
Hidup yang Luna jalani, tidak selamanya berjalan Indah, terkadang ia pun harus menerima nyinyiran dan sindiran dari beberapa ibu ibu. karena perutnya yang semakin hari semakin besar besar seiring berjalannya waktu.
Walaupun tidak semua orang seperti itu, tetepi sedikit banyak ucap orang orang itu, Membuat Luna sedikit tertekan di tambah ngidam dan mual yang ia rasakan semakin melengkapi penderitaannya saat itu.
Walaupun begitu, Luna bisa menjalani itu semua dengan baik, berkat dukungan dari meli dan rekan rekan kerjanya. proses yang sulit itu ia lalui penuh suka cita, kini Luna sedang menanti kedatangan malaikat malaikat kecilnya itu.
" Lun, pulang kerja kita cari keperluan anak kamu ya." Ucap Meli. Keduanya kini tengah berada di kantin rumah Sakit.
" Besok aja ya, mel." mendengar Ucapan luna, meli langsung mendesah frustasi, ia tidak habis pikir dengan isi otak perempuan yang ada di hadapannya itu.
Bagaimana tidak, di usia kandungannya yang telah memasuki bulan kesembilan itu, Luna belum membeli persiapan mereka sama sekali.
" Lun, mau tunggu sampai kapan? dimana mana! kalau udah dekat proses lahiran itu segala sesuatu itu perlu di siapkan." Protes Meli.
" Aku tahu, tapi kan masih lama Mel, ini aja baru tanggal 5 sedangkan kata dokter taksirannya Tanggal 20."Jawab Luna begitu enteng.
" Itu hanya taksiran dokter aja! Syukur syukur, benar tanggal 20 atau lebih kalau kalau lebih cepat gimana."
" Iya juga sih! Ya udah deh terserah kamu aja."
" Gitu dong! biar kita sama sama tenang." Meli menggoda Luna dengan menaik Turunkan alisnya. Sedangkan Luna sendiri hanya gelengkan kepalanya.
Luna begitu bersyukur bertemu dengan meli, sekali pun orang ceplas-ceplos tetapi hatinya begitu baik dan tulus, meli begitu menjaga dan memberi perhatian kepada Luna dan calon anaknya, di saat Luna mengidam di tengah malam, meli dengan suka rela akan menemani Luna untuk mencari apa yang di inginkan Luna.
" Aku tunggu kamu jam tiga di depan." Ucapan Meli saat keduanya berpisah di persimpangan koridor rumah Sakit.
" Iya bawel." Meli menuju ruangannya, sedangkan Luna menuju ruang Ginek.
...💋💋💋💋💋💋...
Disisi lain.
Hari yang sulit juga di lalui oleh Reval, hampir setahun kepergian Luna, Reval tidak pernah bosan mencari keberadaan Istrinya itu, sesibuk apapun dia.
__ADS_1
Bahkan bukan hanya Luna yang mengalami apa yang namanya ngidam, Reval pun mengalami hal itu. Seperti beberapa bulan yang lalu di saat anaknya bersama Anita menangis dan hanya bisa tenang jika dia yang mengendong anak itu, reval justru membiarkan anaknya itu menangis hanya untuk menikmati Sate kambing yang di berikan toping eskrim stroberi lengkap dengan irisan buah stroberinya.
Beruntung juru masak Keluarganya, yang dia minta untuk menyiapkan menu itu, kalau tidak, mau di taruh dimana muka Reval.
Bukan hanya itu saja, Reval juga pernah mengemil buah asam Jawa, di kantornya. Reval sendiri binggung dengan apa yang dialaminya.
...💋💋💋💋💋...
Begitu selesai shift pagi, Luna dan meli langsung kembali ke kontrakan mereka untuk berganti pakaian dan beristirahat sejenak sebelum keduanya pergi ke toko yang menyediakan keperluan bayi.
Tepat setengah empat sore Luna dan meli pergi ke toko keperluan bayi, Lima belas menit perjalanan, Akhirnya keduanya sampai di toko itu, beruntung toko itu masih buka jadi Luna dan meli tidak perlu kembali dengan tangan kosong.
Luna dan meli begitu menikmati waktu mereka sore itu, walaupun terkadang mereka harus berdebat karena warna dan model yang keduanya pilih berbeda.
Tepat Jam delapan malam, keduanya baru keluar dari toko itu! tentunya dengan belanja yang mereka tenteng di tangan mereka.
