
Keesokan harinya Melly terbangun karena silau cahaya matahari yang mengusik mimpi Indahnya, memaksa kedua netra itu haru terjaga dan menerima kenyataan akan perbuatan Dion pada dirinya.
Melly terdiam, ia terlalu marah pada dirinya yang lemah dan perasaannya yang pernah mencintai lelaki itu.
Kedua tangannya pun masih senang tias terikat, sekali pun Dion telah berulang kali memperkaosanya dalam sehari, tetapi lelaki belum berniat untuk melepaskan Melly, entah apa yang akan di lakukan Dion lagi padanya.
Melly hanya bisa diam, mau menangis! untuk apa? Melly tidak akan pernah mau terlihat lemah di depan orang lain apalagi mantan suaminya. Yang bisa ia lakukan menikmati rasa sakitnya, karena minta tolong pun pada siapa? Lelaki itu tidak memberikannya Celah sedikit pun.
Pintu kamar itu terbuka menyadarkan Melly dari lamunannya, terlihat Dion masuk kedalam kamar sambil membawa nampan. " Selamat pagi honey! Bagaimana tidur mu?" Ucap lelaki itu dengan tampang tidak berdosa nya. Ia meletakkan nampan yang ia bawah di atas nakas samping tempat tidur.
Melly hanya melihat sekilas apa yang di bawah Dion, di atas Nampan itu ada bubur, potong buah, segelas air hangat yang di larutkan madu dan dress lengkap dengan dalamnya.
" Kamu ingin sarapan terlebih dulu atau langsung menggunakan pakaianmu." Tanya Dion lagi. " Aku sebenarnya lebih suka melihat mu seperti ini, kamu terlihat begitu cantik tanpa menggunakan apapun." Sambungnya.
Mendengar ucapan lelaki itu, Melly ingin sekali memakinya tetapi iya sudah lelah dengan keadaannya. Sebab sudah tidak terhitung berapa jumlah makian yang ia lontarkan untuk lelaki itu sejak kemarin." Aku ingin ke toilet. " Ucap Melly dengan tatapan membenci nya.
Tanpa banyak bertanya Dion langsung melepas ikatan Melly dan menggendongnya ke toilet. Dion meletakkan tubuh Melly dia atas closed dan meninggalkannya untuk melakukan apa yang dia inginkan saat ini.
Begitu selesai dengan ritualnya, Melly melilit handuk yang di sediakan Dion, di tubuhnya. Setelah itu ia melangkah keluar kamar mandi. Di sana laki laki itu sedang menunggunya, duduk di bibir ranjang sambil melipat kedua tangannya di dada.
__ADS_1
" Pakai pakaian mu dan segera habiskan sarapan yang aku siapkan atau kamu ingin aku membantu mu." Ucap Dion, Melly pun hanya menurut ia mengambil pakaian yang di sediakan Dion dan segera menggunakannya.
Melly menikmati sarapannya dengan terus di awasi Dion, begitu selesai. Dion langsung mengambil piring bekas makan Melly dan kembali mengikat kedua tangannya di tempat semula.
" Aku ada meeting yang tidak bisa di wakilkan! nanti siang akan ada yang mengantarkan mu makan siang." Ucap Dion memberitahu.
" Jangan lupa Suruh orang itu untuk mencampurkan racun di makanan dan minumanku." Sahut Melly. " Lebih baik kau bunuh saja aku Dion, dari pada kamu perlakukan aku seperti ini. " Sambung Melly lagi saat melihat tatapan protes Dion.
" Kamu tahu, aku begitu ingin membunuh mu saat tahu kamu membohongiku honey, tetapi untuk saat ini aku masih ingin menghukum mu terlebih dulu. " setelah mengatakan itu, Dion meninggalkan Melly, sambil membawa nampan yang di bawah nya tadi.
Hidup dan masalah setiap orang jelas berbeda, disaat Melly tengah menikmati rasa sakit dan penderitaannya saat ini. Sahabat nya justru tengah menikmati manisnya hubungan yang baik.
Seperti pagi ini, Luna dan Reval kembali kompak mengurus kedua buah hati mereka, setelah itu, bergabung dengan yang lain menikmati sarapan di ruang makan.
" Iya ayah! Hari ini aku akan mengajak keluarga kecilku untuk jalan jalan sekaligus melihat rumah baru kita." Jawab Reval.
" Kalian ingin meninggalkan bunda lagi."
" Bukan begitu bun, kita hanya melihat saja, belum berencana untuk pindah." Sahut Luna. Ia takut bunda Vio akan kecewa dengan mereka.
__ADS_1
" Kalau Kalian mau pindah juga bunda tidak masalah, asal Ella dan Rendra tetap disini." Apa yang di pikirkan Luna ternyata salah. Sebab bunda Vio tidak masalah dengan kepindahan mereka selama kedua cucunya tetap tinggal.
" Mana bisa begitu bun, mereka kan Asi eksklusif. "
" Bunda tahu sayang, kan kamu bisa kirim Asi kamu setiap hari kesini." Luna di buat melongo dengan ucapan mertua nya. " Kalian juga bisa tengok in mereka setiap hari." Ucap Bunda Vio lagi.
" Kalian boleh tinggal sendiri jika ingin, tapi sering sering lah kemari membawa cucu ayah. " Sahut Sanjaya, ia tahu istrinya itu hanya mengerjai anak dan menantunya.
" Iya sayang, yang tadi bunda cuma becanda. " Luna menghembus nafas lega. " Sekali pun mereka tumbuh baik bersama ayah dan bunda. Itu tidak sama seperti mereka tumbuh bersama kalian berdua! Melihat kalian rukun seperti ini, itu sudah lebih dari cukup."
" Terima kasih bunda. " Ucap Luna, seraya berdiri dari duduknya dan menghampiri bunda Vio, ia memeluk wanita yang telah melahirkan suaminya itu.
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung....
...Happy reading.. 💋💋...