
" Sejak Kapan kalian kembali bersama?" Tanya Bunda Vio dengan wajah serius nya, Walaupun dalam hatinya ia bersyukur Luna kembali, tetepi ia merasa perlu memberi sedikit pelajaran kepada anak dan menantunya.
" Apa kalian keberatan jika ayah, bunda dan mama Lina, mengetahui hubungan kalian." Kedua pasangan yang sedang di sidang itu, saling melirik tanpa ada yang membuka suara. Bukan tak ingin menjawab, tetapi Meraka bingung dan takut jika jawaban mereka akan melukai perasaan orang tua mereka.
Disaat Luna dan Reval tengah di sidang oleh bunda Vio, Sanjaya justru mengajak sahabat dari menantunya itu, ke dapur menyiapkan makanan yang di pesan Reval beberapa saat yang lalu, Sekaligus memberi waktu untuk Istrinya.
" Luna, Abang! Jawab Bunda." Tegas bunda Vio.
" Maaf Bun, ini salah Luna_."
" Nggak Bun, Abang yang salah, bukan Luna! Bunda jangan marah ya sama luna! kalau mau marah aja sama Abang."
" Nggak Bun, aku yang salah, aku yang terlalu takut dan malu untuk ketemu sama bunda."
" Nggak bun_"
" Stop!!" Teriak Bunda Vio dengan suara yang cukup menggelegar. " Kenapa kalian jadi berdebat begini." Lanjutannya, tanpa menurunkan nada suara. Bunda Vio ingin menunjukkan kepada anak dan menantunya itu, kalau dia sedang marah saat ini.
Tanpa bunda Vio tahu, suaranya mengusik, Kedua bayi yang tengah tertidur. Di kamar mereka. Entah tidur mereka yang terusik atau takut kedua orang tua mereka di marahi, Narendra dan Naela pun menangis, Suara kedua bayi itu saling menyahuti. tentu saja suara mereka terdengar di telinga bunda Vio.
" Anak Siapa itu?" menantap Luna dan Reval secara bergantian. Tanpa menunggu jawaban, Mereka berdua. Bunda Vio langsung mengikuti arah suara yang ia dengar. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar di mana Naela dan Narendra berada, Di ikut Luna dan Reval di belakangnya.
Sanjaya menarik kedua sudut bibirnya keatas, membentuk lengkungan sempurna saat mendengar suara tangisan kedua cucunya.
" Sayang, Kenapa Nangis? Haus ya, Iya?" Ucap Luna seraya membawa tubuh Narendra kedalam gendongannya. Bunda Vio terpukau dengan keberadaan kedua bayi itu.
" Hai my princess, Jangan nangis donk! Maaf ya suara nenek ngagetin kamu." Reval Menenangkan bayi perempuannya. Sembari mengecup Kedua pipi chubby itu. Naela langsung diam seolah mengenali suara yang menyapanya.
Sementara itu Bunda Vio masih berdiri, membeku di tempatnya! ia tertegun melihat Reval dan Luna yang begitu pandai membagi tugas dalam menangani Kedua bayi mereka.
__ADS_1
" Maaf Jika Aku ngecewain Bunda, Tapi inilah alasannya, kenapa aku kembali." Luna mencium kening Narenda dengan durasi yang sedikit lama. Matanya pun mulai berkaca-kaca. " Aku tidak akan kembali, Seandainya Reval tidak pernah datang! Tanpa perlu aku jelaskan panjang lebar, bunda pasti paham dengan apa yang aku rasakan. Sebagai seorang ibu, aku hanya ingin kedua anakku baik baik saja! Aku tidak mengapa jika bunda marah dan benci sama aku, yang bisa aku lakukan adalah memberikan apa yang di inginkan kedua anakku." Luna mengusap air mata yang keluar dari kedua sudut matanya.
" Bunda nggak Benci sama kamu, hanya saja bunda kecewa sama kalian, Yang tidak memberi tahu tentang mereka, seandainya Bunda tidak kembali. Apa kalian akan memberi tahu semuanya? Tidak kan." Bunda Vio mengutarakan kekecewaannya kepada Luna dan Reval.
" Bukan seperti itu Bun! Hanya saja Luna butuh waktu, untuk bertemu dengan bunda lagi." Jelas Reval.
" Jika perasaan bersalah dan tak enak hati terus menyelimuti kamu. maka selamanya bunda tidak akan pernah tahu tentang kalian." Sahut Bunda, yang tidak begitu saja menerima pembelaan Reval.
