ISTRI KEDUA (Jangan Sakiti Aku Lagi)

ISTRI KEDUA (Jangan Sakiti Aku Lagi)
Bunga Lily


__ADS_3

Setelah Luna sedikit lebih baik, Dina mengajaknya untuk kembali ke mess mereka tetepi Luna menolaknya.


" Lun, Kita kembali ke mess aja yuk! dari tadi mereka lihatin kamu terus." Bujuk Dina lagi, Sambil menunjuk kearah pengunjung rumah sakit serta para perawat yang kepo akan kehidupan orang lain.


" Nggak Din." Tolak Luna lagi.


" Gini Aja, gimana kalau kita jalan jalan! mungkin suasana baru bisa membuat suasana hati kamu menjadi lebih baik lagi." Dina tidak menyerah ia masih membujuk sahabatnya itu untuk pergi dari taman itu. Sebab Dina sendiri tidak nyaman menjadi tontonan pengunjung yang Lewat.


" Mau kemana? emangnya kamu nggak sif." Tanya Luna.


" Aku kan sif malam, kamu gimana sih." Dina mengerucutkan bibirnya, " Kamu ada tempat yang ingin di kunjungi nggak? Biar aku temanin." Sambungnya.


" Ada." Jawab Luna begitu singkat.


" Ya udah kita kesana." Dina berdiri dari duduknya, ia menarik pergelangan tangan Luna untuk pergi dari situ.


Dina memesan taksi melalui aplikasi yang ada di ponsel, tidak lama berselang taksi yang mereka pesan pun datang, keduanya masuk kedalam taksi setelah itu, sang supir Kembali melajukan taksinya menuju tempat tujuan mereka.


Setengah jam kemudian, Mobil berhenti di depan toko penjual bunga, " Kamu tunggu disini aja Din, aku nggak lama ko." Ucap Luna setelah itu ia keluar dan masuk kedalam toko bunga.


Tidak sampai sepuluh menit, Luna kembali keluar membawa seikat bunga Lily, Luna langsung masuk kedalam taksi setelah itu sang sopir kembali melanjutkan perjalanan mereka.

__ADS_1


" Sejak kapan kamu suka sama bunga Lily?" Tanya Dina. Selama mereka berteman Luna tidak terlalu menyukai bunga yang ada di dalam genggamannya itu.


" Sejak dia pertama kali datang dan mengusik kesendirian ku." Jawab Luna terdengar begitu Ambigu.


Dina melirik Luna, kerutan dahinya tercetak begitu jelas." Siapa?" Tanya Dina. " Suami kamu." lanjutannya.


Mendengar kata suami membuat Luna tersenyum kecut. " Bukan dia Tetapi Zeon Gyan Adipura." Luna menyebut nama lengkap Zen seraya menatap bunga Lily yang ia genggam.


" Kamu tahu, saat pertama kali dia mendekatiku, ia membawa seikat bunga Lily seperti ini." Luna sedikit mengarahkan Bunga Lily itu kehadapan Dina. " Kamu pasti sudah mengetahui cerita cerita di luar sana tentang diriku, aku tidak akan mengelaknya! karena apa yang di katakan mereka benar Aku lelaki yang mbarengsek dan tidak menghargai wanita bagi ku wanita hanyalah pemuas saja. Ucapnya dan Aku pun bertanya apa kamu ingin menjadikan aku seperti wanita wanita itu?" Luna menjeda ucapannya. " Kamu tahu, apa jawabannya Din?" Dina dengan cepat menggeleng kepalanya sambil berkata.


" Aku kan nggak ada disitu waktu itu, bagaimana aku tahu apa yang dia ucapkan kepadamu." Mendengar hal Luna langsung tertawa. Untuk pertama kalinya, Dina melihat Luna tertawa lepas tanpa beban, Setelah mereka bertemu lagi.


" Iya juga ya." seru Luna.


" Dia menjawab, Jika aku ingin menjadikan kamu seperti wanita wanita itu, aku tidak akan membawakan bunga Lily untukmu. Apa hubungannya aku dengan bunga Lily. Karena bunga Lily melambangkan kemurnia,ketulusan dan kesopanan. Perasaan ku kepadamu murni dan tulus tanpa adanya niat terselubung atau apapun itu, Aku tidak akan langsung memintamu menjadi kekasihku, sebab aku tahu kamu pasti meragukan aku bunga Lily ini sebagai lambang persahabatan, seandainya suatu hari kamu siap menerima aku sebagai kekasih kamu Bunga Lily putih akan aku jadikan, Lambang cinta ku untuk mu, Sesuai makna dari bunga Lily ini, Suci, murni, tulus dalam persahabatan untuk kehidupan yang baru, Kenapa harus aku yang kamu pilih bukan wanita lain?." Aku kembali bertanya, dia tersenyum dan mengatakan. " Seburuk apapun seorang lelaki, dia akan mencari wanita baik baik untuk menjadi pendampingnya sama seperti aku. Aku mengulurkan tanganku meraih bunga Lily yang ada di tangannya. Aku terima bunga ini sebagai lambang persahabatan, jika kamu bisa mewujudkan makna dari bunga Lily ini dalam diri kamu, Mungkin suatu hari aku bisa menjadi pendampingmu. Aku akan senang tiasa menanti hari itu tiba."


Luna Terus bercerita, sampai keduanya tidak sadar jika taksi yang mereka tumpangi telah berhenti.


" Maaf mbak kita sudah sampai." Ucap sang supir, menghentikan cerita Luna.


" Ah iya! Maaf pak." Ucap Luna, Keduanya pun Keluar dari dalam taksi itu setelah membayar ongkos taksinya. " Terima kasih." Ucap keduanya, Taksi itu pun berlalu.

__ADS_1


" Makam." Ucap Dina, sebab keduanya kini tengah berada di depan area pemakaman.


" Iya, kita akan berkunjung ke tempat orang, yang membuatku menyukai bunga ini." Ucap Luna begitu bersemangat, bibirnya terus melengkung seolah kesedihannya beberapa saat lalu tidak pernah terjadi.


" Ayo." Ajak Luna.


" Iya."


Saat Luna dan Dina melangkah masuk kearah makam, keduanya berpapasan dengan Reval yang hendak keluar dari Area makam itu.


Luna hendak berbalik menghindari Reval tetapi sayangnya ia kalah cepat dengan suaminya, sehingga Luna kini sudah berada dalam dekapan Reval. Reval mendekap tubuh Luna dari belakang, tetapi Luna tidak tinggal diam, ia berusaha melepaskan dekapan sang suami.


Dina yang berada tak jauh dari pasangan yang entah kapan akur itu, dapat melihat dengan jelas senyum yang baru beberapa saat yang lalu tercetak di bibir sahabatnya, kini telah memudar.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


💋 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍


__ADS_2