ISTRI KEDUA (Jangan Sakiti Aku Lagi)

ISTRI KEDUA (Jangan Sakiti Aku Lagi)
Rahasia


__ADS_3

" Sadar Luna kamu disini hanya untuk Rendra dan Naela." Luna berusaha menguasai dirinya agar tidak terluka lagi. Bukannya ia tidak percaya kepada Reval, tetepi untuk merasakan Luka yang sama, Kedua kalinya Luna tidak akan pernah siap.


Reval menarik tangan Luna saat wanita itu akan beranjak pergi. membuat Luna terjatuh dalam pangkuannya." Mau kemana, Hmm." Tanya Reval.


" Apa apaan sih kamu! Lepas, aku mau masak ." Luna memberontak dalam dekapan Reval.


" Nggak Usah masak, aku udah pesan! paling bentar lagi datang." Reval berkata seraya mendusel wajahnya pada punggung Luna, Ia menghirup dalam-dalam wangi bayi yang melekat pada tubuh wanitanya.


" Ya udah lepas kalau gitu." Desak Luna. saat Reval tak kunjung melepaskan kedua tangan yang melingkar di perutnya.


" Sebentar saja sayang, aku kangen sama kamu. Apa kamu tidak kasihan dengan suami mu ini, semalam aku kurang tidur karena menjaga mereka berdua, terus paginya kerja..."


" Kenapa kamu tidak bangunkan aku." Potong Luna cepat, sebelum ucapan suaminya itu merambat ke mana mana.


" Wajahmu terlalu cantik dan mengemaskan saat tertidur, itu sebabnya, aku tidak tega untuk membangunkan kamu, aku tidak ingin kehilangan pemandangan indah itu."


" Reval stop membual." Teriak Luna. Ia begitu kesal dan malu sekaligus. Reval yang menangkap wajah merona Istrinya, semakin lihai mengoda Luna.


" Aku tidak membual sayang! karena itu kenyataannya." Reval, memutar tubuh Luna sehingga berhadapan dengannya, kaki Luna di tekuk kan kesamping. Dijarak yang begitu dekat, jantung Keduanya saling mengungkapkan rasa melalui debaran yang mungkin bisa mereka dengar.


Reval membawah pandangan Luna kearahnya, ia menatap dengan begitu dalam kedua manik berwarna coklat terang itu. " Aku mencintaimu, Sangat mencintai kamu. Andai hati bisa mengukir nama pemiliknya, hari ini juga aku izinkan kamu membedahnya. untuk melihat kesungguhanku." Ucap Reval di ikuti kecupan singkat di bibir Luna.


Luna yang tidak tahan dengan perlakuan Reval, spontan menegelamkan wajahnya pada pundak Reval. bersamaan dengan itu, tangan Reval terangkat mengusap punggung Luna dengan senyum yang tidak pernah pudar dari bibirnya, ini adalah saat saat yang paling Reval inginkan, dimana dia dan luna berbicara dari hati ke hati tanpa harus ada paksaan.


" Maaf, Maafkan aku yang pernah dengan bodohnya menyakiti kamu. Aku menyesal pernah melakukan itu kepadamu." Reval dapat merasakan air mata yang menetes membasahi pundaknya. tidak ada suara tangisan, hanya isakan halus yang menggambarkan perasaan Luna. Hal itu membuat Reval merasakan sakit di dadanya. Terkadang luka perlu di sayat kembali untuk memastikan dia benar benar sembuh, sebab luka yang terlihat sembuh diluar tidak bisa menjamin di dalam pun sembuh. Inilah yang coba Reval lakukan, mengobati luka yang pernah ia torehkan.


Dan untuk pertama kalinya Luna menunjukkan kelemahannya di hadapan Reval. " Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."Tangan Reval bergerak terus mengusap punggung Luna dengan begitu Sayangnya." Jika Aku mengulanginya, saat itu juga kamu harus membunuhku, karena aku tidak akan sanggup jika harus hidup tanpa kamu dan mereka berdua." Terserah jika Luna berpikir ucapan Reval hanya sekedar gombalan semata, bagi Reval apa yang dia ucapkan hari ini tulis dari dalam hatinya.


" Maafkan aku." Reval kembali mengecup pipi Luna. " Luna, Sayang! Lihat aku." Pinta Reval. Ia sedikit mendorong tubuh Luna, sehingga memudahkan dirinya untuk menatap wajah sembab Istrinya.


