
" Syukurlah, kamu sudah datang." Ucap mama Emma yang baru saja keluar dari ruangan pemulihan. " Sini bantu Mama, diruang pemulihan. Ada empat pasien yang baru selesai di operasi."
" Iya ma." Tanpa banyak tanya Luna, menaruh tasnya di ruangan khusus untuk perawat. Setelah itu ia mengikuti langkah mama Emma masuk keruang pemulihan.
" Berikan Dextran untuk pasien yang itu." Tunjuk Mama Emma Kepada salah satu pasien diruangan itu, begitu Luna masuk.
Luna menurut saja dengan apa yang di ucapkan mama Emma, ia langsung mengerjakan perintahnya tanpa banyak bertanya, toh pemberian Dextran, pemasangan infus, dan lain lain adalah kesehariannya.
Hampir setengah hari keduanya di ruangan itu, memantau kondisi pasien dan memberikan obat serta cairan sesuai kebutuhan mereka Setelah itu Luna dan mama Emma beristirahat sejenak.
" Ma, maafkan Luna." Ucap Luna, Ia tahu mama Emma marah kepadanya, karena tidak masuk hampir seminggu ini. Terbukti dengan perintahnya kepada Luna tanpa basa basi atau guyonan seperti biasanya.
" Untuk apa minta maaf. lagian benarkan kamu itu seorang pelakor, kalau tidak! kenapa kamu harus menangis dan sembunyi dari kenyataan."
DEG
Ucapan mama Emma sangat melukai hatinya, entah kenapa hatinya jauh lebih sakit ketika kata pelakor itu keluar dari mulut wanita yang duduk disampingnya itu.
" Harusnya kau buktikan kepada mereka bahwa apa yang mereka ucapkan itu salah bukan membenarkan apa yang mereka ucapkan dengan bersembunyi seperti itu."
Air mata yang membendung di matanya langsung jatuh tanpa permisi.
" Kalau kamu tidak tahan dengan keadaan seperti ini, gugat cerai saja suamimu itu, mumpung belum ada yang mengikat kalian berdua, lagian kamu berhak bahagia." Mama Emma terus berbicara sedangkan Luna hanya diam.
" Kalau kamu tidak mau, berarti hati kamu harus lebih kuat dari sekarang, karena kita tidak tahu jalan di depan akan seperti apa yang harus kamu lakukan itu adalah Siap! siap dengan segala sesuatunya. Sebab menjadi istri kedua disaat istri pertama tidak memiliki kekurangan apapun adalah sebuah kesalahan di mata masyarakat. Sesulit dan sesakit apapun kamu, mereka tidak akan mau tahu, karena bagi masyarakat Luna hanyalah seorang penganggu sekaligus perusak hubungan orang."
" Terus Luna harus bagaimana?"
" Jangan tanya sama mama! tanya sama hati kamu, apa yang kamu inginkan."
__ADS_1
" Luna ingin terlepas dari semua ini ma. Tapi Luna binggung bagaimana cara memulainya."
" Temui dia terlebih dulu! Setelah itu mama akan kasih tahu bagaimana cara kamu memulainya."
" Tapi bagaimana kalau di menyakiti Luna lagi?"
" Bukan kah itu akan bagus, untuk memulai proses yang kamu inginkan." Untuk sesaat Luna terdiam, ia mencoba mencernah ucapan mama Emma.
" Jangan terlalu di pikirkan jika kamu tidak mengerti, Temui dulu dia, setelah mama akan menjelaskan apa yang harus kamu lakukan."
" Baiklah Ma."
" Ya sudah! Fokus kerja dulu. Nanti pulang kerja mama antar kamu menemui dia." Luna menggaguk sambil mengusap air matanya, Setelah itu ia memeluk tubuh mama Emma.
..." Maaf Ma! mungkin benar apa yang di ucapkan Erni, lebih baik menjadi janda dari pada harus menjadi perusak."...
Luna Izin ke toilet, ia ingin menghubungi Nurul menanyakan keberadaan Reval. sebab Suami Nurul adalah sahabat sekaligus asistennya.
" Hallo, kamu dimana? kenapa nggak pernah pulang? Terus kabar kamu Gimana?" Tanya Nurul dari seberang sana.
" Kalau tanya bisa satu satu Nggak ruul, kan aku binggung gimana jawabannya."
" Maaf aku terlalu bersemangat saat tahu kamu yang telpon."
" Eee Rul, Teman Suami kamu dimana." Ucap Luna langsung pada intinya.
" Siapa?"
" Emangnya, teman suami kamu ada berapa?"
__ADS_1
" Ada banyak sih! cuma yang dekat suami dan mantan kamu." Luna memutar bola matanya malas dengar ucapan Nurul.
" Dia dimana."
" Siapa, Pak Reval."
" Hmmm."
" Masih di kantor kayanya lembur lagi deh."
" Oke terima kasih Ruul." Luna mengakhiri Panggilannya secara sepihak, membuat Nurul yang di seberang sana kesal dengan ulah sahabatnya itu.
.
.
.
.
Bersambung.
Bonus visual Reval dan Anita.
__ADS_1
💋 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