
Tut... Tut... Tut...
Reval kembali menghubungi putra begitu ia sampai di bandara.
" Kamu dimana." Tenya Reval begitu panggilannya di jawab sahabatnya itu.
" Aku masih di kantor." salah satu alis Reval langsung terangkat. " Aku tahu kamu begitu ingin menemui Luna Tetapi semua butuh persiapan untuk perjalanan kesana. Bagaimana jika perjalanan kesana di lakukan besok aja." Tawar Putra.
" Tidak put! aku tidak bisa menunggu selama itu."
" Ayolah bro, jangan berlebihan! kamu mampu menunggunya selama sembilan bulan! Kenapa sehari tak bisa."
" Itu karena aku tidak mengetahui keberadaan dan bisakah kamu kesini Segera tanpa banyak bicara."
" Maaf bro aku tidak bisa, aku sibuk! tetapi jika kamu ingin menemuinya besok, aku janji akan menyiapkan semuanya untukmu." Ucap Putra seraya menutup panggil itu. tanpa peduli segala umpatan yang keluar dari mulut Reval.
perjalanan yang direncanakan Reval Akhirnya di tunda besok, sesuai perkiraan putra.
...💋💋💋💋💋...
Pagi harinya, tepat jam sepuluh pagi, Reval, Dina, Nurul dan putra sudah berada di bandara.
Reval melangkah masuk kedalam pesawat pribadinya, di ikuti Nurul dan Dina, sedangkan putra hanya mengantar saja.
Begitu pesawat milik keluarga Sanjaya itu mengudara, putra pun melanjutkan perjalanannya kembali keperusahan. dimana tumpukan berkas berkas sedang menunggu untuk ia selesaikan.
Reval, Dina dan Nurul menepuh perjalanan Hampir enam, Akhirnya mereka tiba di salah satu daerah kepulauan yang Luna pilihan sebagai tempat pelariannya.
Begitu turun dari spead ketiganya kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit dimana Luna berkerja, guna menanyakan alamat rumahnya.
Tepat jam empat sore mereka sampai di rumah sakit, Reval meminta salah satu anak buahnya untuk turun mencari tahu alamat Luna.
Tak sampai sepuluh menit, mereka menemukan alamat Luna tanpa menunggu lama Reval langsung meminta sang supir untuk mengantar mereka ke alamat yang mereka dapat dari bagian informasi.
Sampainya di alamat Luna, Nurul dan Dina turun dari mobil untuk memastikan Alamat itu.
Tok.... tok... tok...
Nurul mengetuk pintu kontrakan Luna, beberapa kali mencoba! tidak ada respon atau tanda tanda pintu akan di buka.
" Maaf cari siapa?" Tanya pemilik kontrakan.
" Maaf Bu! apa benar yang tinggal disini bernama Luna." Bukannya menjawab Dina malah balik bertanya.
" Iya! mau cari suster Luna ya?" Pemilik kontrakan itu begitu ramah.
__ADS_1
" Iya Bu! kira kira Lunanya kemana ya Bu?" Kali ini giliran Nurul yang bertanya.
" Suster Luna masuk rumah sakit."
" Luna sakit apa Bu?" Tanya Dina, raut wajahnya terlihat khawatir.
Pemilik kontrakan di mana Luna tinggal itu tersenyum kepada Dina dan Nurul. " Perutnya sakit, Kan sudah saatnya dia melahirkan."
" Melahirkan?" Ulang Dina dan Nurul, mereka sedikit terkejut dengan informasi yang mereka dengan.
" Rul, kayanya kita salah alamat deh." Bisik Dina, seraya menyenggol lengan Nurul.
" Tau ah." Nurul menaikkan kedua bahunya.
" Kenapa nak? Ada masalah?" Tanya pemilik kontrakan itu, ketika keduanya saling berbisik.
" Nggak kok Bu."
" Ko lama banget." Sahut Reval dar belakang sana, ia sedikit tidak sabaran.
" Sabar napa."
" Sebaiknya kalian ke rumah sakit biar bisa melihat sendiri itu Luna yang cari atau bukan." Usul pemilik kontrakan.
" Sama sama." Nurul dan Dina pun langsung masuk ke dalam mobil.
" Ibu ibu yang tadi bilang apa?" Tanya Reval.
" Luna di rumah sakit, sebaiknya kita kesana buat mastiin." Ucap Dina. Sedangkan Reval hanya mengangguk.
...💋💋💋💋💋...