" Luna kenapa, kamu nggak beli ranjang si, kan ranjangnya lucu." Ucap meli.
"Mau bagaimana lagi Mel, duit aku nggak cukup, lagian kalau beli ranjang bayi mau taruh di mana kan kontrakan aku kecil." Sahut Luna.
" Akan aku buat mereka nyaman! Kalian harus sehat sehat ya sampai kita, Mama udah nggak sabar ketemu kalian." Ucap Luna sambil mengusap perutnya.
" Bukan kamu aja! aku juga udah nggak sabar pengen ketemu mereka." Sahut meli. " Gimana wajah mereka nanti ya?" Lanjutannya sambil membayangkan wajah bayi bayi yang ia lihat di sosmed.
" Udah mengkhayalnya, tuh ada angkot." Tunjuknya pada angkot yang bergerak kearah mereka.
Meli langsung menghentikan angkot itu, begitu angkot itu berhenti meli dan Luna langsung naik, Setelah menaikkan barang belanjaan mereka kedalam angkot tentunya.
Lima belas menit kemudian, keduanya telah sampai di kontrakan, Luna duduk di sofa sambil memijit Kakinya yang pegal, karena terlalu lama berdiri dan berjalan, sedangkan meli langsung mengeluarkan pakaian bayi, sarung tangan, kaos kaki dan selimut untuk ia cuci.
" Mel, besok aja ini udah malam." Ucap Luna.
" Nggak papa, lebih cepat bersihkan lebih baik." Sahut meli.
__ADS_1
Walaupun propesinya yang lebih tinggi dari dari Luna, tidak membuat meli meninggi hatinya, karena bagi meli Luna itu sudah seperti adiknya sendiri.
Tiga hari telah berlalu, waktu taksiran melahirkan Luna, Masih tersisa dua hari lagi, Tetapi Luna sudah merasakan kontraksi palsu sejak pagi hari. Seiring jarum jam berputar kontraksi yang dirasakan Luna semakin sering, Hal itu tidak membuatnya panik walaupun ini pengalaman pertamanya untuk. ketika rasa sakit itu datang Luna berpegang pada apa saja, ia berdiri dan melangkah untuk mempercepat proses yang ia rasakan saat ini, sesekali ia menghirup nafas melalui hidung dan mengeluarkan melalui mulut. Luna terus melakukan itu.
Tepat pukul sepuluh malam, di tanggal 8 bulan 8, Anak yang di kandung Luna Akhirnya lahir kedunia dengan sehat dan lengkap dalam proses normal.
Keduan bayi itu lahir dengan selisih waktu 2 menit dengan jenis kelamin yang berbeda pula.
Airmata mengalir dari sudut mata luna, ketika suara Kedua bayinya, saling bersahutan di ruangan itu. " Terima kasih sudah bertahan dan selamat datang." gumam
Bukan hanya Luna, meli dan dokter serta dua orang perawat yang membantu proses persalinan Luna pun turut menitihkan air mata mereka.
beberapa jam setelah melahirkan, Luna pun di pindahkan. " Siapa Nama mereka lun?" Tanya salah satu rekan kerjanya.
" Yang ganteng ini namanya, Narendra yang berarti Kekuatan dan yang cantik ini namanya Naela yang berarti kesuksesan. Bagaimana bagus nggak lun! Keduanya ini kekuatan dan kesuksesan kamu ." Tanya meli, sambil mentoel pipi kedua bayi itu secara bergantian. tak ingin mengecewakan meli Luna pun mengangguk,
" Narendra Azzam Sanjaya dan Naela Azzura Sanjaya." Ucap Luna.
" Nama yang bagus." Sahut Luna, tak lama berselang pintu ruang rawat Luna, terbuka. terlihat beberapa rekan kerja mereka masuk untuk melihat kedua bayi itu, ada yang hanya sekedar melihat dengan perasaan gemasnya, ada juga yang menjadikan kedua bayi itu, model sosmed mereka dll.
.
.
.
.
Bersambung.
Maaf jika Bab, ini kurang gimana gimana gitu, soalnya dari kemarin aku tulisnya typo Mulu. tiba tiba alurnya udah masuk ke cerita sevi aja. Maklumlah Vivia butuh Aqua.
Happy reading. 💋💋
__ADS_1
Jangan lupa like. 👍👍
Dan vote seikhlasnya..🙏😗