
Apa yang di ucapkan Dion semalam, benar benar ia tepati. Paginya ia menyuruh orang yang sama yang mengantar makan kemarin siang kepada Melly, mengantarnya pulang. Setelah membawakan Melly sarapan dan pakaian.
Saat Melly bertanya dimana Dion, Lelaki itu hanya menjawab Dion telah pergi dari semalam dan belum kembali dia meminta kepada lelaki itu untuk mengantar Melly sampai ke apartemen setelah Melly sarapan.
Sepanjang perjalanan pulangnya, Melly terus menatap deretan pohon pohon dan rumput yang ia lewati dari balik kaca jendela mobil. Sesekali ia memegang erat baju bagian dadanya. Untuk menghalau rasa sakit yang saat ini, menyiksa nya.
" Kenapa saat kita bercerai aku tidak pernah merasa sesakit ini." Tanya Melly pada dirinya sendiri. Ia bersandar pada sandaran kursi, mengangkat wajahnya keatas dengan kedua mata yang terpejam. Berharap sesak di dadanya semakin berkurang.
Tetapi sayangnya, oksigen di sekitarnya serasa semakin menipis. Melly menurunkan kaca mobil menghirup udara sebanyak banyaknya,. Hal itu tak kunjung membuat perasaannya lebih baik.
" Antar aku ke Apartemen Dion." Pinta Melly kepada lelaki yang mengantarnya.
" Maaf Nyonya, saya hanya diminta untuk mengantar nyonya ke apartemen anda, nyonya." Ia terus mengendarai mobil itu ke alamat yang di berikan Dion tanpa menghiraukan protes dari Melly.
Tepat Jam sepuluh pagi mobil yang mengantar Melly tiba di apartemennya." Nyonya, ini tas dan ponsel Anda. " Ucap lelaki itu sambil memberikan Barang barang Melly yang di simpan oleh Dion.
" Terima kasih." Melly menyambar tas dan ponselnya. Setelah itu ia segera turun untuk mencari taksi menuju apartemen.
Mungkin hari ini tuhan sedang mempermudah usahanya, begitu ia keluar dari mobil itu salah seorang penghuni apartemen yang sama dimana apartemen luna berada, turun dan taksi dan segera masuk ke lobby apartemen. Melly pun menghampiri taksi itu, setelah memastikan tidak ada yang memesan, Melly langsung masuk ke dalam taksi dan duduk di jok belakang tepat di belakang sang supir.
Taksi itu perlahan lahan keluar dari halaman Apartemen Mewah itu, setelah Melly menyebut alamat yang ingin ia tujuh.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya taksi itu sampai di Apartemen Dion, Melly langsung bergegas turun setelah meminta supir taksi untuk menunggu.
__ADS_1
Melly masuk ke dalam lift setelah melewati Meja resepsionis tentunya. Lift berhenti di lantai sembilan, dimana apartemen dion berada di sana. Ia melangkah keluar dari dalam lift dan berhenti di depan sebuah pintu berwarna hitam.
Melly menekan code untuk membuka pintu itu, setelah pintu terbuka Melly masuk, sambil memanggil manggil Nama Dion. Ia mencari Dion di setiap sudut apartemennya, mulai dari ruang kerja, kamar tidur, toilet, ruang fitness Sampai ruang santai. Ia tidak menemukan keberadaan Dion di sana.
Melly pun meninggalkan apartemen itu. Ia memutuskan untuk mencari Dion di kantornya. Selama perjalanan kekantor Melly mencoba menghubungi Dion, tetapi selalu saja suara operator yang menyahutinya. Taksi itu kembali berhenti begitu tiba di perusahaan Dion, Melly keluar dari dalam taksi setelah membayar ongkos taksi.
Melly berhenti sejenak, ia menatap gedung pencakar langit yang ada di hadapannya, perusahaan ini adalah milik keluarga mantan suaminya yang di wariskan untuk Dion.
Melly melangkah memasuki lobby, setelah meyakinkan dirinya. Dulu waktu masih berstatus istri Dion, ia sering ke perusahan Dion jika ada berkas berkas penting lelaki itu yang ketinggalan dan mengharuskan Melly untuk mengantarnya.
