
Sepenjang perjalanannya menuju rumah sakit Luna terus meneteskan air matanya! walaupun ia sudah berusaha meyakinkan dirinya, bahwa semua baik baik saja, dia baik baik saja, entah kenapa hatinya masih saja terasa sakit. " Bukankah ini yang kamu inginkan, berhentilah menangis! Please please berhenti." Ucapnya Sambil mengusap kedua pipinya dengan kasar. walaupun cara itu tidak berarti arti apa apa! karena pada kenyataannya mata dan hatinya tidak sinkron dengan pikirannya saat ini.
Driver taksi yang Luna tumpangi, sampai binggung dengan sikapnya! leleki setengah Bayah itu, berulang kali mengintip Luna dari kaca spion. " Maaf mbak! sudah sampai." Ucapnya.
" Terima kasih." Ucap Luna setelah membayar ongkos taksinya.
" Sama sama mbak."
Begitu taksi itu pergi Luna langsung bergegas menuju messnya.
...💋💋💋💋💋...
" Aku pikir kamu belum balik! makanya aku duluan aja! tau gini mending aku nunggu kamu." Ucap Dina, begitu ia membuka pintu mess untuk Luna. " Terus ini kenapa pakai acara nangis, suami kamu jahatin kamu lagi? iya." Luna menggeleng kepalanya.
" Terus kenapa kamu nangis! Ayo cerita, sekalipun kita sahabatan udah lama, aku nggak bisa nebak perasaan kamu, soalnya aku bukan dukun."
" Apaan sih."
" Ya udah sini cerita sama aku." Dina menarik tangan Luna, duduk di bibir ranjang. " Cerita." Desaknya. Luna pun mulai menceritakan kejadian di rumah mertuanya kepada Dina.
__ADS_1
" Aku nggak tahu, keputusan yang kamu ambil ini benar atau tidak, aku juga tidak bisa memberi kamu saran yang baik sebab aku belum pernah berada di situasi kamu saat ini, yang bisa aku sarankan ke kamu, ikhlas lun, kita mungkin tidak dapat merubah segala hal yang terjadi tetapi tidak ada salah kita mencoba iklas agar kamu lebih tenang menghadapi semuanya. Dan jangan lupa intropeksi diri, agar kamu jauh lebih baik ke depannya." Ucap Dina begitu Luna selesai bercerita.
" Makasih ya udah mau dengar cerita aku."
" Sama sama! udah jangan terlalu dipikirkan. mending kamu istirahat deh, koper kamu biar aku yang simpan."
Dina langsung menyimpan koper Luna di atas lemari, begitu ia selesai mengeluarkan pakaian Luna dan meletakkan kedalam lemari.
...💋💋💋💋💋...
Tiga hari telah berlalu, perasaan Luna sekarang pun jauh lebih baik dari sebelumnya.
Begitu selesai sip malam, Luna memilih memejamkan matanya sejenak, sebab jam sepuluh nanti ia harus kembali ke pengadilan agama, Sesuai jadwal yang ditentukan Minggu lalu, sekalipun hanya mediasi, Luna ingin memastikan semua berjalan sesuai rencananya.
Iya memilih tinggal di salah satu apartemen mewahnya. Fokusnya kini hanya untuk perusahaan sang paman dan menggagalkan usaha sang istri.
Jam sepuluh tepat, baik itu Reval maupun Luna keduanya kini telah berada di pengadilan agama.
Luna di temani pengacaranya, mama Emma dan Dina sedangkan sang suami hanya di dampingi pengacaranya saja. Proses sidang kali ini, memilih mediator untuk Luna dan Reval yang akan mendampingi mereka selama proses mediasi. Lamanya proses mediasi 21 hari dan hari ke 22 mediator akan mengembalikan kepada majelis sebagai hasil dari mediasi.
__ADS_1
Reval merasa sedikit lega, setidaknya dia mempunyai 21 hari untuk merubah keputusan Luna.
" Luna! ikut aku sebentar ya, ada yang mau aku bicarakan sama kamu." Pinta Reval saat keduanya keluar dari salah satu ruang pengadilan.
" Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan."
" Luna." Panggil Dina.
" Lun jangan seperti itu." Tegur mama Emma.
" Tapi ma."
" Sebaiknya kamu dengar dulu apa yang mau di katakan suami kamu." Luna begitu malas meladeni Reval, tetapi mau bagaimana lagi, dia terpaksa harus menurut perkataan mama Emma dan pergi bersama Reval.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.