
" Suruh Nurul keruangan saya sekarang." Ucap Reval melalui sambungan interkom, kepada sekretarisnya.
Setelah itu Arsen menghubungi pengacaranya. Ia begitu marah ketika mendapatkan surat panggilan dari pengadilan agama.
Tok... tok... tok..
Suara ketukan pintu ruang kerja Reval. " Masuk." pintanya.
Ceklek. Nurul masuk kedalam ruangan kerja Reval, selama ia tidak pernah berurusan langsung dengan Reval jika ada masalah pekerjaan atau apapun itu, Reval akan memanggil putra! bukan dirinya.
" A ada apa ba pak mencari saya." Ucap Nurul begitu formal walaupun sedikit terbata bata.
" Apa kamu masih bertukar kabar dengan Luna." Reval langsung to the point.
" Iya." Semakin deg degan saja Nurul di tanya seperti ini. dalam hati ia terus berdoa, apapun masalah Luna dengan suaminya, semoga tidak merembes kepada dia dan putra.
" Kamu hubungi Luna, terserah kamu mau ngomong seperti apa ke dia! semua terserah pada kamu, yang jelas setengah jam lagi, saya mau dia sudah harus ada di restoran Yang saya pilih. Alamatnya sudah saya kirim ke ponsel kamu dan saya tidak terima penolakan apalagi sampai harus menjelaskan dua kali." Entah apa yang di rasakan Nurul saat ini, andaikan Reval bukan atasan sekaligus sahabat suaminya, mungkin semua penghuni yang ada di ragunan sudah di keluarkan kepada lelaki egois itu. " Kamu boleh pergi sekarang lima belas menit lagi saya tunggu kabar baik dari kamu. " Sambungnya.
" Dasar lelaki egois nggak punya hati, mbarengsek, nggak tahu diri, sialan." Ucap Nurul dalam hatinya rasanya ia ingin mencabik cabik seseorang saat ini juga. Nurul begitu Geram dengan ulah atasannya itu, sepanjang ia melangkah kan kaki menuju ruangannya, ia terus menghentak hentakan kakinya.
Begitu sampai di tempat duduknya, Nurul langsung menghubungi Luna.
__ADS_1
Tut... Tut .. Tut..
" Hallo." Jawab Luna dari seberang sana.
" Lun, kamu buat masalah apa lagi sih." Tanya Nurul tanpa basa basi.
" Masalah? aku nggak merasa tuh punya masalah sama kamu! kenapa emang?" Luna balik bertanya, keningnya berkerut menandakan ia sedang bingung dengan apa yang baru saja di tanyakan oleh Nurul sahabatnya itu.
" Bukan masalah sama aku! tapi sama suami kamu."
" Ohh dia! Aku baru saja menggugatnya."
" Cerai?"
" Serius."
" Dua rius malah."
" Pantas aja dia marah marah nggak jelas, ternyata kamu yang penyebabnya."
" Udah nggak usah bahas dia lagi! ngomong ngomong ada apa nih, tidak ada hujan tidak ada panas kok tumben kamu telpon aku." Tanya Luna.
__ADS_1
" Suami kamu yang suruh, dia ingin ketemu sama kamu! aku aja cuma di kasih waktu lima belas menit buat telpon kamu! udah gitu pakai desak kamu harus mau segala." Aduh Nurul, sedangkan Luna yang di seberang sana tidak peduli.
" Katakan kepada bos kamu sekaligus sahabat suami kamu itu, bahwa aku Luna tidak akan pernah mau bertemu dengannya lagi, kecuali di pengadilan titik nggak pakai koma." Ucap Luna begitu menggebu gebu. Tanpa Luna tahu, Jika ponsel yang sejak tadi di pegang sama nurul, kini sudah berpindah ke tangan Reval.
" Hebat sayang! Aku akui keberanianmu itu, tetapi ingatlah akan satu hal sayang, Aku tidak akan pernah menyeretmu lagi untuk kembali ke sisi ku dan Akan aku pastikan kamu sendiri yang akan mencabut gugatanmu serta kembali kepada ku." Reval begitu yakin ketika ia mengucapkan kata katanya.
" Semua itu hanya akan terjadi dalam mimpimu saja." balas Luna.
" Baiklah Luna sayang, terserah kamu saja! semoga bukan kamu yang bermimpi." Reval mengakhiri Sambungnya telpon itu, setelah itu mengembalikan ponsel yang ia pegang ketangan pemiliknya. terima kasih sudah menghubunginya untuk saya."
.
.
.
.
Bersambung.
Maaf jika banyak typo ya! soalnya kondisi Vivia lagi nggak bagus! jadi konsentrasinya terganggu dengan ngantuk Efek obat.
__ADS_1
Untuk sekarang aku up sedikit dulu, kalau udah lebih baik, aku panjangin lagi part-nya. makasih buat kalian yang udah mau ngertiππ