
Luna mulai menggeliat saat tidurnya terganggu dengan suara ketukan pintu ruang rawat inap itu.
Ia menyesuaikan pandangannya, " Siapa yang mengunci pintu." Pikirannya, Luna ingat jelas, semalam ia tidur lebih awal meninggalkan keempat orang, yang tidak lain adalah sahabat dan suaminya.
Entah kenapa kata suami itu, terasa begitu menggelitik. " Sebentar." Ucap Luna saat suara ketukan pintu kembali terdengar.
Luna bergegas turun dari ranjang, saat akan melangkah! Luna sedikit terkesiap melihat Reval yang tengah tertidur pulas di pinggiran ranjang kecil dimana putrinya itu tertidur, kedua tangannya ia jadi alas kepalanya.
Kini Luna tahu siapa yang mengunci pintu. Luna mengalikan pandangannya kearah pintu karenaΒ suara ketukan kembali terdengar begitu tidak sabarnya.
Ceklek.
" Maaf ya Luna! Aku udah ganggu tidur kamu." Ucap bidan yang kini tengah berdiri di hadapanΒ Luna, saat pintu ruang terbuka.
" Nggak papa ko mbak." Sahut Luna.
" Syukurlah! kalau begitu, kamu tolong siapkan pakaian ganti mereka ya! Karena ini waktunya mereka untuk mandi." ucap sang bidan. Luna pun menuruti, ia langsung menyiapkan keperluan kedua bayinya.
Tak butuh waktu lama, kini kedua bayinya sudah Selesai mandi dan berpakaian, Luna langsung menyusui mereka secara bergantian sedangkan Reval masih tertidur dalam posisi yang sama. sekali pun suara tangisan mereka sempat terdengar beberapa menit yang lalu, hal itu tidak membuat Reval terusik sedikitpun.
Tepat jam sepuluh pagi, barulah Reval membuka kedua matanya. seluruh tulangnya terasa remuk karena beberapa jam tidur dalam posisi yang tidak begitu nyaman.
" Jika kamu masih mengantuk, sebaiknya cari penginapan atau hotel untuk tidur." Ucap Luna, Tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pipih yang ada di tangannya.
" Maaf, semalam Ela terbangun, ia baru tidur lagi setengah empat pagi." Jelas Reval. Luna kembali terkesiap mendengar ucapan lelaki yang berstatus suaminya. Pantas saja, putri kecilnya terus, saja menangis saat di bangun kan membuat Rendra pun ikut ikutan menangis.
" Kenapa tidak membangunkan aku."
" Aku tidak tega, untuk melakukan hal itu! kamu terlihat begitu lelah saat tidur."
" Lain kali bangunkan aku."
" Hu'um." Reval hanya berdehem, sembari melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Sementara itu, dibelakang sana, Luna menempelkan benda pipih yang sejak tadi ia pegang, ke telinganya.
" Hallo Mel, jam berapa kamu datang?" Ya orang yang saat ini ia telpon adalah meli sahabatnya, siapa lagi.
" Ini aku udah mau jalan! ada apa?" Tanya Meli.
__ADS_1
" Bisa Bawakan aku sarapan, Sekaligus seragam ku." pinta luna.
" Kan ada suami kamu, minta tolong sama dia donk, kalau nggak makan makanan yang di sediakan rumah sakit aja! terus seragam kamu buat apa."
" Aku akan mengurus cuti, selagi aku masih di rumah sakit, biar nggak usah bolak balik lagi. Ayolah Mel tolong cariin aku sarapan ya, beli bubur ayam aja. kan kamu tahu sendiri hubungan aku dan dia seperti apa."
" Emangnya hubungan kalian berdua seperti apa? aku nggak tahu tuh."
" Mel, Ayolah."
" Iya iya nanti aku bawakan."
"Makasih ya Mel." Luna pun mengakhiri panggilannya. bersamaan dengan pintu kamar mandi yang terbuka.
Reval mengambil tissue yang terletak di atas meja samping tempat tidur Luna, untuk mengeringkan wajahnya. " Kamu udah sarapan." Tanya Reval.
" Kamu nggak lihat jam berapa ini." Jawab Luna, Sejak tadi ia belum sarapan, bahkan cacing di perutnya sejak tadi sudah berdemo Tetapi ia masih enggan untuk mengatakan ia kepada Reval.
" Maaf ya." Luna tidak menjawab ia memilih diam. " Kamu belum makan ya." Tanya Reval Ketika ia menemukan makanan yang di sediakan rumah sakit masih utuh belum di sentuh sama sekali.
