
Tepat jam Sembilan malam, Bunda Vio dan mama Lina, sampai di depan rumah sakit, dimana Luna bertugas.
" Kita langsung masuk aja atau gimana?" Tanya Mama Lina.
" Bentar." Ucap Bunda Vio, ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Bunda Vio mencoba menghubungi Luna.
Tut... Tut.. Tut.. percobaan pertama Luna tidak menjawab.
" Tidak di jawab." Tanya Mama Lina. Bunda Vio menggeleng kepalanya. " Coba lagi." Bunda Vio pun mencoba kembali.
Tut.... Tut... Tut.. Hasilnya masih sama tidak ada jawaban, hanya ada suara wanita cantik di akhirnya.
" mending kita temui dia langsung." Ucap mama Lina, saat hendak membuka pintu mobil, tangannya di tahan bunda Vio.
" Tunggu! itu dia." Ucap Bunda Vio, sambil menunjuk kearah dua orang wanita yang baru melewati gerbang rumah sakit.
" Ya udah tunggu apa lagi kita samperin dia." Mama Lina begitu tidak sabaran.
" Jangan, kamu disini aja! biar aku yang temui dia." Sahut bunda vio cepat sebelum mama Lina kembali membuka pintu mobil.
" Tapi.."
" Udah percaya sama aku." Bunda Vio kembali meyakinkan sahabatnya itu.
__ADS_1
Bunda Vio keluar dari mobilnya, ia berlari kecil menyusul kedua wanita itu sebelum mereka hilang dari pandangannya.
" Luna." Panggil Bunda vio ketika ia berada tepat di belakang Luna dan Dina sahabatnya Luna.
Luna menengok ke belakang. " Bunda." Ucap Luna sedikit terkejut dengan keberadaan mertuanya itu. " Bunda ngapain disini? Anita sakit lagi." Tanya Luna Setelah menguasai perasaannya.
" Nggak ko! Bunda Kesini, karena mau ketemu kamu! Bunda kangen sama kamu." Tidak ada yang salah dengan ucapan bunda Vio, selain ingin meluruskan masalah anak dan menantunya ini, ia juga merindukannya.
Luna terdiam, ia seakan kehilangan kata katanya. " Ikut bunda sebentar ya! ada yang mau bunda bicarakan sama kamu." Pintanya.
" Kemana Bun?"
" Ikut aja! nanti kamu juga tahu."
" Kenapa? kamu ada sip." Luna menggeleng kepalanya. " Ya udah ikut bunda dulu." tanpa menunggu jawaban Luna, tangannya suda di tarik oleh mertuanya itu.
" Kamu juga ayo." Ucap Bunda Vio kepada Dina. ia pun mengikuti langkah Luna dan mertuanya.
Begitu sampai di parkiran, Bunda vio meminta Dina duduk di depan tepat di samping sang supir sedang ia dan Luna duduk di jok belakang bersama Lina, dimana Luna di apit diantara kedua wanita paruh baya itu.
Belum redah rasa keterkejutannya atas kehadiran sang mama, kini ia di buat semakin gelagapan saat mobil yang mereka tumpangi memasuki kediaman keluarga Sanjaya.
" Ayo turun sayang." Ucap Bunda Vio, begitu mobil berhenti di depan pintu utama.
__ADS_1
" Luna." Panggilan sang mama, saat Luna tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya. " Luna." Panggilnya lagi.
" Lina, sebaiknya kamu masuk duluan, biar Luna aku yang bujuk." Pinta Bunda Vio.
" Jangan terlalu memanjakannya vio! semakin besar kepala dia nanti." Ucap Lina begitu datar, Luna sadar mamanya pasti sudah mengetahui tentang gugatan perceraian yang ia ajukan.
" Din, ayo masuk." Aja mama Lina.
Dina mengangguk, setelah itu keduanya masuk ke dalam rumah besar itu menyisakan Bunda Vio dan Luna, yang masih berada pada tempatnya masing masing.
" Luna, ayo." Bunda Vio mengulurkan tangannya kepada Luna. " Kamu, Percayakan sama bunda." Tetapi Luna tetap pada pendiriannya.
" Bukankah ini rumah kamu juga! apa kamu tidak ingin pulang kerumahmu lagi." Tanya Bunda Vio. " Mau seperti apapun hubungan kamu dan Reval nantinya, kamu akan tetap menjadi anak bunda! Ayo sayang, tidak akan ada yang memaksa kamu lagi, baik itu ayah, bunda maupun mama kamu! kita hanya ingin berbicara Setelah itu keputusan ada di tangan kamu."
" Huuufff." Luna menghembuskan nafas dengan kasar, seolah jutaan batu tengah menghimpit jalur pernapasannya saat ini. Tak ingin membuat mertuanya lama menunggu, ia langsung menyambut uluran tangan bunda, saat dirasa dirinya telah siap.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.