
" Mas, bagaimana ini? Sebentar malam truk pengantar bahan makan akan datang, kalau Nyonya kabur bagaimana?"
" Itu tidak mungkin sayang, truknya datang jam dua belas malam! jam segitu nyonya sudah tidur, dia nggak mungkin tahu tentang truk pengantar makanan itu."
" Kalau nyonya terbangun bagaimana?"
" Untuk mencegahnya, aku akan mengunci pintu kamar nyonya dari luar! Sudah kamu nggak usah khawatir, pikirkan saja kesehatan kamu dan calon anak kita ini." Ucap Lelaki itu sambil mengusap perut buncit istrinya.
Tanpa kedua pasangan itu sadari obrolan keduanya sudah di dengar oleh nyonya mereka. Sesaat setelah keduanya pergi sang nyonya langsung keluar dari tempatnya, berpura pura tidak tahu menahu tentang apa yang mereka bicarakan.
Sore harinya, begitu para pelayan itu sibuk Luna langsung mengambil beberapa kunci cadangan yang tersusun rapi di salah satu lemari kaca. ia mencoba satu persatu kunci cadangan itu, sampai menemukan kunci yang cocok dengan pintu kamarnya.
Luna menyimpan kunci cadangannya di bawah bantal, Agar Ria tidak dapat melihatnya.
Begitu malam tiba, Luna hanya pura pura tidur untuk mengelabuhi Ria Syukurnya, Ria percaya, ia segera mengunci pintu kamar Luna Dari luar, hal itu yang membuat Luna tahu bahwa truknya telah datang.
Luna bergegas menganti Lingerie yang ia pakai dengan Jeans dan baju kaos kebesaran milik Reval dan terakhir Hoodie. Luna menggalungkan ID Card yang telah ia satukan dengan ponsel di lehernya.
Setelah Yakin semuanya telah siap! Luna mengambil kunci cadangan yang dia letakkan di bawah bantal, untuk membuka pintu kamarnya. Begitu pintu itu terbuka, Luna langsung mengendap endap keluar dari kamarnya, menghindari beberapa sudut ruangan yangdi pasangkan cctv. " Semoga mama masih di rumah Bunda." Suara hatinya penuh harap, sebab ia yakin jika sampai ketahuan maka kecil kemungkinannya untuk pergi dari situ di lain hari.
Begitu Luna sampai di dekat gudang penyimpanan makanan, ia melihat beberapa orang penjaga sedang bulak balik membawa persediaan makanan itu kegudang penyimpanan, sedangkan dua orang lagi, bertugas menurunkan bahan makanan itu dari truk dan di depan pintu terlihat Ria sedang bertugas mengawasi didampingi beberapa penjaga lain.
__ADS_1
Lima belas menit menunggu, Truk itu hampir kosong tetapi Luna belum menemukan cara untuk mendekati truk itu, ia hampir putus asa, matanya mulai berkaca kaca, Saat Luna ingin kembali kekamarnya, manik indahnya menangkap keberadaan Meteran listrik. Walaupun letaknya agak tinggi tetapi Luna tidak kehilangan akal, ini segera berlari mengambil sapu untuk menurunkan saklar meteran listrik itu, bertepatan dengan mesin truk itu dinyalakan.
Luna tidak menyia nyiakan kesempatan, ia langsung menaikan penutup kepala Hoodie yang di pakai dan berjalan kearah truk, beruntung satu karnek belum naik karena masih berbicara dengan Ria, entah apa yang mereka bicarakan yang jelas Luna begitu berterima kasih kepada orang itu.
" Kalian, cepat periksa kenapa lampunya mati, jangan sampai nyonya terbangun bisa repot kita." Ucap Ria, sambil menunjuk penjaga yang berdiri tidak jauh dari nya. " Kamu juga cepat pergi sana." ucapnya kepada sang karnek.
" Kamu kenapa sih Ria, biasanya juga kita di kasih minum dulu nggak buru buru kaya gini." Keluh sang karnek.
" Udah jangan bawel sana pergi." Usir Ria. Sang karnek itupun menutup bak truknya, setelah itu ia duduk di depan tepatnya disamping sang supir.
Perlahan lahan truk itu melaju keluar mansion, saat Akan melewati Gerbang Mansion jantung Luna berdebat dengan begitu kencangnya. Karena truk yang tiba tiba berhenti.
Seorang penjaga naik keatas untuk memeriksa bak truk itu, tak lama kemudian penjaga itu kembali turun. " Kosong." Ucapnya, setelah itu sang sopir diminta kembali melanjutkan perjalanannya. Luna yang tengah berada di antara celah bak dan bagaimana depan truk bisa bernafas dengan lega ketika truk benar benar keluar gerbang.
Sekitar satu jam perjalanan akhirnya truk itu melewati beberapa pemukiman warga, tidak lama kemudian truk itu masuk ke area SPBU. Luna yang melihat ada kesempatan langsung bergegas turun.
Sang supir yang tengah mengisi bahan bakar tidak menyadarinya begitu juga dengan sang karnek yang langsung masuk ke dalam mini market yang tersedia di SPBU.
Luna melangkah menjauh dari SPBU, Setelah mengambil uang pada mesin ATM yang berada di area SPBU, waktu telah menunjukkan Angka 1 Lewat tiga puluh lima menit, Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi mama Emma.
Tut... Tut... Tut...
__ADS_1
" Hallo Luna kamu dimana." Ucap mama Emma, suara terdengar sedikit cemas.
" Luna juga nggak tahu ini dimana ma! mama bisa jemput Luna nggak? Luna takut ma."
" Kamu jangan takut, Sekarang kamu share lokasi kamu, nanti mama minta anak mama, buat jemput kamu."
" Iya ma."
" Hati hati ya! jangan menunggu di tempat sepi."
" iya ma." panggil itupun berakhir. Sebenarnya saat itu Luna begitu takut tertapi mau bagaimana lagi, mau kembali pun itu tidak mungkin, Luna melihat kesana kemari melihat tempat yang aman untuk menunggu anaknya mama Emma.
Pandangan tertujuh pada Tempat makan cepat saji yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia langsung bergegas pergi kesana.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
💋 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