
Reval menemui pak Kuswanto untuk membicarakan kepindahan Luna. Dan saat ini dia tengah duduk berhadapan langsung dengan leleki paruh baya itu, sudah satu jam Reval di ruangan itu, tetapi ia belum menemukan solusi yang tepat.
" Luna itu pegawai negri. dia bukan karyawan suatu perusahaan yang mana bisa di pindahkan kapan saja sesuai kehendak atasannya. disini ada prosedur yang harus Luna penuhi, apalagi dia baru satu tahun di sana. kalau kalian tidak bisa menunggu minta saja istri kamu untuk pensiun dini." Jelas pak Kuswanto, membuat Reval semakin bingung. tentu saja Luna tidak akan mau berhenti bekerja. mengingat banyak orang di luar sana yang menginginkan posisi Luna, Tetapi begitu sulit untuk mendapatkannya. " Jangan terlalu dipikirkan, mungkin ini salah satu cara Tuhan untuk menguatkan hubungan kalian, melalui Rasa rindu." Sambungnya, hanya sekedar guyonan. Tetapi kata kata itu, di benarkan oleh Reval.
" Mungkin yang Anda katakan ada benarnya. Siapa tahu dengan begini Luna dapat melihat kesungguhanku." Sahut Reval. Sekaligus meyakinkan dirinya untuk menjalani hubungan jarak jauh, sampai Luna bisa di pindah tugaskan. " Terima kasih atas waktunya." Reval berdiri dari duduknya, merapikan jasnya sejenak dan menjabat tangan pak Kusmanto sebelum keluar dari ruangan itu, setelah pamit kepada lelaki paruh baya itu.
...💋💋💋💋💋...
Begitu ia selesai menemui pak Kuswanto, Reval langsung bergegas pulang kerumah. Sebab baru beberapa jam jauh dari anak dan istrinya, Reval sudah begitu merindukan mereka. apalagi dia harus melewati hari hari tanpa mereka, membayangkan saja rasanya Reval tidak sanggup, tetapi mau bagaimana lagi,. semua harus berjalan dengan semestinya.
" Sayang lagi apa?" Tanya Reval saat ia mendapatkan Luna tengah fokus dengan laptop yang ada di hadapannya.
" Bukan apa apa." Jawab Luna sedikit gugup. ia segera menutup laptop itu sebelum Reval Melihat apa yang tengah dia kerjakan.
Hal itu membuat Reval menautkan alisnya, tetapi ia memilih untuk membiarkan tanpa ingin bertanya lebih jauh.
" Mereka dimana?"
__ADS_1
" Di kamar! tidur."
" Aku mau lihat mereka dulu." Ucap Reval Seraya mengecup puncak kepala istrinya itu. Saat Reval akan berdiri, Luna menarik tangannya. " Kenapa." Tanya Reva lagi dan hanya dijawab Luna dengan gelengan tanpa melepaskan pegangan tangan Reval.
Reval mengangguk sembari menunjuk tangannya yang di genggam Luna. " Nggak boleh?" Luna balik bertanya. membuat Reval terkekeh dengan sikap Luna. layaknya Anak kecil yang menginginkan sesuatu tetapi takut mengutarakan keinginannya.
Reval kembali mendekati Luna, lalu mengusap kepalanya. " Boleh. Hanya saja kamu tiba tiba berinsiatif duluan, biasanya Juga tidak seperti ini." Reval menjeda ucapannya sejenak." Apa ini pertanda kamu sudah menerima aku." Luna langsung melepaskan tangan Reval.
" Entahlah."
" Jangan di paksakan, kita pelan pelan saja." Sahut Reval di angguki Luna.
" Jangan ucapkan terima kasih, cukup ingat status kamu dan aku disini, walaupun kamu belum sepenuhnya bisa menerima aku, setidaknya jaga perasaan aku saat kamu jauh dariku." Pengalaman buruknya dengan Anita saat menjalani hubungan jarak jauh membuat ia sedikit takut hal itu akan terulang lagi.
Bukan maksud Reval untuk menyamakan Anita dengan Luna, hanya saja ia tidak ingin kehilangan wanita yang ada di hadapannya itu.
Luna mengangguk." Aku tidak akan macam macam disana, percayalah."
__ADS_1
" Aku percaya. I love you."
" Hmmm." Seperti biasa Ucapan cinta Reval hanya di balas deheman Luna tanpa membalasnya dan Reval sudah terbiasa dengan hal ini.
.
.
.
.
Bersambung.
...Happy reading..💋💋...
...Jangan lupa like dan komen 👍🙏...
__ADS_1
Maaf ya Updatenya sedikit. Aku masih sibuk Di hajatan keluarga.🙏🙏🙏