" Kamu mau memaafkan aku kan sayang?" Tanya Reval.

__ADS_1


" Aku sudah memaafkan kamu tapi Untuk men_."


Ting tong...


Suara Bel membuat Luna menghentikan Ucapannya, pandangan Keduanya tertuju kearah pintu. " Mungkin pesanannya sudah datang." Luna turun dari pangkuan Reval.


" Biar Aku yang buka pintunya." Seru Reval membuat langkah Luna terhenti.


" Hmmm." Gumamnya, di ikuti anggukan sekilas. sebelum Luna berlalu ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang sedikit sembab.


Sementara itu, Reval membukakan pintu untuk, orang yang telah menganggu kebersamaan mereka sore itu.


" Maaf, aku ganggu ya." Tanya wanita yang telah berdiri di depan pintu apartemen mereka, begitu pintunya di buka, Reval hanya tersenyum simpul kepada wanita itu. " Luna nya ada?"


" Ada! ayo masuk." Ajak Reval. " Duduk dulu Din! nanti aku panggil Lunanya." Ya wanita itu adalah Dina sahabat Luna. Setelah mempersilahkan Dina duduk, Reval langsung mencari keberadaan Istrinya.


" Sayang ada sahabat kamu tuh." Ucap Reval kepada Luna yang baru keluar dari kamar mandi, wajahnya kini terlihat sedikit lebih segar.


" Siapa?" ko


" Hai Din." Seru Luna, seraya tersenyum dan cium pipi kanan dan kiri Dina. " Ada apa! Tumben kamu ketempat aku."


" Ada yang mau aku ceritakan sama kamu lun! Sebenarnya waktu itu aku udah mau cerita, cuma aku sedikit canggung, kita baru bertemu kamu juga baru selesai melahirkan, aku nggak mau masalah aku jadi Beben pikiran kamu." Ucap Dina merasa tidak enak dengan sahabatnya itu.


" Masalah apa? Ayo cerita." Desak Luna.


" Ini tentang Nyonya Erlangga."


" Oohh Nyonya Erlangga." Ucap Luna, satu detik dua detik... " Tunggu, tadi kamu bilang siapa?"


" Nyonya Andini Erlangga." Mata Luna langsung membulat seketika, antar percaya dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

__ADS_1


" Dia nggak ganggu kamu kan." Tanya Luna, yang mulai di selimuti perasaan khawatir untuk Sahabatnya itu.


" Aku nggak tahu Lun, tapi seminggu sebelum ayah aku meninggal aku sempat bertemu dengannya, Dia marah banget waktu tahu aku ada di kota ini." Luna mengangguk paham. Selama ini tidak ada yang tahu jika Luna dan Dina mempunyai masalah dengan keluarga itu, lebih tepatnya nyonya keluarga itu yang tidak menyukai kedua wanita ini.


" Maaf ya, aku nggak tahu kalau ayah kamu udah meninggal." Ucap Luna penuh penyesalan. saat ia pergi banyak yang ia lewatkan.


" Nggak papa! aku ngerti ko, tapi aku sedikit takut ketemu lagi sama mereka." Dina mengutarakan kerisawan hatinya.


Luna menggenggam tangan Dina," Apa kamu masih berharap Kepadanya?" Dengan cepat Dina menggeleng kepalanya.


" Aku bukan gadis berusia 17 tahun lagi lun."


" Kalau begitu, Lupakan tentang keluarga itu dan anggaplah kita tidak pernah mengenal mereka." Dina tersenyum.


Ting


Bel Apartemen kembali berbunyi. Luna melirik sekilas ke arah pintu. " Sebentar ya Aku buka pintu dulu." Dina mengangguk. Luna pun meninggalkan Dina untuk membuka pintu itu.


" Bang, ada yang mau bun_ Luna." Bunda Vio begitu terkejut dengan keberadaan Luna di Apartemen Reval. Tadi ketika di jalan, Bunda Vio Mendesak suaminya untuk putar balik karena ada yang harus dia bahas dengan putranya itu, tidak ingin membuat istrinya kecewa Sanjaya pun menuruti dan disinilah mereka dengan ketejutan mereka.


.


.


.


.


Bersambung.


Happy reading..💋💋

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya..🙏😘


Yang mau taburin 🌹 juga silahkan, yang penting ikhlas biar Vivia tenang.,🤣🤣


__ADS_2