Kini Melly kembali, melangkahkan kaki disini dengan status yang berbeda. Sebagai janda dari pemilik perusahaan ini.
Langkah Melly terhenti di depan meja resepsionis. Tentu dia harus menanyakan keberadaan Dion terlebih dulu serta memberi tahu kedatangannya kepada karyawan mantan suaminya, untuk di sampaikan kepada Dion.
" Selamat siang, mbak Ena, apa Pak Dion nya ada." Sapa Melly sekaligus bertanya. Resepsionis yang bernama Ena itu tersenyum kepada Melly, ia begitu menyukai mantan istri bosnya itu. Sikap nya yang rama dan murah senyum membuat ia begitu di senangin hampir seluruh karyawan yang bekerja pada Dion.
Ena langsung meraih telpon yang ada di hadapannya, langsung melakukan panggilan cepat kepada sekretaris Dion.
" Maaf Mel, Pak Dion mengatakan tidak ingin bertemu siapapun termasuk kamu." Ucap Ena setelah menutup sambungan telpon dengan sekretaris Dion.
" Bisakah kamu menelepon sekretarisnya, aku ingin berbicara dengan dia." Pinta Melly. Ena awalnya ingin menolak tetapi, Melly terus mendesak. Mau tak mau Ena pun menuruti keinginan Melly.
Hal yang sama Melly lakukan dengan Sekretaris Dion, memaksa wanita itu untuk menyambungkan langsung dengan Dion.
__ADS_1
" Apa kamu ingin di pecat." Teriak Dion Dari seberang sana. " Aku sudah bilang jangan mengganggu ku." Sambungnya.
" Jangan memecatnya, karena ini adalah permintaanku, aku yang memaksa nya." Suara lembut itu, membuat Dion terdiam seketika. Melly dapat mendengar helaan Nafas berat dari seberang sana.
" Bukankah aku sudah mengatakan semuanya, semalam! Tolong jangan membuat ini sulit Mel, kita ikuti semuanya sesuai keinginan kamu." Ucap Dion.
" Apa kamu tidak ingin mengetahui isi hatiku." Tanya Melly.
" Apa ini akan ada bedanya, untuk hubungan kita." Alih alih menjawab, Dion mala balik bertanya." Mel, seperti kata kata mu di pengadilan waktu itu. Hubungan kita ini seperti film, kalau sudah berakhir biarlah berakhir! Mau di ulang seperti apapun, akhirnya akan tetap sama. Mel_" Belum selesai Dion berbicara Melly terlebih dulu menutup sambungan telpon. Ia tidak sanggup mendengarkan kata kata Dion lagi, walaupun semua kata kata itu berawal dari dia yang mengucapnya.
" Makasih Mbak." Ucap Melly kepada Resepsionis yang telah membantunya berbicara dengan Dion. Setelah itu ia melangkah pergi dari perusahaan itu, Dengan linangan air mata.
Melly bukan Wanita lemah, tetapi untuk hari ini dia ingin menangis, menyesali semuanya yang telah benar benar berakhir. Sepanjang kakinya Melangkah ia terus berdoa semoga lelaki itu mendapatkan wanita yang lebih baik dari dirinya. Lebih bisa menghargai sebuah hubungan bukan seperti dirinya yang menganggap hubungannya dengan Dion, sebagai hubungan simbolis mutualisme.
Setiap cerita memiliki akhir yang berbeda, ada yang bahagia seperti Luna dan yang Sedih Seperti Melly. Walaupun di setiap bagian terdapat cerita manis yang penuh cinta, itu bukanlah sebuah jaminan atau tolak ukur akhir yang bahagia atau pun Sedih.
Karena pada dasarnya, setiap rumah tangga memiliki cerita dan masalah yang Berbeda beda. Cinta bukan jamin untuk hubungan yang harmonis jika Ego yang di besarkan.
.........
Terima kasih untuk setiap dukungan kalian.
...Happy Reading. 💋💋💋...
__ADS_1
...SALAM MANIS DARI AKU UNTUK KALIAN SEMUA. 😘😘...
...Vivia129....