Begitu tiba di rumah sakit, Dina langsung bergegas menuju ruangan informasi untuk menenyakan, ruangan Luna tanpa menunggu Nurul dan Reval.
Setelah mengetahui ruangan Luna, Dina langsung berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan itu, seolah Luna akan berlari jika ia melambatkan langkahnya.
" Dina tunggu." Teriak Nurul, tetapi tidak di hiraukan Dina.
Begitu tiba di depan ruangan Luna! Dina langsung membeku di tempatnya, saat melihat Luna yang tertidur melalui kaca transparan yang menempel di pintu yang masih tertutup itu, Begitu pun dengan Nurul sedangkan Reval langsung memutar Hendel pintu dan masuk.
Perasaan Reval campur aduk, antara bahagia, sedih juga marah karena dua malaikat kecil yang tidur di ranjang kecil tepat di samping Luna, tidak pernah ia tahu kehadiran mereka, seandainya hari ini ia tak menemukan Luna mungkin selamanya ia tidak akan pernah tahu tentang mereka.
" Narendra Azzam Sanjaya dan Naela Azzura Sanjaya." Gumam Reval saat membaca Nama kedua bayi yang belum genap sehari itu, air matanya tak bisa ia tahan rasanya Reval ingin berteriak meluapkan perasaannya saat ini.
Perasaan yang Reval rasakan saat melihat kedua bayi itu, tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata, sungguh ini adalah kebahagiaan yang paling nyata melebihi apa yang dia dapat selama ini, Sebelumnya ia telah memiliki anak dari Anita tetepi kenapa perasaan yang di rasakan kepada bayi itu beda dengan kedua bayi yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1
" Hi My princess." Sapa Reval, ia mengendong bayi yang bernama Naela itu. " My Beautiful Ela." Ucapnya lagi sambil mencium kedua pipinya.
Hal yang sama juga Reval lakukan kepada Narendra. Sedangkan Dina dan Nurul memilih untuk menunggu di depan.
Usai bermain dengan kedua buah hatinya, Reval menghampiri Luna yang tengah tertidur pulas usai melahirkan kedua anaknya.
" Terima kasih sudah melahirkan mereka dan tidak membenci mereka." Ucap Reval Sambil mencium lama kening Luna. Reval menyingkirkan anak anak rambut yang menutupi wajah lelah Istrinya itu.
Reval duduk di sisi ranjang Luna, tangannya terus bergerak mengusap kepala sang istri. Hal itu tentu saja membuat Luna terusik.
Perlahan Luna mulai membuka kedua matanya, saat tatapannya bertemu dengan tatapan mata Reval, Luna kembali memejamkan matanya, Luna tidak menyadari yang ada di hadapannya adalah Reval, ia pikir itu hanya mimpi. Satu detik, dua detik. mata Luna langsung terbuka lebar. " Kamu, ngapain kamu disini." Sentak Luna, ia berusaha menjauh dari Reval tetapi sayangnya gerakannya terbatas.
karena punggungnya terhalang pembatas ranjang. " Jangan sentuh aku." Teriak Luna saat Reval ingin memeluknya.
" Sayang bisa kah kamu tidak mencari masalah denganku, Sembilan bulan lebih kamu buat aku mencarimu seperti orang gila! Ayolah sayang jangan seperti ini." Bujuk Reval.
" Kalau aku tidak mau! kamu mau apa ha'ah?" Tanya Luna tanpa menurunkan nada bicara.
" Aku mau kamu dan mereka berdua." Reval mengusap pipi Luna." karena Kamu cuma punya dua pilihan, ikut bersama aku dan kita besarkan mereka bersamaan sama atau tetap tinggal disini tanpa anak anak kita."
" Kamu tidak berhak membawa mereka, mereka adalah anak anakku."
" Aku juga memiliki hak yang sama denganmu atas mereka! karena mereka juga anakku." sahut Reval. " Bahkan aku juga berhak atas dirimu! karena kamu adalah istriku! Aku mencintaimu." Ucap Reval, ia langsung menarik tubuh Luna dan memeluknya.
" Aku tidak mencintaimu." Ucap Luna, ia berusaha melepas pelukan Reval.
" Akan ku buat kamu mencintaiku." Reval mendarat ciuman yang bertubi tubi di puncak kepala Luna.
" Lepaskan aku." Teriak Luna, tetepi Reval tidak peduli ia tetap memeluk tubuh istrinya itu.
.
.
.
.
Bersambung.
Happy reading..💋💋💋
Jangan lupa like..👍👍
Dan vote seikhlasnya..🙏😗
__ADS_1