agar, ada yang mengurus Reval nanti. Ayah sempat berjanji sama dia, seandainya anak dalam kandungannya bukan anak Reval, ayah akan memalsukan hasil tes DNA agar Reval tidak ada alasan untuk menceraikannya. Dan begitu hasil tes DNA Keluar ayah terkejut ternyata Argha itu benar cucu kita, untuk lebih meyakinkan ayah kembali melakukan tes di dua rumah sakit berbeda dan hasilnya sama. Ayah lupa memberi tahu Anita yang sebenarnya, makanya dia bisa berpikir seperti, tapi percayalah Bun, Argha itu cucu kita." Tekan Sanjaya. Bunda Vio mengangguk paham.
" Untuk sementara biarkan Argha bersama ibunya dulu, Seandainya Anita memperlakukan Argha dengan tidak baik, maka ayah akan mengambil jalur hukum untuk mengambilnya kembali dengan bukti bukti yang kita punya." Ucap Sanjaya lagi.
" Tapi bunda yang merawatnya Selama ini yah, bunda tulus sayang sama dia, mau dia cucu bunda atau tidak, bunda tetap sayang sama dia." Bunda Vio menangis dalam pelukan suaminya, mengingat bagaimana ia berjuang mengasuh Argha tanpa campur tangan seorang baby sister. Bahkan Semua keperluan sampai kebutuhan Argha, bunda Vio selalu memastikan cucunya itu mendapatkan yang terbaik dan kini tanpa permisi Anita datang mengambil Argha begitu saja.
" Bunda tidak rela Argha bersama wanita itu." Sanjaya mengusap punggung Istrinya.
" Dia ibunya, pasti dia akan menjaga Argha dengan baik! nanti Ayah juga, akan mengirim kebutuhan Argha Setiap bulan kepada Anita, jadi bunda jangan khawatir lagi."
" Tidak bisa Yah! Anita saja bisa tega meninggalkan Argha ketika dia baru lahir, bunda takut dia akan mengulangi perbuatannya itu." Bunda Vio tidak begitu saja tenang.
" Ayah akan menyewah orang untuk berada di sekitar mereka sekaligus melindungi Argha. Sekarang pikirkan kesehatan bunda, karena ada yang ingin bertemu bunda! kalau bunda sudah sehat."
" Siapa yah?"
" Nanti juga bunda akan tahu! Sekarang istirahat dulu." Ucap Sanjaya sambil mengusap kepala wanita yang telah mendampinginya selama tiga puluh tahun ini, tidak butuh waktu lama bunda Vio pun tertidur.
Ceklek.
Pintu ruang itu terdorong kedalam, Reval melangkah masuk. " Ada apa Nak?" Tanya Sanjaya kepada putranya itu.
" Dokter telah mengizinkan Ela untuk pulang! Abang akan mengantar mereka yah." Jawab Reval sekaligus meminta izin.
" Kamu akan membawa mereka kemana?" Tanya Sanjaya lagi.
" Ayah kan tahu sendiri, Luna belum siap bertemu Bunda, Jadi Reval berencana untuk membawa mereka dulu ke apertemen, nanti kalau Luna sudah siap baru Reval ajak kerumah."
" Memang seharusnya seperti itu, kalian sudah berumah tangga, sebaiknya kalian tinggal sendiri dan menyelesaikan masalah kalian sendiri, terlalu melibatkan orang lain juga tidak selamanya baik, sekali pun ayah dan bunda orang tua kalian."
" Iya ayah, terima kasih atas pengertiannya."
" Pergilah nak menangkan hati istri kamu, soal Bunda dan Argha biar ayah yang urus." Dukungan dari Sanjaya sungguh sangat berarti untuk Reval.
" Terima kasih yah." Reval memeluk tubuh ayahnya.
__ADS_1
" Sama sama nak."
Begitu mendapat izin dari ayahnya Reval langsung bergegas kembali keruang putri kecilnya, dengan senyum yang tidak pudar sedikitpun.
" Ayo sayang." Terlalu senang membuat Reval spontan mengucapkan kata sayang kepada Luna. " Kamu tidak membawa koper?" Tanya Reval ketika ia hanya menemukan tas ransel dan stroller di ruangan itu.
" Aku melakukan perjalanan bersama dua bayi, bagaimana bisa aku membawa koper." Jawab Luna seadanya.
" Ooo, Maaf sayang, aku tidak tahu." lagi lagi kata sayang itu keluar begitu saja dari bibir Reval.
Reval membawah ransel yang di bawah Luna, Sambil mendorong stroller dimana kedua bayinya telah berpindah didalamnya.