" Lun, Luna." Panggil Reval lagi, ketika Luna kembali mengabaikan pertanyaannya.
" Kenapa tidak makan?"
" Aku nggak suka."
" Ya udah aku keluar cariin kamu sarapan." Reval memutar tubuhnya untuk keluar dari ruangan itu tetapi langkah tertahan sejenak Karena ucapan Luna.
" Nggak usah repot-repot, meli udah dijalan bawain! aku udah pesan sarapan sama dia." Mendengar Ucapan luna, Reval mengusap wajahnya kasar, ia sedikit gusar dengan sikap Luna, Tetapi ia tidak menghiraukan ucapan Istrinya itu dan memilih meneruskan niatnya mencari makan untuk Luna.
...ππππππ...
Reval kembali ke ruang Luna dengan membawa dua kantong plastik yang ia tenteng di tangan kanannya.
Ada rasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini, dimana Luna kini telah siap dengan seragam kerjanya. " Luna." Panggil Reval, Istrinya itu hanya menengok sebentar setelah itu ia kembali merapikan rambutnya.
" Aku hanya mengurus cuti, tolong jaga mereka berdua." Ucap Luna saat menyadari tatapan mata penuh tanya dari suaminya.
" Kamu yakin? kamu baru melahirkan kemarin! apa tidak sebaiknya istirahat dulu." Seru Reval.
__ADS_1
" Aku baik baik saja tak pernah khawatir, karena aku tidak selemah yang kamu pikirkan." Reval menarik nafas dalam-dalam, baru dua hari besama Luna dan selama dua hari ini, Luna selalu menyulitkan dirinya.
" Bukan itu maksudku! aku khawatir sama kamu, apa itu salah?"
" Ntalah." Luna menaikkan kedua bahunya, ia berjalan menghampiri ranjang kecil dimana kedua bayinya berada. " Sayang kalian jangan rewel ya! mama pergi sebentar, begitu urusan mama selesai, Kita akan pulang."Luna mendaratkan kecupan di kening putra putrinya.
Setelah itu Luna langsung pergi, tanpa sepatah kata pun untuk Reval, ia nmmelewati Reval begitu saja.
Benar saja, begitu urusannya selesai, Luna langsung kembali keruangannya, ia langsung merapihkan barang barangnya begitu ia selesai berbicara dengan dokter anak, mengenai kondisi bayinya, sebab Luna merasa dirinya baik baik saja cukup kedua anaknya yang ia pastikan kondisi mereka untuk di bawah pulang.
" Lun.." Luna menoleh, mendapati Reval tengah menatap pada dirinya.
" Apa?" mengalihkan pandangannya dari Reval, ia kembali fokus merapikan barang barangnya.
" Aku mengkhawatirkan mu, bisakah kamu istirahat lebih dulu dirumah sakit, minimal sampai dokter mengatakan kamu baik baik saja." Reval terlihat begitu gusar.
" Jangan bertingkah layaknya suami yang begitu mencintai istrinya! ini tubuhku, baik atau tidaknya aku dapat merasakan hal itu, tolong jangan berlebihan kepadaku." Sahut Luna.
" Apa salah jika aku mengkhawatirkan istriku." Tanya Reval, sebisa mungkin ia menahan nyeri di dadanya. "Tolong jangan mempersulit hubungan ini, aku benar-benar ingin memperbaikinya." Pinta Reval.
" Jangan repot repot, cukup berikan apa yang dibutuhkan kedua anakmu." Luna mengambil ponselnya dari dalam tas, ia segera memasang taksi memulai aplikasi yang terpasang disana tanpa bertanya kepada lelaki yang sejak tadi menatap gerakan geriknya.
Penyesalan, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Reval. mau berandai pun percuma karena sampai kapan pun waktu tidak dapat ia putar kembali, yang dapat Reval lakukan saat ini adalah berusaha dengan tulus, untuk hasilnya biar waktu yang memutuskan itu, karena setiap proses membutuhkan waktu begitu juga dengan luka.
.
.
.
.
Bersambung.
Minal aidzin wal faizin, Mohon maaf lahir batin, Jika vi_via punya salah sama kalian semua mau itu di sengajai atau tidak, mohon untuk di maafkan ya.πππ
Happy reading..πππ
Jangan lupa like..ππ
__ADS_1
Dan vote seikhlasnya..ππ