
" Apa kamu merasa paling hebat sekarang, sehingga nasehat dan pendapat orang tuamu, sudah tidak kamu butuhkan lagi." Ucap mama Lina begitu Luna mendaratkan bokongnya pada sofa yang ada di ruangan keluarga.
Mendengar Ucapan sang mama! Rasanya ingin sekali Luna menjawab ucapan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu. tetapi sayangnya semua itu hanya ada dalam benaknya semata. Sebab Luna tak ingin didikan kedua orang tuanya di ragukan hanya karena ia membantah ucapan sang mama di hadapan kedua mertuanya itu. " Apa kamu sudah tidak menganggap mama kamu ada!
apa nasehat mama sudah tidak penting lagi." Ulangnya lagi.
" Maaf." Hanya kata itu yang mampu Luna ucapkan.
" Kalau kamu ingin mendapatkan maaf dari mama! cabut gugatan kamu." Ucap mama Lina spontan tidak ingin di bantah.
" Nggak ma! Luna nggak mau, Tolong jangan paksa luna lagi ma." Ucap Luna sambil bersimpuh di hadapan mamanya. " Bunda, ayah tolong, sekali ini saja! jangan paksa luna." Isakannya mulai memenuhi ruangan itu, terdengar begitu pilu, sehingga siapa yang mendengarkan tangisannya seakan turut merasakan apa yang Luna rasakan.
Sisi Rapuh yang ia simpan dengan baik selama ini, akhirnya terkuak juga, melalui airmatanya. Inilah perasaan Luna yang paling jujur, inilah isi hati Luna yang tersimpan. Sekali ini saja, biarkan ia menangis di hadapan keluarganya, menangisi kepergian Zen tanpa ucapan perpisahan, menangis takdir yang begitu kejam padanya, serta segala rasa sakit yang di berikan Reval dan hujatan, serta cacian yang ia terima di luar sana, karena ulah istri pertama suaminya itu.
__ADS_1
Sabar ada batasannya, mungkin ini batas kesabarannya, ia lelah berpura pura baik baik saja di saat perasaan dia tidak baik baik saja, dia lekah tersenyum di saat hatinya menangis. Mungkin dengan begitu mereka bisa memahami apa yang di rasakan Luna saat ini.
" Jangan sentuh aku." Teriaknya semakin histeris saja, saat Reval mencoba memeluknya. " Aku bilang, jangan sentuh aku! apa kamu tuli." Ulangnya lagi saat Reval tetap memeluknya.
Sanjaya mengajak, Istrinya, Mama Lina serta anak anaknya, meninggalkan mereka berdua.
" Maaf Maafkan aku! tolong jangan seperti ini, Aku yang salah! maafkan aku." Ucap Reval, ia tidak melepaskan pelukannya sedikitpun, sekali pun Luna memberontak, memukul serta mengigit pundak.
" Aku tahu, Aku yang salah, Kamu memang pantas benci sama aku." Sahut Reval. rasa perih serta sakit yang di ciptakan Luna! tidak ia hiraukan, mungkin ini ungkap kemarahan yang Luna ia simpan selama ini.
Cukup lama Reval bertahan pada posisinya, sampai Suara tangisan serta jeritan Luna terganti sesegukan dengan nafas yang teratur, Terlalu lelah, menangis membuat Luna tertidur dalam pelukan Reval.
Reval mengecup kening Luna, " Maaf, maafkan aku! izinkan aku memperbaiki semuanya dan belajar mencintai serta menghargai kamu." Ucapnya, Sebelum ia menggendong Luna kekamarnya.
__ADS_1
Tanpa Reval sadari, Anita mengepalkan tangannya, saat melihat sikapnya untuk Luna, bahkan ia mendengar semua ucapan Reval. " Aku nggak akan biarkan semua terjadi. Akan aku buat, kamu mencintaiku seperti dulu lagi." Anita bermonolog. Saat melihat Reval melangkah menapaki anak tangga menuju kamarnya. Begitu Reval menghilang dari pandangannya, Anita langsung kembali ke kamarnya.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa jempolnya 👍
__ADS_1