Keduanya melangkah menuju parkiran, Begitu tiba disana, Reval langsung membukakan pintu untuk Luna. " Kamu bisa mengendong keduanya sekaligus." Tanya Reval saat ini mengangkat Naela, untuk di pindahkan ke pangkuan luna.
" Bisa sini."
Reval pun memberikan Naela kepada Luna, diikuti Narendra. Setelah kedua bayi itu telah berpindah ke tangan ibunya, Reval menutup pintu mobil dengan begitu pelannya, agar kedua bayinya tidak terkejut.
Iya melipat stroller dan menyimpannya di bagasi mobil bersama dengan ransel Setelah itu Reval masuk dan duduk dibelakang kemudi.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing dan Berhubung lalulintas lancar jaya, Reval hanya memerlukan waktu 30 menit untuk sampai di apertemennya.
Reval turun dari mobilnya terlebih dahulu, ia mengeluarkan stroller untuk kedua anaknya. Setelah itu ia membukakan pintu untuk Luna. Begitu kedua bayi itu berpindah kedalam stroller mereka, Reval dan Luna pun melangkah menuju lift yang Akan mengantar mereka ke lantai atas, dimana apertemen Reval berada.
Keduanya masuk melewati petugas keamanan yang tersenyum hormat kepada Reval. Hal yang sama juga di lakukan resepsionis ketika mereka melihat kaarah mereka.
Ketika berada didalam lift, Reval tidak nyaman dengan Situasi yang ada, sejak tadi Luna hanya diam dan mengikuti langkahnya, ia tidak pernah bertanya ini dan itu! kalau di ajak bicara hanya satu dua kata yang keluar dari bibir istrinya itu.
Ting..
Lift berhenti, Reval melangkah keluar dari sana sambil mendorong stroller baby twins itu dan Luna hanya mengikuti.
Reval berhenti di salah satu pintu." Lun." Panggil Reval saat ia akan memasukkan sandi untuk membuka pintu itu.
" Hmmm." Hanya deheman yang keluar dari bibir Luna.
__ADS_1
" Ingat sandi ini untuk sementara waktu, nanti aku akan meminta pengelolaan gedung untuk memindai sidik jarimu." Luna sedikit mendekat kepada Reval. melihat dengan seksama setiap tombol yang di tekan Reval lalu menghafalnya.
Begitu pintu itu terbuka, Luna langsung tercengang, ekspresi yang sama di tunjukkan Luna ketika ia pertama kali menginjakkan kakinya di rumah Reval.
Hanya dua kata untuk menggambarkan Apertemen itu. " Luas dan Mevah."
Luna tersadar dari lamunannya ketika Reval merangkul pinggangnya. Dan menunjukkan satu persatu letak ruangan yang ada di apertemen itu. Mulai dari dapur, ruang kerja, ruang nonton dengan televisi yang begitu besar di lengkapi dengan sofa yang Luna yakin harganya tidak murah dan sampai berakhir di kamar tidur.
" Apertemen ini begitu luas, kamu tidak perlu bersih bersih dan mencuci, akan ada yang bertugas untuk hal itu, begitu pekerjaan mereka selesai mereka akan pulang, cukup rawat anak kita." Ucap Reval Sambil mengecup puncak kepala Luna. " Jika kamu tidak ingin memasak juga tidak apa apa, cukup pesan saja! kamu adalah nyonya di apartemen ini dan ratu disini." Sambungnya, Reval menarik tangan Luna dan meletakkannya di dadanya.
" Hai, wajah suamimu ada disini, bukan dibawah." Reval mengangkat wajah Luna, sebab Istrinya itu hanya menunduk.
Deg..
Jantung Luna berdetak lebih cepat, ketika tatapan mata keduanya bertemu, bahkan Sentuhan tangan Reval di pipinya membuat Luna kembali menutup kedua matanya. Jika terlalu lama memandang suaminya, itu tidak akan baik untuk kesehatan jantungnya, apalagi sentunnya yang selalu berhasil membangunkan syaraf syaraf Luna.
Luna memutar tubuhnya, untuk melangkah meninggalkan Reval. Reval dengan cepat menarik tubuh Luna kembali, membuat dada bidangnya langsung bertubrukan dengan punggung Istrinya.
Nafas Luna naik turun, layaknya orang yang menderita penyakit asma. Terlebih ketika Reval menyibakkan rambutnya kedepan, menurunkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya pada lekuk leher Luna. memberikan ciuman lembut disana.
" Hentikan."
.
.
.
.
Bersambung.
Happy reading...💋💋
Jangan lupa like dan komen..👍👍
__ADS_1
Untuk vote dan hadiah, seikhlasnya aja. ***** jauh dari aku untuk kalian semua.😘😘😘