Bunda Vio menghampiri Luna yang kini tengah duduk di sofa single yang sengaja di letakkan di kamar itu, sehingga Luna nyaman, duduk saat menyusui kedua naedra dan Naela.
" Kamu tahu sampai kapan pun Bunda tetap sayang sama kamu." Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Luna, sebagai pembuktian Ucapanya kepada sang menantu. " Mungkin bunda kecewa tapi, bunda nggak bisa marah sama kamu dan terima kasih sudah mau kembali." Sambungnya, membuat Luna melongo, sedangkan Reval hanya tersenyum dan bersyukur. Ada perasaan lega sekaligus menghangat saat melihat Istri dan Bundanya bersama seperti sekarang ini.
" Siapa Namanya." Tanya Bunda Vio, kepada bayi yang ada dalam gendongan Luna, Sambil mencolek pipinya.
" Narendra Azzam Sanjaya Bun." Jawab Luna.
" Boleh dong Bun, boleh banget malah."Luna pun menyerahkan Narendra kepada ibu mertuanya.
Setelah drama keluarga itu berakhir, Sanjaya dan sang istri, bermain bersama kedua cucunya sampai larut malam. Sedangkan Luna dan Dina melanjutkan pembicaraan mereka yang terhenti karena kedatangan Sanjaya dan viona itu.
...💋💋💋💋💋...
" Selamat pagi." Sapa Luna ketika Reval membuka kedua matanya, di samping Reval ada putra mereka yang masih terlelap.
" Pagi sayang, Pagi jagoan ayah." Revel mengecup kening Rendra. Setelah itu ia bergerak dengan perlahan turun dari ranjangnya, Untuk menghampiri Luna dan Naela. " Pagi my beautiful Ela." Sebuah kecupan kembali ia berikan kepada Ela dan kecupan itu berakhir pada kening Luna, Sebelum Reval menghilang di balik pintu kamar mandi.
Di perlakukan semanis itu, membuat perasaan Luna menghangat, Satu yang tidak bisa Luna pungkiri dia menikmatinya. menikmati setiap perlakuan manis Reval kepadanya.
Luna meletakkan Naela di samping Narendra. Setelah itu menyiapkan pakaian kerja untuk Reval. ini bukan kali pertamanya untuk Luna melakukan hal itu, karena Luna telah melakukannya sejak hari pertama ia berada di apertemen itu. Entahlah sesuatu yang dalam dirinya yang mendorong dia untuk melakukan hal ini kepada Reval, menyiapkan pakaian kerja, sarapan dan keperluan lainnya yang membutuhkan bantuannya.
__ADS_1
" Bunda tanya, Kapan kita akan kembali kerumah, sekaligus persiapan syukur untuk mereka berdua." Tanya Reval Sambil melingkar kedua tangannya di pinggang Luna. Ya ini sudah lewat beberapa hari setelah kejadian bunda Vio mengetahui tentang mereka.
" Aku sih terserah sama kamu." Jawab Luna, ia sedikit terganggu dengan Reval yang tidak bisa diam. bagaimana tidak Reval berbicara sambil mengerjai Luna dengan mencium pundak serta memberi gigitan kecil telinganya.
" Kalau besok bagaimana?" Tanya Reval lagi.
" Hhmmm,, aahhmm." da da luna naik turun, karena Reval berbicara tanpa menghentikan aktivitasnya. " Iya." Jawab Luna setelah ia, bisa menguasai perasaannya.
" Baiklah besok kita akan kembali kerumah bunda." Reval mengecup pipi Luna Setelah itu menyudahi kejahilannya. mengingat pagi ini dia ada meeting yang tidak bisa di tunda. Sedangkan Luna memilih duduk di samping Reval untuk menutupi rona merah di wajahnya.
Begitu selesai sarapan, Reval langsung berangkat berkerja sedangkan Luna, mencuci piring bekas sarapan mereka. setelah itu ia kembali ke kamarnya untuk mengurus kedua buah hatinya.
" Apa kalian berdua bahagia, mama dan papa akur seperti ini." Tanya Luna kepada kedua anaknya. " Kalian adalah belahan jiwa mama, mama akan melakukan apapun untuk kalian berdua." Lanjutannya dengan mencium kening kedua anaknya secara bergantian.
.
.
.
.
Bersambung.
Happy reading..💋💋
Jangan lupa like, komentar..👍👍
Dan vote seikhlasnya.🙏🙏😘
__ADS_1